Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Prostitusi Online (Foto: Shutterstock)
Dream - Nama Wilhan Martono menjadi sorotan media asing setelah ditangkap di San Francisco, Amerika Serikat, karena diduga terlibat kasus prostitusi online beromzet Rp297 miliar.
Martono saat ini ditahan polisi Bay Area dan menunggu ekstradisi ke Texas. Pria 46 tahun itu akan menghadapi dakwaan mendirikan dan mengoperasikan situs prostitusi online berskala internasional selama dua tahun.
Dia ditangkap pada Rabu, 24 Juni 2020, di Fremont, dan ditahan pada hari Kamis keesokan harinya di Penjara Santa Rita tanpa jaminan.
Dalam beberapa hari ke depan, Marshall AS akan memindahkannya ke Dallas, Texas. Di negara bagian ini, Martono akan menghadapi 28 tuntutan.
Beberapa tuntutan tersebut di antaranya konspirasi, promosi dan fasilitasi pelacuran. Tidak hanya itu, dia juga menghadapi tuduhan pemerasan dan pencucian uang.
Dalam dakwaan, Martono diduga menjalankan situs prostitusi online yang tidak hanya menyediakan 'layanan' prostitusi orang dewasa, tetapi iklan yang menampilkan anak di bawah umur.
Salah satu korban perdagangan anak yang dilakukan Martono adalah seorang gadis berusia 13 tahun. Gadis tersebut berhasil diselamatkan di Texas pada November tahan lalu.
Menurut dakwaan, Martono membuat situs web yang memungkinkan pengguna untuk mencari pekerja seks di lebih dari 14 kota di AS dan di lima benua.
Nama-nama situs web itu termasuk CityXGuide dan BodyRubShop. Dia juga mengubah situs layanan dewasa Backpage, yang ditutup oleh pemerintah federal pada April 2018.
Martono pertama kali membeli domain CityXGuide pada tahun 2004. Tetapi pada tahun 2018, setelah Backpage ditutup, dia menyatakan keinginan untuk membuka kembali situs dewasa yang terkenal ini.
Sebulan setelah Backpage ditutup, Martono diduga membeli domain yang disebut New Backpage. Pada Januari 2019, dalam pertukaran email dengan seorang promotor, dia berkeinginan untuk mengembangkan apa yang telah diwariskan Backpage.
Untuk bertransaksi di situsnya, pengguna membayar secara elektronik dengan Bitcoin atau gift card. Transaksi ini akan mempersulit otoritas untuk melacak jejak transaksi Martono.
Agar lebih aman dari pemeriksaan polisi AS, situs web yang digunakan Martono menggunakan alamat dan nomor telepon Hong Kong.
Selama penyelidikan, pihak berwenang melacak 16 transfer uang yang berbeda dari November 2018 hingga Mei 2019. Martono mendepositokan ribuan gift card yang jumlahnya mencapai ratusan ribu dolar.
Sebagai bagian dari surat dakwaan, Departemen Kehakiman AS telah membekukan 12 rekening bank yang diduga dioperasikan oleh Martono. Departemen Kehakiman juga menyita sejumlah perak batangan yang diduga dibeli dari sebuah bisnis di Singapura.
Sumber: Mercury News
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya