Pengurangan Transportasi Umum Imbas Corona, Antrean Mengular

Reporter : Mutia Nugraheni
Senin, 16 Maret 2020 09:57
Pengurangan Transportasi Umum Imbas Corona, Antrean Mengular
Kebijakan untuk social distancing membuat sejumlah transporstasi umum pelayanannya berkurang drastis.

Dream - Hari ini, Senin 16 Maret 2020, pasca diumumkannya menjaga jarak (social distancing) dan menghindari aktivitas di ruang publik oleh Presiden Jokowi, pelayanan transportasi umum berkurang secara drastis. Efeknya adalah antrean masyarakat sangat padat di halte-halte bus TransJakarta.

Seperti yang diunggah TMC Polda Metro Jaya dalam akun Instagramnya @tmcpoldametro. Antrean mengular tampak terjadi pada halte TransJakarta depan Universitas Budi Luhur Ciledug.

 
 
 
View this post on Instagram

?08:14 Antrian Warga yang akan menaiki Bus Transjakarta di Halte Busway depan Univ. Budi Luhur Ciledug.

A post shared by TMC Polda Metro Jaya (@tmcpoldametro) on Mar 15, 2020 at 6:20pm PDT

 

1 dari 7 halaman

Antrean Warga Imbas Corona di Lebak Bulus

Hal yang sama juga terjadi pada halte Busway Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sejumlah warga tampak antre untuk bisa masuk ke halte. 

      View this post on Instagram

?08:18 Antrian Warga yang akan menaiki Bus Transjakarta di Halte Busway Lebak Bulus Jakarta Selatan.

A post shared by TMC Polda Metro Jaya (@tmcpoldametro) on

 

2 dari 7 halaman

Antrea MRT Sampai ke Jalan

Kondisi yang sama juga terjadi pada fasilitas MRT. Tampak di halte stasiun Fatmawati, Jakarta Selatan, penumpang mengantre sampai jalan raya.

      View this post on Instagram

?08:31 Antrian Warga yang akan menaiki MRT di Stasiun Fatmawati Jakarta Selatan.

A post shared by TMC Polda Metro Jaya (@tmcpoldametro) on

 

3 dari 7 halaman

Helm Ojol hingga Sajadah Masjid Potensi Tularkan Virus Corona

Dream - Wabah virus corona, Covid-19, membuat semua orang ekstra hati-hati dan menjaga kebersihan tubuh. Penularan Covid-19 tidak hanya terjadi dengan kontak langsung dengan orang yang sudah terinfeksi.

Barang yang digunakan secara umum, seperti alat makan di restoran, sajadah masjid, hingga helm ojek online, bisa menjadi media penularan virus corona baru tersebut.

" Jangankan helm ojol, sajadah masjid juga bisa berpotensi menularkan virus corona," kata Mohammad Syahril Mansyur, Dirut RSPI Prof dr Sulianti Saroso, di Jakarta, Jumat 13 Maret 2020.

Maka dari itu, disarankan untuk menggunakan barang pribadi untuk menghindari potensi penularan virus.

" Kalau bisa bawa sendiri, proteksi sendiri. Saya tidak mengatakan helm ojol bisa jadi penyebaran. Tapi, kalau penumpang yang lain batuk pilek kan virus bisa menempel," ucap dia.

4 dari 7 halaman

Jarak Droplet

Setidaknya, penggunaan hand sanitizer bisa membantu menjaga kebersihan tubuh. " Boleh menggunakan hand sanitizer setelah menyentuh helm. Tapi, sebaiknya dicuci ya," kata dia.

Meskipun penularan bisa terjadi di berbagai tempat, tapi dia tidak mendukung terjadinya panic buying. Masyarakat juga diminta tak mudah percaya kabar atau informasi palsu.

" Ada yang bilang penularannya lewat makanan, yang enggak seperti yang disebutkan. Penyebaran itu melalui droplet, jarak dropletnya 2-5 meter dari percikan," ucap dia.

5 dari 7 halaman

Terungkap! Awal Mula Virus Corona Covid-19 Muncul di China

Dream - Kasus pertama penyebaran virus corona, Covid-19, di China terungkap. Setelah ditelusuri kembali pemerintah China, kasus pertama penyebaran virus corona muncul pada 17 November 2019.

Dilaporkan South China Morning Post, pihak berwenang China sejauh ini mengidentifikasi setidaknya 266 orang terinfeksi novel coronavirus tahun lalu. Semuanya, berada di bawah pengawasan medis di beberapa titik.

Wawancara dengan whistle-blower dari komunitas medis menunjukkan bahwa dokter di China baru menyadari mereka sedang menghadapi penyakit baru pada akhir Desember 2019.

Para ilmuwan telah mencoba untuk memetakan pola penularan awal Covid-19 sejak epidemi dilaporkan di kota Wuhan di Cina tengah pada Januari 2020, dua bulan sebelum wabah.

Menurut data pemerintah China, penyebaran virus ini tak terdeteksi dan tak terdokumentasi. Pemerintah menduga seorang pasien berusia 55 tahun dari provinsi Hubei menjadi orang pertama yang terinfeksi Covid-19.

6 dari 7 halaman

Mulai Bertambah

Sejak tanggal itu dan seterusnya, satu hingga lima kasus baru dilaporkan setiap hari. Pada 15 Desember 2019, jumlah total infeksi mencapai 27 orang tiap harinya. Pada 17 Desember 2019 jumlahya meningkat hingga 60 orang perharinya.

Pada 27 Desember, Zhang Jixian, seorang dokter dari Rumah Sakit Pengobatan Terpadu Cina dan Barat China Provinsi Hubei, memberi tahu otoritas kesehatan China bahwa penyakit itu disebabkan virus corona baru.

Pada tanggal itu, lebih dari 180 orang telah terinfeksi, meskipun dokter mungkin belum mengetahui penyebabnya. Pada hari terakhir 2019, jumlah kasus yang dikonfirmasi telah meningkat menjadi 266. Di hari pertama 2020, jumlahnya mencapai 381.

Sementara catatan pemerintah belum dirilis ke publik, mereka memberikan petunjuk berharga tentang bagaimana penyakit ini menyebar di awal-awal penularannya. Banyak kasus yang dikonfirmasi telah dicatat Beijing.

7 dari 7 halaman

WHO Mencatatnya pada Desember 2019

Para ilmuwan sekarang ingin mengidentifikasi apa yang disebut pasien nol, yang dapat membantu mereka melacak sumber virus corona, yang umumnya dianggap telah melompat ke manusia dari hewan liar, mungkin kelelawar.

Dari sembilan kasus pertama yang dilaporkan pada November 2019, empat pria dan lima wanita, tidak ada yang dikonfirmasi sebagai `pasien nol`. Mereka semua berusia antara 39 dan 79 tahun.

Menurut situs laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kasus Covid-19 pertama yang dikonfirmasi di China adalah pada 8 Desember 2019. Namun, WHO tidak melacak penyakit itu sendiri, tetapi bergantung pada negara-negara untuk memberikan informasi tersebut.

Sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet dari para dokter Cina dari Rumah Sakit Jinyintan di Wuhan, yang merawat beberapa pasien paling awal, menyebutkan tanggal infeksi pertama yang diketahui pada 1 Desember 2019.

Beri Komentar