Innalillahi, Bayi 9 Bulan di Riau Meninggal Positif Covid-19

Reporter : Ahmad Baiquni
Sabtu, 20 Juni 2020 12:02
Innalillahi, Bayi 9 Bulan di Riau Meninggal Positif Covid-19
Bayi tersebut merupakan satu dari enam kasus baru.

Dream - Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Riau, Indra Yovi, menyebut terdapat satu pasien positif yang meninggal pada 15 Juni lalu. Pasien itu merupakan bayi usia 9 bulan asal Kabupaten Indragiri Hilir.

" Kabar duka, ada penambahan dua pasien Covid-19 yang dinyatakan meninggal dunia, MY, bayi berusia 9 bulan dan NC, 47 tahun, warga Pekanbaru," ujar Yovi, dikutip dari Liputan6.com.

Menurut Yovi, bayi tersebut merupakan satu dari enam kasus tambahan terbaru. Sehingga, total pasien positif Covid-19 di Riau menjadi 134 dari sebelumnya 128 orang.

" Ada klaster Covid-19 hari yaitu klaster Bank BRI Pekanbaru Sudirman, tiga orang yang bekerja di BRI positif Corona," kata dia.

 

1 dari 3 halaman

Klaster Baru

Yovi mengatakan ketiganya bekerja pada bagian yang berbeda. Dua di antaranya merupakan tenaga lepas sementara satu orang merupakan karyawan BRI.

" Ketiganya tertular dari pegawai BRI sebelumnya inisial DH, 46 tahun, pasien nomor 131, 132, dan 133 merupakan klaster Bank BRI, tertular dari rekan kerja," kata dia.

Selanjutnya, Yovi mengatakan pasien 129 merupakan bayi 9 bulan, pasien 130 berinisial IA, 28 tahun, dan pasien 134 berinisial NC, 47 tahun, warga Pekanbaru yang punya riwayat bepergian ke Palembang, Sumatera Selatan.

Menurut Yovi, dari 134 pasien positif Covid-19 di Riau, sebanyak 113 sembuh, 8 meninggal dunia dan 13 masih dirawat. Sementara untuk Pasien Dalam Pengawasan sebanyak 60 orang dan Orang Dalam Pemantauan 3.658 orang.

Sumber: Merdeka.com/Abdullah Sani

2 dari 3 halaman

Pakar Virologi Udayana: Virus Corona Indonesia Tak Seganas di Wuhan

Dream - Pakar Virologi Universitas Udayana Bali, Ngurah Mahardika, menyatakan virus corona yang masuk ke Indonesia telah bermutasi dan tidak seganas seperti di Wuhan, China. Dia menyatakan mutasi tersebut telah menghasilkan dua turunan virus yaitu Clade GH dan Clade LO.

" Jadi hanya dua turunan dari enam atau delapan clade yang ada di dunia, dua sudah diidentifikasi di Indonesia," kata Mahardika.

Dia juga memastikan dua virus baru tersebut belum bermutasi. Mutasi bisa terjadi jika virus masuk ke dalam tubuh manusia dan menular ke orang lain.

Mahardika menjelaskan virus masuk ke Indonesia memiliki perbedaan dengan virus aslinya yang muncul di Wuhan namun tidak terlalu signifikan. Karakternya juga tidak lebih ganas karena perubahan tidak terjadi pada receptor binding site.

" Kalau berubah pada binding site, bisa jadi virus itu lebih ganas kemudian antibodi nanti tidak berperan dan sebagainya, vaksin mungkin kehilangan khasiatnya kalau dipakai di Indonesia," kata dia.

 

3 dari 3 halaman

Bukan Virus Unik

Karena turunan di Indonesia tidak ganas, Mahardika menyatakan virus tersebut tidaklah unik. Sehingga bisa dilawan dengan bibit vaksin dari mana saja.

" Virus Indonesia tidak unik, sehingga bibit vaksin dari manapun di dunia akan berkhasiat di Indonesia, ini data sementara," kata dia.

Mahardika berharap segera ada kajian dari para peneliti mengenai model virus corona di Indonesia. Ini untuk melihat apakah virus bermutasi menjadi lebih ganas atau sebaliknya.

Dia juga menyarankan agar pemerintah mendukung proses pengkajian virus corona dengan menyiapkan fasilitas riset dan produksi vaksin kelas dunia.

" Untuk masyarakat, kita punya kewajiban agar virus tidak punya peluang bermutasi atau berubah dengan cara menerapkan protokol aman Covid-19," ucap dia.

(sah, Sumber: Liputan6.com)

Beri Komentar