Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Hindarilah Sikap Julid Karena Iri Dan Dengki (Foto: Shutterstock)
Dream - Kebiasaan menyindir orang lain kini sepertinya semakin merajarela. Apalagi dengan kehadiran media sosial. Seseorang secara tak sadar sedang membicarakan keburukan orang lain dengan menutupi identitas yang dituju.
Dalam dunia pergaulan anak masa kini, kebiasaan menyindir orang ini lazim dikenal dengan istilah julid. Pelakunya seperti tidak pernah nyaman tanpa membicarakan orang lain. Dia merasa iri dan dengki dengan orang lain sehingga menumpahkan perasaannya itu lewat ucapan pedas.
Lebih parahnya, yang dibicarakan adalah keburukan orang lain. Bahkan meski objek yang dibicarakan banyak berbuat baik, dia tetap berusaha mencari keburukannya.
Julid tampaknya kini tengah menjadi fenomena sosial di masyarakat Indonesia. Parahnya, orang sudah tidak lagi sungkan membicarakan orang lain.
Apalagi setelah hadirnya media sosial. Orang julid sangat mudah ditemukan.
Lantas, bagaimana Islam memandang sikap julid para orang lain?
Dikutip dari Bincang Syariah, seorang Muslim harus berhati-hati pada sikap ini. Sebab, ancamannya begitu besar hingga sholat tidak akan diterima.
Hal ini dibahas dalam hadis riwayat Imam Ahmad.
Seorang laki-laki bercerita kepada Rasulullah SAW bahwa seorang wanita disebut-sebut karena banyak sholat, puasa dan sedekahnya tetapi ia sering menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Maka Rasul menegaskan, 'Wanita itu di dalam neraka.' Kemudian laki-laki tadi bercerita lagi, 'Wahai Rasulullah seorang wanita yang disebut-sebut sedikit sholat dan puasanya dan sesungguhnya ia hanya bersedekah dengan sepotong keju, tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah menegaskan, 'Wanita itu di dalam surga.'
Dalam hadis ini dijelaskan bagaimana sholat merefleksikan kelembutan dan kasih sayang kepada sesama. Jika sholat tidak mencerminkan hal itu, maka yang didapat hanyalah kesia-siaan belaka.
Sholat menghadirkan pengaruh terhadap ucapan dan perbuatan seseorang sehari-hari. Karena itu, orang yang sbolatnya baik tidak akan menyakiti saudaranya, tak akan mengumpat, menfitnah, apalagi julid.
Sholat yang tidak dibarengi dengan perilaku terpuji dapat menyeret seseorang ke dalam neraka. Sebaliknya, sholat yang baik dapat memperhalus budi seseorang meski hanya sedikit.
Sumber: Bincang Syariah
Dream - Tidak semua orang hidup dalam kondisi ekonomi yang mapan. Mungkin lebih banyak dari saudara kita yang memiliki kondisi ekonomi pas-pasan hingga kekurangan.
Pengeluaran mereka bisa lebih besar dari pendapatan mengingat banyaknya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Tidak jarang mereka terpaksa berutang.
Utang merupakan transaksi peminjaman harta satu pihak kepada pihak lainnya. Transaksi ini sudah umum berlaku di masyarakat.
Dalam Islam, utang juga boleh dilakukan oleh umat Islam. Tidak ada ketentuan syariat yang melarang seorang Muslim berutang.
Tetapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika berutang. Sebisa mungkin, dampak buruk yang timbul akibat utang harus dihindari.
Dikutip dari Islami, kondisi ekonomi yang kekurangan pernah pula dialami Rasulullah Muhammad SAW. Sahabat Umar bin Khattab sampai menangis melihat Rasulullah hidup dalam keadaan sangat kekurangan.
Karena kondisi sudah parah, Rasulullah terpaksa berutang kepada Zaid bin Sa'nah, seorang Yahudi di Madinah. Meski begitu, Rasulullah selalu berdoa agar terhindar dari sifat buruk yang timbul akibat utang.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Aisyah RA, Rasulullah pernah berdoa dalam sholatnya, tepatnya sebelum salam. Demikian doa Rasulullah yang dimaksud.
Ya Allah, aku berlilndung padamu dari azab kubur, aku berlindung padamu dari fitnah dajjal, aku berlindung padamu dari fitnah kehidupan dan kematian, aku berlindung padamu dari dosa dan utang.
Mendengar doa tersebut, seseorang bertanya kepada Rasulullah. " Mengapa engkau sering meminta perlindungan dari utang, wahai Rasulullah?" tanya orang itu,
Rasulullah lalu menjawabnya demikian, " Jika orang yang berutang berkata, dia akan sering bohong. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari."
Riwayat tersebut menunjukkan terdapat dua sifat buruk yang muncul akibat utang. Orang berutang memiliki potensi berbohong dan ingkar janji.
Dua sifat ini muncul karena tujuan untuk mengindar dari beban utang yang ditanggung. Sehingga, Rasulullah sangat membenci dua sifat tersebut.
Sumber: Islami.co
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya