Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Uang Logam Yang Dibawa Pria Gangguan Jiwa Di Madiun (Liputan6.com)
Dream - Pria diduga mengidap gangguan jiwa membuat warga Madiun, Jawa Timur geger. Ketika ditemukan terlantar di Taman Makam Pahlawan Kota Madiun, dia terlihat membawa karung.
Pria yang belum diketahui identitasnya itu ditemukan berawal dari informasi yang diterima komunitas peduli penderita gangguan jiwa, Madiun Care pada Jumat pekan lalu. Komunitas tersebut lalu berkoordinasi dengan Satpol PP untuk mengevakuasi pria tersebut.
Ketua Madiun Care, Bima Primaga Yudha, mengatakan pria itu membawa karung dengan isi penuh ketika dievakuasi. Bersama petugas Satpol PP Kota Madiun, Bima memeriksa isi karung tersebut.
" Saat membawanya itu, kami membongkar barang bawaan pria itu. Siapa tahu ada benda-benda berbahaya seperti senjata tajam dan narkoba," ujar Bima, dikutip dari Liputan6.com.
Dilaporkan Solopos, Sebelum melakukan pemeriksaan, Bima mencoba mengangkat karung itu. Dia curiga lantaran karung tersebut sangat berat
Setelah dibuka, Bima mendapati uang recehan pecahan Rp500 dan Rp200 di dalam karung lusuh itu. Si pemilik beserta karungnya lalu dibawa ke rumah singgah milik Dinas Sosial Kota Madiun.
Bersama dengan beberapa orang, Bima menghitung jumlah uang tersebut. Jumlah seluruhnya mencapai Rp2 juta, sebagian besar adalah uang logam.
" Ada uang kertasnya tapi sedikit. Yang banyak uang logam pecahan Rp200 dan Rp500. Jumlahnya Rp2 juta lebih," kata Bima.
Dia lalu bertanya kepada pemilik karung mengenai asal uang tersebut. Tetapi, Bima tidak mendapat jawaban apa-apa.
" Sudah saya tanya tapi enggak menjawab, kami juga sudah tanya nama dan alamat asalnya, tapi yang bersangkutan tidak menjawab," kata Bima.
Lebih lanjut, Bima menyebutkan ciri-ciri pria itu, yaitu berkumis, memakai baju warna merah dan lusuh. Pria itu kini berada di rumah singgah Dinsos.
Sumber: Liputan6.com
Dream - Wanita 40 tahun asal Makassar, Dewi, terjaring razia yang digelar Dinas Sosial Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Saat ditangkap, Dewi sedang mengemis di sebuah warung makan.
Ketika sedang mengemis, penampilan Dewi berbeda jauh dengan aslinya. Dia mengenakan pakaian yang membuatnya terlihat seperti nenek tua.
Selain itu, Dewi bersandiwara dengan membungkukkan badan. Jalan terseok-seok membuat penyamarannya nyaris sempurna.
Kepala Dinas Sosial Maros, Kamaluddin Nur, mengaku awalnya mengira Dewi benar-benar seorang nenek tua. Pihaknya sama sekali tidak menaruh curiga pada wanita itu.
Penyamaran Dewi baru terbongkar ketika tertangkap. Saat dipegang petugas, ternyata wanita itu masih sangat kuat berusaha melepaskan diri. Dia juga meronta-ronta.
" Jadi waktu meronta itulah, kita kaget karena kok ada nenek-nenek kekuatannya seperti orang yang masih muda," ujar Kamal, dikutip dari Fajar Online.
Ketika beroperasi, Dewi menutup kepalanya dengan sarung. " Saat dibuka sarungnya yang digunakan sebagai penutup kepala, memang bukan nenek-nenek seperti yang ada dalam benak kami," kata Kamal.
Yang mengejutkan yaitu pendapatan Dewi dari mengemis. Kata Kamal, saat digeledah, wanita yang mengaku harus menghidupi lima anak ini membawa uang Rp200 ribu dan satu unit ponsel.
" Dia mengaku sudah lama beroperasi di wilayah Maros, khusus di warung kopi, rumah makan, dan mini market, katanya sudah setahunan beroperasi di Maros," kata Kamal.
Ketika diperiksa, Dewi mengaku biasa mendapatkan uang antara Rp300 ribu sampai Rp500 ribu dari hasil mengemis. Dalam sebulan, Dewi mampu menghasilkan uang jutaan rupiah.
" Penghasilannya itu lebih besar dari kita, karena sebulan itu bisa Rp7 juta," kata Kamal.
Selanjutnya, Kamal mengatakan anak buahnya sudah lama memantau Dewi. Tetapi, wanita itu selalu kabur begitu mengetahui ada petugas datang.
Menurut Kamal, Dewi memiliki anak yang sudah berkeluarga dan tinggal di Maros. Tetapi, anaknya tidak tahu profesi Dewi sebagai pengemis.
Setiap hari, Dewi datang ke Maros dari Makassar. Kepada keluarganya di Makassar, Dewi selalu berpamitan untuk menjaga cucunya di Maros.
" Jadi kalau dari Makassar ia pamit mau jaga cucu. Kemudian sekitar pukul 11.00 Wita itu dia pamit lagi balik ke Makassar, tetapi ternyata pergi mengemis. Anaknya tidak ada yang tahu kerjanya begitu," kata Kamal.
Setelah diperiksa petugas Dinas Sosial, Dewi diharuskan menandatangani surat perjanjian tidak mengulangi perbuatannya lagi. Penandatanganan itu disaksikan sendiri oleh anaknya.
" Kita buatkan surat perjanjian di depan salah satu anaknya yang sudah berkeluarga dan juga telah bekerja agar dia tidak mengulangi perbuatannya lagi," kata Kamal.
Sementara itu, Dewi mengaku terpaksa mengemis. Dia sudah tidak punya suami dan harus menghidupi lima orang anak dan membayar kontrakan rumah sebesar Rp800 ribu sebulan.
Sumber: Fajar Online
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya