Tertular Covid-19 Usai Pijat Pasien Positif Corona yang Kabur dari Rumah Sakit

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Sabtu, 20 Juni 2020 12:47
Tertular Covid-19 Usai Pijat Pasien Positif Corona yang Kabur dari Rumah Sakit
Yang bersangkutan kontak langsung dengan memijat pasien positif yang kabur pekan lalu.

Dream – Seorang warga Empat Lawang, Sumatera Selatan, positif Covid-19 dari hasil uji swab di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Palembang. Warga ini ketularan pasien yang positif corona di Palembang. Ternyata, pasien ini kabur dari rumah sakit.

Dikutip dari Merdeka.com, Sabtu 20 Juni 2020, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Empat Lawang, Arga Sena mengungkapkan, yang bersangkutan kontak langsung dengan memijat pasien positif yang kabur pekan lalu. Mereka tinggal bertetangga di salah satu desa di Empat Lawang.

" Ada satu pasien terkonfirmasi positif baru. Dia dipanggil pasien yang kabur dan diminta dipijat, dari situ penularannya,” kata Arga.

Untuk mencegah penularan selanjutnya, petugas tengah melakukan tracing terhadap orang-orang yang kontak dengan pasien baru. Penelusuran ditarget sebanyak-banyaknya agar menyetop penyebaran virus optimal.

" Tracing dilakukan secara masif, rapid test dan swab kita lakukan," kata dia.

1 dari 5 halaman

Masuk Radar Pemantauan

Arga menjelaskan, pasien baru ini berstatus orang tanpa gejala sehingga diizinkan menjalani isolasi mandiri di rumah dengan pengawasan ketat dari tim gugus tugas. Seluruh keluarga pasien juga perlu dikarantina.

" Kondisi pasien sehat, terus kita awasi hingga sembuh," terangnya.

Dengan penambahan satu pasien, jumlah kasus positif di Empat Lawang menjadi dua orang. Hanya saja, satu pasien sebelumnya telah dinyatakan sembuh.

" Sampai sekarang Empat Lawang masih berstatus zona hijau, untuk perubahan status masih ditunggu perkembangan karena ada tolok ukurnya," kata Arga.

2 dari 5 halaman

Petugas Rapid Test Corona Datang, 70% Warga di Kampung Ini Kabur

Dream - Ratusan warga lingkungan Masigit, Kelurahan Masjid Priyai, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, meninggalkan rumah setelah mendapatkan informasi tentang adanya rapid test massal oleh tim kesehatan.

Sekitar pukul 02.30 WIB, Minggu 14 Juni 2020, ratusan warga yang didominasi ibu-ibu dan anak-anak berhamburan meninggalkan rumah mereka. Tindakan itu dilakukan setelah mereka mendengar kabar akan dilakukan rapid test masal di wilayahnya.

 © Dream

Warga menolak mengikuti tes cepat Covid-19 itu karena mereka mengira akan langsung dibawa ke rumah sakit setelah rapid test. Di tengah kepanikan, mereka akhirnya memilih kabur dari rumahnya.

Hingga pukul 03.00 WIB warga masih ada yang meninggalkan rumahnya. Hingga kondisi di Lingkungan Masigit hanya tinggal para pemuda, kurang lebih hingga 70 persen warga di Lingkungan Masigit sudah mengungsi.

 

3 dari 5 halaman

Tak Ada Sosialisasi

Camat Kasemen, Gholib Abdul Mutholib, mengatakan hal itu terjadi karena masyarakat masih belum tersosialisasi dan belum memahami bahwa rapid test merupakan upaya dari pemerintah untuk mencegah terjadinya penyebaran Covid-19.

Bahkan bukan hanya Kampung Masigit, namun di beberapa kampung di Kelurahan Masjid Priyai pun terjadi kepanikan.

" Yah kalau dari kecamatan atau kelurahan itu enggak ada (sosialisasi). Soalnya itu kan masalah kesehatan, jadi harus orang yang benar-benar dari Dinkes yang melakukan sosialisasi. Kalau dari kami kan khawatir tidak benar sosialisasinya. Tapi kalau sosialisasi pengumuman dari pemerintah, itu pasti kami teruskan hingga RT," ujarnya.

4 dari 5 halaman

Supaya Jangan Memaksakan

Gholib mengaku terkait dilakukannya rapid test massal, pihaknya akan berkoordinasi dengan Gugus Tugas tingkat kota, agar dapat memberikan pengertian kepada masyarakat.

" Nanti kami juga akan pertemuan dengan Puskesmas untuk membicarakan ini. Karena kan kita juga harus memahami di masyarakat, supaya jangan memaksakan kepada masyarakat. Pengertiannya saja supaya masyarakat mendapatkan pemahaman dulu," ujarnya.

5 dari 5 halaman

Penekanan Pada Gugus Tugas

Terpisah, juru bicara gugus tugas Covid-19 Kota Serang, W Hari Pamungkas mengaku mendengar informasi ada warga yang kabur saat mau di-rapid test. Namun, pihaknya belum menerima laporan resmi dari tim gugus tugas tingkat Kecamatan.

Jika benar warga takut di-rapid test, Hari menegaskan akan menekankan tim gugus tugas tingkat Kecamatan untuk turun mengedukasi masyarakat tentang pentingnya rapid test guna memetakan penyebaran virus Corona.

" Kalau memang betul ada demikian, tim Kecamatan akan turun untuk mengedukasi ke masyarakat tentang pentingnya rapid untuk memilah data. Kami tekankan dari level tim gugus tugas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat setempat," katanya.

(Sah, Sumber: Merdeka.com)

 

Beri Komentar