JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Ilustrasi
Dream - Kasus ponsel meledak akibat kelalaian dan material dalam baterai menjadi perhatian serius banyak orang. Mengingat baterai Lithium-ion yang dibuat portabel, memiliki kelemahan hingga bisa membahayakan sang pemakai.
Tim ilmuwan dari University of Southern California (USC) mencari alternatif baterai organik bebasis air yang bebas dari isu mudah panas saat digunakan. Temuan ini diklaim lebih murah, lebih ramah lingkungan dan berpotensi untuk scaling up untuk digunakan dalam angin dan pembangkit listrik bertenaga surya karena dapat menyimpan energi yang lumayan besar.
Teknologi yang dikembangkan oleh tim USC merupakan baterai beraliran redux organik. Para peneliti menyebut hasil temuan ini serupa dengan yang dikembangkan untuk Helios drone bertenaga listrik oleh NASA. Cara kerja baterai yang mengandung bahan kimia elektroaktif ini memompa sel dan membagi membran untuk menghasilkan tenaga listrik.
Jumlah energi yang tersimpan tergantung seberapa besar kapasitas baterai itu sendiri. Baterai ramah lingkungan ini juga memiliki daya tahan lebih lama dibanding baterai lithium-ion dan varian lainnya.
" Baterai dapat bertahan hingga 5.000 kali pengisian ulang, tim peneliti memprediksi umurnya dapat bertahan hingga 15 tahun," kata Sri Narayan, Profesor Kimia di USC Dornsife College of Letters, Arts, and Sciences, seperti dikutip laman Gizmag, Senin 30 Juni 2014.
Lebih lanjut Profesor Sri Narayan menjelaskan perbedaan baterai Lithium ion yang kualitasnya menurun setelah 1.000 kali isi ulang dan biaya untuk memproduksi satu buah baterai 10 kali lebih mahal.
Kunci utama yang menjadikan baterai ramah lingkungan yakni penggunaan bahan elektroaktif. Melalui serangkaian uji coba, peneliti mengembangkan senyawa organik teroksidasi yang disebut kuinon. Kuinon ditemukan pada tanaman, jamur, bakteri, dan beberapa hewan yang terlibat dalam proses fotosintesis dan respirasi selular.
Tim melihat teknologi sebagai sebuah bagian dari upaya menghemat biaya dan lingkungan. Kuinon saat ini diproduksi dari hidrokarbon aktif, bukan dari karbondioksioda. Sayangnya dalam penelitian ini, tim belum mengujicoba penggunaan baterai ramah lingkungan tersebut langsung ke perangkat pintar.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
