Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Mimpi indah kerap membuat si empunya tertarik untuk menceritakannya kembali. Tetapi, menceritakan mimpi yang didapat saat tidur tidak disarankan oleh ilmuwan.
Menurut profesor Insititue of Cognitive Sciene, Carleton University, Kanada, Jim Davies sebaiknya seseorang yang mendapat mimpi tidak menceritakan isi mimpinya kepada orang lain.
Dalam artikelnya di laman Scientific America, Davies menjelaskan mengapa manusia dapat bermimpi dan memiliki kecenderungan berbagi cerita di mimpinya.
Davies mengatakan ada dua teori yang menjelaskan mengapa manusia dapat bermimpi.
Teori pertama, merupakan intrepretasi otak depan terhadap aktivits acak syaraf tulang belakang dan otak kecil. Dalam teori itu, mimpi buruk terjadi karena kekacauan dalam menginterpretasinya informasi dari dunia nyata. Perasaan juga memiliki peran dalam membentuk mimpi.
Teori kedua menyebut mimpi bermula dari simulasi persiapan untuk menghadapi situasi yang mengancam. Ada banyak contoh peristiwa yang mendukung teori ini, misalnya dikejar binatang, jatuh, menghadapi bencana alam, dan sebagainya. Ketakutan-ketakutan ini direpresentasikan secara berlebihan sehingga terbentuklah mimpi buruk.
" Kita melihat banyak elemen ketakutan ini di dalam mimpi dari di dunia nyata. Banyak orang bermimpi dikejar binatang. Tapi seberapa seringkah hal ini terjadi di dunia nyata?" kata Davies.
© Dream
Tak ketinggalan, Davies menjelaskan mengapa kecederungan manusia bercerita mengenai mimpinya. Menurut dia, bercerita cenderung dilakukan manusia karena 'dua kepala lebih baik'.
Dengan bercerita mengenai mimpinya, kata dia, manusia sebetulnya sedang berusaha mempersiapkan diri menghadapi peristiwa yang ada dalam mimpinya.
Alasan lainnya, berkaitan dengan tingkat emosi dalam mimpi. Davies mengatakan mimpi sangat emosional, maka akan terasa penting bagi orang yang mengalami.
" Namun bagi yang hanya mendengarnya dan tidak merasakan emosinya, mimpi tersebut menjadi tidak berarti," jelas Davies.
Oleh sebab itu, Davies menyarankan untuk tidak bercerita tentang mimpi kepada orang lain. Cukup orang-orang dekat yang sekiranya mengerti kita secara emosional seperti orang tua, saudara kandung, atau pasangan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya