CONNECT WITH US!

Selamatkan Al Aqsa!

Reporter : Syahid Latif | Minggu, 30 Juli 2017 19:15
Israel menyerbu masjid suci ini. Dunia berang.

Dream – Ratusan orang memburu. Berhambur dari pintu gerbang itu. Berseragam hitam. Lengkap dengan pelindung. Berhelm, juga rompi anti peluru. Berbagai senjata mereka sandang. Bedil. Tameng. Juga pentungan.

Mereka merangsek. Menyebar. Langsung menyerbu. Letusan terdengar di segala penjuru. Berdentum-dentum di sela jerit manusia. Asap putih mengepul di mana-mana. Ratusan orang pun lari. Tunggang-langgan. Keluar dari bangunan tua. Sebuah masjid. Al Aqsa, namanya.

Beberapa orang bertahan di dalam. Memberi balasan. Tanpa senjata. Hanya melempar benda-benda alakadarnya. Kursi, juga kayu. Sekenanya. Mereka terkepung. Bagi yang nekat keluar, disambut pukulan dan tendangan. Tanpa perlawanan.

Itulah situasi mengerikan di Masjidil Aqsa, 14 Juli 2017. Sholat Jumat bubar. Polisi Israel mengobrak-abrik tempat suci itu. Berdalih mencari orang-orang yang menyerang rekan mereka. Aparat Israel.

Kekacauan itu berawal dari Lion Gate. Pintu di tembok timur kompleks Kota Tua Yerusalem. Pukul tujuh pagi, tiga polisi Israel diserang. Dua tewas. Satu terluka. Mereka berasal dari komunitas Druze.

Tiga pemuda Palestina jadi tertuduh. Setelah menyerang merka diduga lari ke Kota Tua. Masuk melalui pintu gerbang itu. Pintu yang dalam bahasa Arab disebut Al Huttah itu. Mereka diduga lari ke Masjidil Aqsa.

Terjadilah huru-hara. Polisi Israel menyerbu Masjidil Aqsa. Terjadi baku hantam itu. Tak seimbang. Tiga warga Palestina meninggal. Banyak yang terluka. Masjid tua itu ditutup. Batal menggelar Sholat Jumat. Seperti tujuh belas tahun yang lampau.

Sejak itu suasana terus tegang. Aktivitas ibadah umat Muslim dibatasi. Israel memasang metal detector. Siapa saja yang masuk ke Al Aqsa diperiksa. Lelaki Muslim Palestina di bawah 50 tahun dilarang masuk.

Protes merebak. Serentak di beberapa titik. Umat Muslim menggelar sholat di Jalanan. Menolak masuk ke Masjidil Aqsa. Tak mau diperiksa. Mereka menuntut Israel membuka Masjidil Aqsa seluas-luasnya untuk kaum Muslim. Kerusuhan terus mewarnai aksi-aksi unjuk rasa itu.

Semua mengecam. Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menelepon Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Abbas memprotes keras penembakan di dekat tempat suci Yerusalem itu.

Tak hanya Palestina. Dunia turut mengutuk. PBB menggelar konferensi di Baiku. Azerbaijan. Pada 20 hingga 21 Juli lalu, delegasi 50 negara hadir. Khusus membahas Yerusalem. Mereka mengecam Israel karena dianggap melakukan agresi. Negara-negara itu bertekad terus mendukung Palestina.

Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, juga bersuara. Presiden Joko Widodo meminta Badan Keamanan PBB bersikap. Indonesia mendesak negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam bertindak. Memperjuangkan jaminan beribadah umat Muslim di Masjidil Aqsa.

***
Kota Tua Yerusalem. Luasnya hanya 0,9 kilometer persegi. Menjadi tempat hidup sejumlah komunitas. Muslim. Yahudi. Nasrani. Juga Bangsa Armenia.

Wilayah sempit ini juga menjadi tempat berhimpit situs suci tiga agama. Yahudi. Nasrani. Juga Islam. Bagian barat ada Gereja Makam Kudus. Tempat suci kaum Nasrani. Mereka yakin, di sanalah Yesus disalib oleh tentara Romawi.

Di timur, ada kompleks Al Haram Ash Syarif. Atau juga disebut Temple of Mount. Di dalam area empat belas hektare ini terdapat sejumlah situs suci pula. Kubah As Sakra berdiri di tengah. Si kubah emas. Beken dengan sebutan Dome of Rock.

Di bawah kubah inilah terdapat sebuah batu. Umat Islam yakin Nabi Muhammad memulai perjalanan ke Sidrat Al Muntaha atau langit lapis ke tujuh. Mi’raj. Pada tahun 620 M itu, Rasul menerima perintah sholat lima waktu.

Orang Nasrani meyakini batu itu sebagai tempat Jacob melihat tangga menuju surga. Juga tempat Abraham mengurbankan Ishak.

Kaum Yahudi lain lagi. Mereka yakin tempat itu merupakan bekas kuil pertama. Tempat suci bangunan Raja Solomon. Umat Islam mengenalnya sebagai Nabi Sulaiman. Kaum yahudi juga yakin, di sanalah terkubur kitab Nabi Musa.

Di sebelah barat, ada tembok Al Buraq. Umat Islam yakin di tempat inilah Nabi Muhammad mengikat Buraq. Kendaraan untuk naik ke langit ke tujuh.

Sementara, kaum Yahudi yakin tembok itu merupakan sisa-sisa bangunan kuil ke dua yang dibangun Raja Solomon. Saat ini, di tembok itulah mereka meratap. Inilah Tembok Ratapan. The Wailing Wall. Tempat mereka memanjatkan segala doa.

Di bagian selatan Al Haram Asyarif inilah berdiri Masjidil Aqsa. Memiliki panjang sekitar 83 meter. Lebar 56 meter. Mampu menampung limaribu jemaah. Jika ditambah dengan daerah sekeliling, luasnya sekitar 144.000 meter persegi. Muat untuk 400.000 jamaah.

Bagi umat Islam, Masjidil Aqsa sangat berarti. Tempat itu menjadi kiblat pertama. Sebelum digantikan Kabah. Bangunan suci di Mekah. Arab Saudi. Juga menjadi masjid tersuci ke tiga. Setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah. Di sini pula dikisahkan Rasul pernah menjadi imam sholat ribuan Nabi.

Masjid inilah yang Jumat dua pekan lalu diserbu. Ditutup oleh pasukan Israel. Mereka memasang metal detector. Kemudian diganti dengan kamera pengintai. Mengundang kemarahan dunia.

Dulu, kompleks Al Quds ini dikelola Kementrian Wakaf Utsmaniyah. Saat menjadi jajahan Inggris, wilayah ini dikelola mufti Al-Quds, H. Amin Al-Husseini hingga 1948. Setelah itu dikelola Kementrian Wakaf Yordania.

Sejak perang Arab-Israel ke dua pada 1967, wilayah itu berada di bawah pengawasan Kementerian Wakaf Yordania. Keputusan ini disepakati Israel, yang mengendalikan keamanan di bagian luar.

Tapi nyatanya, Israel sering melakukan provokasi. Sejak itu pula, negeri zionis ini sangat agresif. Mencaplok banyak wilayah. Mendirikan pendudukan. Israel melakukan berbagai manuver provokatif.

Pada 1990, Temple Mount Faithful berniat mendirikan kuil ke tiga Yahudi di Dome of Rock. Bahkan, menurut laman Aljazeera, pada Mei lalu, kabinet Israel melakukan rapat rutin mingguan di terowongan bawah tanah Masjidil Aqsa.

***
Yerusalem memang menjadi kota tiga agama. Tapi, konflik di tanah itu tak bisa dilihat dari kaca mata ini saja. Tak hanya perkara keyakinan. Kepala Program Studi Timur Tengah Universitas Indonesia, Muhammad Lutfi Zuhdi, mengatakan, konflik di sana juga kental nuansa politik.

Al Aqsa, kata dia, merupakan ibukota idaman Israel. Negeri Zionis. Yerusalem diproyeksikan menggantikan Tel Aviv. “ Jadi ini tumpang tindih,” ujar Lutfi.

Pengamat politik Timur Tengah lulusan Al Azhar Mesir, Hasibullah Satrawi, menambahkan, konflik di sana mudah tersulut. Meski hanya dipicu insiden kecil. Tak ada letupan bukan berarti tenang.

Banyak upaya dilakukan. Untuk menyelesaikan konflik. Tapi sayang, resolusi tak menyentuh masalah dasar. Pendekatan historis, kata Hasibullah, hanya akan memunculkan persoalan baru. “ Sebab, akan muncul saling klaim,” kata dia.

Harus ada terobosan. Hasibullah menyebut tawaran KTT OKI di Jakarta harus kembali dibuka. Two-state solution. Kembali ke Resolusi PBB 242.

Selain itu perlu dibuka wacana baru. Mendekati negara-negara yang bersimpati. Di sinilah Indonesia, sebagai rumah Muslim terbesar, dituntut berperan. “ Dekati negara-negara uni Eropa yang simpati dan Amerika Serikat,” tutur Lutfi.

Apapun latarnya, menyerbu tempat ibadah tak dibenarkan. Seperti harapan umat Muslim di Yerusalem. Dan juga dunia. Mereka ingin menyelamatkan Al Aqsa. Tempat suci untuk menyembah Tuhan. 

Perjalanan 100 Tahun Kesengsaraan Etnis Rohingya