Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Siti (ronywijaya.com)
Dream - Bocah itu terlihat payah. Tangan mungilnya harus menenteng beban berat. Termos nasi di sebelah kanan, ember berisi air di sebelah kiri. Kaki ringkihnya harus melangkah menyusuri jalanan kampung. Dari siang hingga petang. Menjajakan bakso dalam termos yang dia bawa dengan susah payah itu.
Dialah Siti. Bocah asal Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Dua tahun silam, usianya baru tujuh tahun. Namun dia harus keluar masuk kampung menjual bakso untuk menopang ekonomi keluarga. Dan rutinitas itu dia lakukan saban hari, sepulang sekolah.
Siti harus turut bekerja keras menopang ekonomi keluarga. Sang ayah telah wafat saat usia Siti baru dua tahun. Sementara sang ibu hanya buruh cangkul dengan upah ala kadarnya. Untungnya Siti bukan model bocah cengeng. Kondisi itu telah menempanya menjadi sosok anak perkasa. Siti juga merupakan bocah yang tabah menghadapi kondisi ini.
Usaha bakso itu bukan milik keluarga Siti. Dia hanya membantu menjualnya dengan sistim upah. Biasanya Siti berkeliling menjual bakso selama empat jam sehari. Dua tahun silam, upahnya hanya Rp 2.000 saja. Itu kalau semua bakso yang dibawa habis. Jika masih tersisa, maka dia hanya mendapat upah separuhnya saja.
Di sepanjang jalan, Siti harus berteriak-teriak menjajakan bakso. Jika ada yang membeli, dia akan meracik bakso itu pada sebuah mangkok yang diletakkan di lantai. Sebab dia tak membawa gerobak, meja, ataupun kursi.
Terkadang, jika ada orang yang membeli baksonya, Siti ingin ikut mencicipi. Namun sayang, dia hanya bisa menelan ludah. Sebab, dia sadar tak akan mampu menebus setiap bakso yang dia makan. Sehingga, dia harus puas dengan aroma bakso yang begitu menggoda. Miris.
Baca selengkapnya kisah Siti di tautan ini. (Ism)
Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi
Ayo berbagi traffic di sini!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya