Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Desa Penimbun, Kebumen (Foto: YouTube FHeri ART)
Dream - Jawa Tengah kerap menarik perhatian publik, karena punya tradisi unik. Salah satunya kepercayaan tidak menjual nasi masyarakat Desa Penimbun, Karanggayam, Kebumen.
Kanal YouTube FHeri ART mengisahkan masyarakat Desa Penimbun tidak ada yang membuka warung nasi dan memilih berjualan makanan lain.
" Enggka ada (warung nasi), cuma ya sekadar kopi, goreng-gorengan," ucap Sugeng Riyadi, salah satu penjual tempe mendoan.
Meski berbahan dasar sama, warga setempat masih mengizinkan saat ada yang berjualan ketoprak dengan menyediakan lontong di dalam masakannya.
" Tapi dulu pernah ada orang yang jualan ketoprak seperti itu ada. Karena itu sudah bukan nasi, sudah olahan," tambah Sugeng.
Menurut penjelasan dalam video, tidak adanya warung nasi di desa tersebut lantaran masyarakat setempat percaya akan adanya mitos bila membuka warung nasi akan membawa musibah.
Tak tanggung-tanggung, musibah yang disebutkan pun membuat bulu kuduk meriding, mulai dari menjadi orang dengan gangguan kejiwaan hingga kematian tak wajar.
" Katanya, kalau itu dilanggar, akan terjadi sesuatu hal yang mengerikan, musibah begitu. Ya kata orang-orang zaman dulu kalau dilanggar ya kayak ada orang 'gila' terus mati ngga wajar seperti itu," tutur Sugeng.
Usut punya usut, mitos itu tidak datang begitu saja. Sejarah masa lalu menjadi pegangan warga setempat untuk mempertahankan kepercayaan.
Dipercaya dahulu kala ada warga luar desa yang henda meminta nasi namun sama sekali tidak mendapat apapun, sosok itu kemudian berpetuah jika ada orang luar desa yang meminta nasi harus diberi secara cuma-cuma tidak boleh dijual.
" Kalau menurut cerita zaman dulu, katanya zaman dulu ada orang luar daerah sini terus masuk sini. Dia kelaparan, dia minta nasi sama orang sini dan nggak dikasih karena memang kondisi paceklik. Akhirnya orang itu berujar bilang bahwa suatu saat nanti ada orang luar terus masuk sini terus kelaparan itu harus dikasih secara cuma-cuma, tidak boleh dijual," ungkapnya.
Kepala Desa Penimbun Saijan menuturkan, kepercayaan itu justru berakibat baik kepada masyarakat setempat.
" Tapi ibaratnya masyarakat luar masuk ke sini terus ngga ada warung nasi, ibaratnya mereka pesan mie nanti nasinya juga dikasih. Jadi tanpa mereka minta pun, mereka yang punya warung itu tahu," ujarnya.
" Gratis itu pak?" tanya sang pemilik video.
" Iya, gratis. Ngga bayar itu," jawabnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya