Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Izhak Bersama Adik Bungsunya (Foto: Kitabisa/Yuuka Shimizudhani)
Dream - Muhammad Izhak, 22 tahun, menyimpan keinginan tinggi di bidang akademik. Berasal dari Dusun Tojangang, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Izhak mendapatkan beasiswa dari Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tapi, Izhak harus mengubur cita-citanya. Pada Maret 2017, sang ibunda yang sakit mengharuskan pulang kampung.

Setelah beberapa bulan, sang ibu meninggal dunia. Tragis. Tak lama ibundanya meninggal, sang ayah menyusul. Sang ayah yang menderita tuberkulosis, meninggal pada November 2017.
Sebagai anak sulung, Izhak merasa bertanggung jawab merawat sembilan adiknya. Izhak menutup empat semester menimba ilmu di ITB sebelum akhirnya pulang.
Pemuda yang menerima beasiswa Bidikmisi itu berbagi pekerjaan rumah bersama adik-adiknya. Mulai dari mencuci pakaian, memasak, hingga mencuci piring. Sebagai penghidupan keluarga, Izhak berjualan gula merah.
Dua adik perempuannya, Fadilah dan Mutmainnah bertugas mencuci piring, pakaian, termasuk bersih-bersih rumah dan pekarangannya.
Sementara itu, empat adik lainnya, Ismail, Nur Aliah, Abdul Halim, dan Chaerul Aqfan membantu sang kakak mencetak gula aren dan membersihkan tempurung kelapa sebelum digunakan mencetak gula aren. Sedangkan Aslan, bertugas menyadap air nira dari pohon enau di kebun milik nenek mereka.
Dalam sebulan, gula aren itu mampu menghasilkan Rp200 ribu. Meski jauh dari cukup, dari uang itu Izhak masih dapat membiayai kuliah adik perempuannya, Hasnawati.
Di laman Kitabisa.com, Yuuka Shimizudhani membuat laman donasi untuk membantu meringankan beban Muhammad Izhak.

Yuuka dan teman-temannya, berharap para donatur dapat membiayai usaha penggemukan kambing. Hingga berita ini ditulis, sebanyak Rp24,8 juta dari target Rp50 juta telah terkumpul.
" Ini adalah usaha yang Izhak rencanakan sejak awal. Donasi tersebut, memenuhi target atau tidak, akan kami serahkan ke Izhak. Lewat usaha ini, semoga Izhak bisa menghidupi kehidupannya dan adik-adiknya," tulis Yuuka. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya