Hafiz (4): Mohammad Mursi, Presiden Mesir Penghafal Alquran

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 16 Maret 2015 19:36
Hafiz (4): Mohammad Mursi, Presiden Mesir Penghafal Alquran
Mendidik istri dan anak untuk jadi penghapal Alquran. Setahun memerintah dia digulingkan melalui kudeta militer.

Dream - Ketidakpuasan itu sudah di ubun-ubun. Alhasil pada tanggal 25 Januari 2011, untuk kali pertama, rakyat Mesir turun ke jalan. Hari itu hampir seluruh jalanan di Mesir penuh sesak oleh massa demonstran. Bahkan, kendaraan pun tak bisa lewat.

Di jalan-jalan, rakyat Mesir secara serempak meneriakkan pelbagai slogan yang menuntut orang nomor satu di negeri itu, Hosni Mubarak, untuk mundur. Lapangan Tahrir di ibukota Kairo menjadi titik pusat massa. Puluhan ribu mahasiswa dan rakyat pemrotes mencoba bertahan di sana.

Setelah dua pekan bertahan di Lapangan Tahrir, mayoritas massa sudah tampak kelelahan. Mereka kelaparan dan kurang tidur. Bahkan, tak jarang ada juga yang terlihat memar dan cedera akibat sejumlah bentrok yang menewaskan sedikitnya 109 orang sejak demo pertama kali meletus.

Meski fisik melemah, semangat mereka tetap membara. Dengan sisa energi yang ada, mereka tak ingin perjuangan selama ini sia-sia. " Kami harus mantap menggulingkan pemerintah," kata Ahmed Abdel Moneim, mahasiswa 22 tahun, yang sudah berhari-hari tinggal di Lapangan Tahrir.

" Revolusi Prancis membutuhkan proses lama sebelum akhirnya warga mendapat hak-haknya. Jika memang kami harus menghabiskan sisa hidup untuk menyingkirkan Mubarak, kami akan lakukan," kata Abdel menambahkan.

Gejolak reformasi di Mesir segera menyebar ke negara-negara Arab lainnya. Bahrain, Irak, Iran, Yordania, Aljazair juga bergolak. Masa itu disebut “ Arab Spring,” Musim Semi di Arab. Tuntutan demokratisasi meluas ke mana-mana.

Massa rakyat di Mesir sudah lama geram. Kinerja Hosni Mubarak dianggap tidak memuaskan lantaran tidak berpihak pada rakyat dan lebih mengutamakan kepentingan keluarga dan kroni-kroninya.

Tidak tanggung-tanggung, demonstrasi itu berlangsung hingga 18 hari penuh, tanpa satupun orang yang pulang ke rumah. Pemerintah Mesir berusaha meredam gejolak yang menginginkan revolusi itu dengan beragam cara. Salah satunya adalah menutup seluruh akses jaringan komunikasi termasuk internet. Ketika Mesir bergolak, putera Hosni, Gamal Mubarak, diam-diam dilaporkan telah meninggalkan Mesir bersama keluarga mengungsi ke London.

Upaya peredaman massa pun gagal. Bukannya menjadi patuh, rakyat justru semakin geram. Dari hari ke hari demonstrasi bergulir, tensi ketegangan semakin meningkat.

Salah satu tokoh yang dianggap berperan, Mohammed Mursi Issa Ayyat, yang kemudian dikenal sebagai Mursi. Mursi pun ditangkap dan dipenjara. Rakyat semakin marah atas penangkapan itu.

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Hosni Mubarak, sang penguasa yang telah bertahta 30 tahun itu, akhirnya menyerah. Dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi, ia menyatakan mengundurkan diri dari kursi presiden pada 11 Februari 2011. Rakyat Mesir puas atas keputusan itu. Demonstrasi pun berakhir.

***

Tahun 2011....

1 dari 3 halaman

Berubah Total

Berubah Total © Dream

Tahun 2011 memang menjadi tahun yang tidak akan pernah dilupakan oleh rakyat Mesir. Pada tahun tersebut, jejak sejarah politik dan pemerintahan negeri Firaun itu berubah total. Harapan akan Mesir yang lebih baik semakin tumbuh, diiringi semangat rakyat yang tidak mau kondisi negaranya terpuruk.
    
Meski Mesir mengaku sebagai negara penganut demokrasi, sistem politik tetap saja dikuasai oleh rezim yang tidak pernah berubah. Militer adalah kubu yang selalu memegang kendali penuh atas Mesir. Jikapun ada pemilihan umum, ini hanya langkah untuk melegalisasi sistem demokrasi yang sebenarnya dirasakan semu oleh hampir semua rakyat Mesir.

Dalam 30 tahun sebelumnya, Mesir memiliki presiden militer, Hosni Mubarak, yang sukses menduduki kursi utama dengan bantuan militer. Berulang kali pemilu digelar, tidak ada satupun ada perubahan di wajah pemerintahan. Bisa dibilang, pemilu hanya pemberi dasar hukum bagi status quo.

Rakyat Mesir muak dengan kondisi seperti itu. Mereka ingin perubahan. Mereka ingin negara yang hadir dalam setiap urusan warga negaranya. Bukan negara yang terkesan menyepelekan masalah warganya dan lebih menganggap penting hubungan internasional.

Keberhasilan revolusi Mesir itu membuat nama Mursi melambung. Ia kemudian masuk dalam bursa kandidat calon presiden pengganti Hosni Mubarak. Padahal, sejak tanggal 28 Januari 2015, ia sempat merasakan dinginnya lantai penjara lantaran kekritisannya yang membuat kuping rezim status quo terasa bising

***

Mursi lahir...

 

 

2 dari 3 halaman

Mendidik Keluarga Hapal Alquran

Mendidik Keluarga Hapal Alquran © Dream

Mursi lahir Desa Al Adawa, Provinsi Al Syarqiya, terletak di kawasan timur Mesir. Ia lahir pada tanggal 20 Agustus 1951. Ayahnya hanyalah seorang petani biasa dan ibunya sepenuhnya mengurus rumah tangga.

Mursi tumbuh di tengah keluarga yang sangat sederhana. Tidak ada kemewahan pun yang dia dapatkan dari keluarganya. Kesederhanaan itulah yang kemudian membentuk pribadi Mursi.

Sejak kecil, Mursi sangat mencintai Alquran. Hal itu menjadi motivasinya untuk dapat menjadi hafiz, sehingga Alquran selalu ada dalam pikirannya, menuntun segala yang ia lakukan. Baginya, Alquran adalah teman yang setia, yang kapan saja dapat dibacanya tanpa harus memegang teks. Di waktu luang, Mursi selalu menyempatkan diri membaca Alquran.

Demikian juga dengan istrinya, Naglaa Ali Mahmoud. Ia juga dikenal sebagai hafizah, penghafal Alquran perempuan. Antara Mursi dan Naglaa merupakan pasangan yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang tertuang dalam Alquran.

Kemampuan menjadi penghafal Alquran tidak diperoleh dengan cara mudah. Butuh niat kuat untuk bisa menguasai seluruh isi Alquran. Tetapi jika sudah mampu menghafalnya, sulit dihapus dan justru melekat dalam kepribadian seseorang.

Kesadaran akan hal itu menjadi dasar bagi Mursi dan Naglaa untuk mendidik anak-anaknya menjadi hafiz. Pasangan ini dikaruniai lima orang putra. Kesemuanya juga merupakan para penghafal Alquran.

Meski dari keluarga sederhana, Mursi memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Dia meraih gelar insinyur dan master di bidang teknik dari Universitas Kairo. Ia lalu melanjutkan pendidikan ke University of Southern California, Amerika Serikat, dan meraih gelar doktor. Meski mengenyam pendidikan barat, hal itu tidak mengubah keyakinan Mursi pada Islam. Ia menjalani kehidupan sebagai Muslim yang taat.

Usai meraih gelar doktor, Mursi menjadi asisten profesor di California State University, antara tahun 1982 hingga 1985. Di tahun-tahun yang sama, Mursi juga bekerja di Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Selesai bertugas di situ, Mursi kemudian memilih pulang ke Mesir dan mengajar di Universitas Zagazig.

Kepulangannya ke Mesir membuat Mursi tersadar akan kondisi negaranya. Ia kemudian memutuskan bergabung dengan Partai Kebebasan dan Keadilan (Freedom and Justice Party/FJP), yang berafiliasi dengan gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin. Karirnya di bidang politik benar-benar dirintis dari nol. Dia mengawalinya dari menjadi pengurus partai cabang Zagazig.

Mursi dikenal sebagai politikus yang sangat lantang dalam mengkritik sistem pemerintahan Mesir. Dia menuding Mesir diperintah dengan sistem demokrasi semu. Karena saking lantangnya, Mursi sempat dijebloskan ke penjara oleh Presiden Anwar Sadat.

Rezim berganti. Dari Anwar Sadat --yang berhenti dari presiden karena tewas ditembak-- ke Hosni Mubarak. Keduanya sama-sama dari militer. Perubahan kepemimpinan itu tidak juga membuat wajah Mesir berubah. Dan tetap saja, Mursi terus melancarkan kritik yang semakin lama semakin lantang.

Puncak tertinggi dari karir politik Mursi adalah terpilih sebagai Presiden Mesir melalui pemilu yang demokratis untuk kali pertama, menggantikan Hosni Mubarak yang mundur karena didesak rakyat melalui revolusi.

Pada tanggal 24 Juni 2012, Komisi Pemilihan Umum Mesir menyatakan Mursi menang mutlak. Ia meraih 51,7 persen suara mengalahkan perdana menteri terakhir era Hosni Mubarak, Ahmed Shafiq, yang mendapat 48,3 persen suara.

Alhasil, Mursi memegang kendali penuh atas Mesir. Dia juga tercatat sebagai presiden Mesir pertama pilihan rakyat.

***

Menjabat sebagai...

3 dari 3 halaman

Dikudeta Militer

Dikudeta Militer © Dream

Menjabat sebagai presiden, Mursi harus bekerja keras melakukan berbagai langkah pembenahan. Ia ingin menciptakan Mesir yang lebih maju. Tidak hanya itu, dia pun melakukan beberapa langkah strategis dalam perpolitikan dunia dengan membuka blokade yang dilakukan penguasa Mesir sebelumnya --atas pengaruh Israel-- ke jalur Gaza, Palestina.

Langkah ini mendapat sorotan luar biasa di dunia internasional. Pasalnya, tidak pernah ada dalam sejarah Mesir berani menentang Israel. Dan Mursilah orang pertama yang melakukannya, bahkan menyatakan secara terbuka ia membenci Israel. Pembukaan jalur itu membuat bantuan kemanusiaan  dapat mengalir dengan lancar ke Gaza.

Namun, blunder politik yang dilakukan Mursi justru terjadi di dalam negeri. Pada bulan November 2012, Mursi berusaha mengajukan perubahan konstitusi berdasar hukum Islam melalui referendum bagi rakyat Mesir. Usul itu langsung ditanggapi lawan politiknya sebagai sebuah “ kudeta Islam.”

Keinginannya membuat Mesir menjadi negara yang lebih Islami menimbulkan protes rakyat Mesir yang terbiasa pada politik sekuler. Demonstrasi pun meletus dan membesar. Dengan isu penyerangan terhadap jurnalis dan demonstran yang dilakukan pemerintah, ribuan demonstran kembali turun ke jalan untuk menentang pemerintahan Mursi pada tahun 2012.

Pada tanggal 30 Juni 2013, demonstran anti Mursi terus meluas di sekujur Mesir. Militer pun kemudian memberi ultimatum 48 jam ke Mursi untuk menyelesaikan masalah itu. Paling tidak agar Mursi mau berdialog dan menerima tuntutan massa.

Puncaknya, 3 Juli 2013, Mursi digulingkan oleh sebuah kudeta militer. Penggulingan itu dinyatakan secara resmi oleh Menteri Pertahanan Mesir Abdel Fattah al Sisi. Alasannya penggulingan harus dilakukan untuk mencegah perang saudara. Pasalnya, massa Ikhawanul Muslimin juga turun ke jalan untuk mendukung Mursi. Aksi pro dan kontra Mursi sempat diwarnai bentrokan antar massa.

Mursi berusaha melawan kudeta. “ Saya menolak tegas pelengseran dari posisi presiden. Dan saya tetap sebagai presiden sah di negara ini,” ujar Morsi, disiarkan langsung oleh Al Jazeera, bebebapa saat usai pernyataan penggulingannya oleh Sisi.

Namun Mursi tak berdaya. Militer terlalu kuat. Ia pun ditangkap dan ditahan militer.

Unjuk rasa menentang pelengseran Mursi dari jabatan presiden oleh Ikhwanul Muslimin langsung meluas. Mereka dengan lantang menyebut hal itu sebagai kudeta.

Namun, unjuk rasa kali ini ternyata berbeda dengan saat revolusi pada 2011. Rakyat Mesir umumnya memilih jadi penonton. Alhasil Ikhwanul Muslimin pun terkucil. Banyak dari mereka menjadi korban peluru panas akibat tindakan polisi dan militer yang membabi buta. Tak hanya itu, organisasi Ikhwanul Muslimin pun dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Mesir.

Tergulingnya Mursi menandai titik balik politik Mesir. Dari kediktaktoran militer, ke era demokrasi, lalu mundur kembali ke keditaktoran militer. Namun, meski cuma berkuasa  satu tahun lebih, Mursi telah mencatatkan diri dengan tinta emas dalam sejarah politik Mesir. Yakni sebagai Presiden Mesir pertama penghapal Alquran… (eh)

(Berbagai sumber)

Beri Komentar