Jalan Berliku Anak Petani Jadi Perwira Polri

Reporter : Eko Huda S
Selasa, 12 April 2016 20:02
Jalan Berliku Anak Petani Jadi Perwira Polri
"Hampir selama sebulan kami sekeluarga makan tumis bawang merah. Iya... hanya bawang merah saja," kenang Triyanto sambil tersenyum.

Dream - Kesuksesan menjadi hak semua orang. Bukan hanya monopoli kaum berada. Asal bekerja keras dan tekun berdoa, siapa saja bakal bisa meraih cita-cita.

Itulah yang dipegang oleh Kasat Reskrim Polres Kutai Barat, AKP Triyanto. Ya, Perwira Polri ini tak hanya berteori. Dia sudah membuktikan prinsip itu.

Perjalanan Triyanto untuk menjadi anggota polisi memang tak mudah. Maklum, dia bukan berasal dari keluarga kaya. Hanya anak dari petani kecil yang tinggal di kampung.

“ Orangtua saya adalah seorang petani dan saya bangga dengan hal itu,” kata Triyanto, dikutip Dream dari halaman Facebook Divisi Humas Polri, Selasa 12 April 2016.

“ Dulu, selesai sekolah saya selalu membantu orangtua bertani dan tetap fokus pada impian saya untuk menjadi anggota Polri,” tambah dia.

Sebagai petani sederhana, kata mantan Kasat Reskrim Polres Penajam Paser Utara ini, kehidupan mereka cukup memprihatinkan. Dia masih ingat betul saat orangtuanya gagal panen.

Kala itu, sang ayah menanam bawang merah. Namun saat panen, harga di pasaran anjlok. Dan ekonomi keluarganya terpuruk, padahal Triyanto yang masih di bangku SMP butuh biaya tak sedikit.

“ Hampir selama sebulan kami sekeluarga makan tumis bawang merah. Iya... hanya bawang merah saja,” kenang dia sambil tersenyum.

Perwira lulusan Akpol tahun 2006 ini juga harus banting tulang saat duduk di bangku SMA. Dia harus berjualan buah belimbing demi mendapatkan uang saku.

“ Jadi, dulu saya hampir tidak pernah dikasih uang saku oleh orangtua. Kalaupun dikasih ya sekadarnya saja,” kata dia.

“ Kondisi ini mengharuskan saya harus usaha sendiri. Caranya dengan berjualan buah belimbing, walaupun hasilnya gak seberapa,” tutur Triyanto.

Namun dia tak patah arang. Setelah lulus SMA, pria yang hobi jogging ini langsung mendaftar taruna Akpol di Polda Jawa Tengah. Meskipun pada saat itu banyak orang meremehkan.

“ Mungkin dari latar belakang keluarga saya ya... cuma anak seorang petani. Tapi Alhamdullilah di tingkat daerah dan pusat saya Lulus. Ini semua bukan sebuah kebetulan semata. Semua sudah saya persiapkan sejak saya SMP,” beber dia.

Dia menegaskan, apa yang diinginkan, harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Selain itu, juga berdoa dan mendapat restu dari orangtua.

Bagi mereka yang tengah mendaftar sebagai anggota polisi, Triyanto punya nasihat. “ Semuanya harus dipersiapkan sedini mungkin.”

“ Kemampuan akademik dan fisik harus dilatih terus. Dalam memperjuangkan cita-cita, kita harus bersungguh-sungguh dan harus optimis,” tambah Triyanto. 

1 dari 4 halaman

Aksi Heroik Polisi Bantu Wanita Melahirkan dalam Bus di Gatsu

Dream - Seorang ibu melahirkan bayi di dalam bus Murni Jaya jurusan kampung Rambutan-Merak, Rabu pagi 1 Juli 2015. Berkat bantuan anggota Patroli Jalan Raya (PJR) Ditlantas Polda Metro Jaya wanita bernama Yuliana, 30, itu akhirnya dilarikan ke Biddokes Polda Metro Jaya.

Seorang anggota PJR Ditlantas Polda Metro Jaya, Briptu Hermanto menjelaskan, peristiwa terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, dia dan rekannya Brigadir Agus Susilo tengah menjaga lalu lintas di depan Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. 

Saat itu, tiba-tiba kernet turun dari bus dan meminta pertolongan karena di dalam bus ada ibu yang mau melahirkan.

Posisi bus bernopol A 7661 KC yang hendak ke Merak itu sudah melewati gerbang Polda Metro Jaya ketika sang sopir meminta pertolongan. " Pada saat mau dievakuasi,‎ kepala bayinya ternyata sudah nongol," kata Hermato menceritakan.

Petugas meminta Yuliana untuk tenang. Lalu keduanya mengawal mundur bus yang mengangkut Yuliana dan penumpang lainnya, masuk ke Markas Polda Metro Jaya.

Yuliana dilarikan ke Gedung Dokkes Polda Metro Jaya. Namun, beberapa meter sebelum masuk ke Gedung Dokkes Polda Metro Jaya, bayi Yuliana lahir.

Saat ini, Yuliana bersama anak bayi perempuannya masih dalam perawatan petugas medis Dokkes Polda Metro Jaya. Bersama Yuliana, ada juga Maemunah, ibunya dan Jenah, adiknya serta keponakan.

Ibu Yuliana, Maemunah menuturkan, anaknya merasakan mules saat mulai masuk tol daalam kota. Dia mengira, mules yang dirasakan itu tidak akan sampai melahirkan. Namun, ssaat tiba di depan Semanggi sang anak sudah ingin melahirkan dan ketubannya juga sudah pecah. " Waktu ditolong sama pak Polisi kepala Cucu saya sudah keluar," ujarnya.

Dia sangat berterima kasih dengan pihak kepolisian yang membantu kelahiran cucunya. " Saya tidak tahu lagi kalau tidak ada pak polisi, mungkin situasinya akan berbeda" .

 

2 dari 4 halaman

Foto Mengharukan, Polisi Hibur Balita Korban Kecelakaan

Dream - Foto seorang polisi AS sedang menggendong balita perempuan korban kecelakaan yang menewaskan ayahnya ramai diperbincangkan di dunia maya.

Sambil menggendong bocah berusia dua tahun itu, Polisi Nick Struck menyanyikan `Twinkle Twinkle Little Star` untuk mengalihkan perhatiannya.

Sementara petugas lainnya sibuk menangani kecelakaan yang dialami keluarga anak itu.

Kecelakaan yang terjadi di Brighton, Colorado itu menewaskan ayah dan melukai beberapa kerabatnya.

Ibu dan seorang saudaranya diterbangkan ke rumah sakit sementara dua saudara lainnya dibawa dengan ambulans. Tak seorang pun dalam mobil itu yang mengenakan sabuk pengaman

Struck, yang juga punya anak perempuan seusia gadis kecil itu, adalah petugas ketiga yang datang ke lokasi kejadian dan langsung mengeluarkan anak itu dari rongsokan mobil.

Dia kemudian menggendongnya, menjauh dari lokasi kecelakaan.

" Ketika mendengar ada anak kecil ikut menjadi korban dalam kecelakaan, semua yang menolong pasti merasa iba," ujar Struck.

" Hal pertama yang kami lakukan ketika sampai di lokasi adalah berusaha menenangkan semua orang, termasuk anak-anak," katanya kepada 9News dilansir Metro.co.uk, Selasa 23 Juni 2015.

" Jadi, saya langsung menggendongnya dan memperlakukan gadis kecil itu seperti putri saya."

Sejak diambil dan diunggah oleh rekan Struck pada Kamis pekan lalu, foto itu langsung menyebar dengan cepat di dunia maya. (ism)

3 dari 4 halaman

Kisah Brigadir Polisi Tilang Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Dream - Tak tebang pilih dalam penegakan hukum. Itulah hikmah kisah yang ditulis Aryadi Noersaid ini. Cerita tentang seorang bintara polisi menilang Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Tanah Jawa. Dan polisi pemberani itu adalah Brigadir Royadin, paman Aryadi Noersaid.

Kisah itu terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah, pada pertengahan tahun 1960-an. Kala itu, jam baru menunjukkan pukul 5.30 WIB. Di pagi berkabut itu, Royadin, yang baru sepekan mendapat kenaikan pangkat dari agen polisi menjadi brigadir, sudah berada di pos jaga. Di Persimpangan Soko, yang mulai ramai dilalui delman dan becak.

Tiba-tiba, sebuah sedan hitam keluaran tahun 1950-an melaju pelan melawan arus. Kala itu, sangat jarang warga yang memiliki mobil. Sehingga, yang tengah berkendara itu pastilah bukan orang sembarangan. Namun demikian, nyali Royadin tak menjadi ciut. Dia menghentikan mobil yang melaju santai tersebut.

" Selamat pagi, bisa ditunjukan rebuwes," kata Royadin. Rebuwes merupakan surat kendaraan kala itu. Pengemudi mobil membuka kaca. Namun dada Royadin seolah terhentak. Seperti digebuk palu godam. Dia hampir pingsan setelah melihat siapa gerangan sang pengemudi itu. Dialah Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono IX. " Ada apa pak polisi?" demikian tutur Sultan dengan sopan, setelah membuka pintu.

Tubuh Royadin masih gemetar. Namun dia segera siuman dari keterpanaan. Hatinya tetap bulat. Semua pelanggar harus ditindak. " Bapak melanggar verboden," kata Royadin. Royadin mengajak Sultan melihat papan tanda verboden itu. Namun ditolak. " Ya saya salah. Kamu yang pasti benar. Jadi bagaimana?" tanya Sultan.

Royadin agak kikuk. Pertanyaan itu sulit dia jawab. Dalam batin dia berkata, bagaimana bisa menilang seorang raja. Bagaimana bisa menghukum pahlawan Republik. Sementara, dia hanya polisi muda berpangkat brigadir. Namun Royadin heran mengapa Sultan tak memperkenalkan diri sebagai Raja, lantas meminta pelanggaran itu tak diurus dengan menggunakan kekuasaannya.

" Maaf, Sinuwun terpaksa saya tilang," kata Royadin. " Baik brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal," jawab Sultan.

Dengan tangan bergetar Royadin membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu. Tapi dia sadar, tidak boleh memberi dispensasi. Yang membuatnya sedikit tenang, tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sultan minta dispensasi. Surat tilang diberikan dan Sultan segera melaju.

Royadin baru sadar setelah Sultan berlalu. Dia menyesal, berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Ingin rasanya dia mengambil kembali surat tilang Sultan dan menyerahkan rebuwes mobil yang ditahan. Tapi semua sudah terlanjur.

Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di Markas Polisi Pekalongan. Dari ruang Komisaris, nama Royadin disebut berkali-kali. Royadin langsung disemprot sang komandan dalam bahasa Jawa kasar.

" Royadin! Apa yang kamu perbuat? Apa kamu tidak berfikir? Siapa yang kamu tangkap itu? Siapaaa? Ngawur kamu! Kenapa kamu tidak lepaskan saja Sinuwun, apa kamu tidak tahu siapa Sinuwun?" teriak sang komisaris.

" Siap pak. Beliau tidak bilang Beliau itu siapa. Beliau mengaku salah, dan memang salah," jawab Royadin.

" Ya tapi kan kamu mestinya mengerti siapa dia. Jangan kaku. Kok malah kamu tilang. Ngawur, kamu ngawur. Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri Kepolisian Negara," tutur sang Komisaris meledakkan amarahnya.

Royadin tolak pinangan Sultan....

 

4 dari 4 halaman

Royadin Tolak `Pinangan` Sultan

Royadin Tolak `Pinangan` Sultan

Dream - Setelah dimarahi, Royadin malah ditertawakan teman-temannya. Komisaris polisi Pekalongan berusaha mengembalikan rebuwes mobil pada Sultan Hamengku Buwono IX. Royadin pasrah saja, dia siap dihukum, siap dimutasi atau apapun. Yang pasti dia merasa sudah melaksanakan tugas sebagai seorang polisi.

Belakangan sebuah surat dikirim dari Yogya. Sultan meminta Brigadir Royadin dipindahkan ke Yogya. Sultan terkesan atas tindakan tegas sang polisi. Royadin diminta pindah beserta keluarganya. Sultan juga meminta pangkat Royadin dinaikkan satu strip di atas.

Permintaan ini sungguh istimewa. Sebuah permintaan luar biasa dari orang luar biasa. Namun Royadin akhirnya memilih berada di Pekalongan, tanah kelahirannya.

" Mohon Bapak sampaikan ke Sinuwun, saya berterima kasih. Saya tidak bisa pindah dari Pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada Beliau dan sampaikan permintaan maaf saya pada Beliau atas kelancangan saya," pinta Royadin pada Komisaris.

Sultan pun menghormati pilihan Royadin. Royadin yang lahir di Batang, 1 Desember 1926 itu terus bertugas di Pekalongan. Pangkatnya pun hanya naik beberapa tingkat. Namun mungkin sosok polisi inilah yang paling diingat Sultan Hamengku Buwono IX seumur hidupnya.

Royadin bertugas sebagai polisi selama 21 tahun 1 bulan. Selain Pekalongan, dia pernah bertugas di Boyolali, Semarang, dan juga Batang, sebagai Kapolsek Warungasem. Dia pensiun dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu).

Dia wafat di rumahnya yang beralamat di Gang Sriti RT 06/RW 06 No 53, Legoksari, Proyonanggan Tengah, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, pada 14 Februari 2007, dalam usia ke 81 tahun. Dia dimakamkan di pemakaman umum dekat rumahnya, berdampingan dengan makam istrinya yang meninggal dua tahun setelahnya.

(Ism, Sumber: Merdeka.com dan RTMC Polda Jawa Barat)

Beri Komentar