Pasien Covid-19 Asal Demak Ditangkap Di Maluku Utara (Merdeka.com)
Dream - Seorang pasien positif Covid-19 asal Demak, Jawa Tengah, kabur dari rumah sakit sejak 13 April 2020. Tidak main-main, dia pergi jauh menuju Maluku Utara.
Aparat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dari unsur TNI dan Polri melakukan pencarian lewat jalur darat. Aparat melakukan penyisiran dari Tobelo, Halmahera Utara hingga Sofifi, Ibu Kota Maluku Utara.
Pasien tersebut akhirnya ditemukan di penginapan Surya Pagi, Sofifi, Maluku Utara. Tim kesehatan Sofifi lalu menjemput pasien tersebut dan membawanya ke RSUD Chasan Boesoirie Ternate untuk diisolasi.
" Sudah diamankan oleh aparat (TNI-Polri). Setelah tim kesehatan gugus tugas datang langsung membawanya ke Ternate untuk dirawat (inap) dalam ruang isolasi," ujar Koordinator Sekretariat Posko Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku Utara, Ali Yau.
Berdasarkan informasi dari Gugus Tugas Jawa Tengah, status pasien ini berubah dari ODP menjadi positif terinfeksi virus corona setelah hasil tes keluar pada Sabtu sore, 18 April 2020.
Informasi dari istri dan keluarga korban, pasien menuju Sofifi untuk menyeberang ke Kota Ternate. Menurut laporan Koramil Malifut dan Babinsa Sofifi, pria itu diketahui berada di penginapan.
Dia belum bisa bertolak ke Ternate karena pelabuhan speedboat rute Sofifi-Ternate ditutup pada malam hari.
Saat mendapat informasi tersebut, pihak berwajib setempat langsung menyusuri beberapa penginapan dan menemukan pasien berusia 48 tahun itu.
" Kemudian dia dijemput dan dibawa oleh tim kesehatan menggunakan protokol penanganan Covid-19," lanjut Ali.
(Sah, Sumber: Merdeka.com)
Dream - Pulau Dewata tengah menjadi sorotan. Sebabnya, jumlah kasus corona di Bali sejak pertama kali diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada awal Maret hingga saat ini hanya ada 38 kasus, dengan angka kematian hanya 2 pasien.
Harian Asia Times yang berbasis di Hong Kong sampai membuat laporan khusus mengenai hal itu. Dalam artikel berjudul 'Bali's Mysterious Immunity to Covid-19', media tersebut menyoroti tidak adanya peningkatan kasus positif Covid-19 di Bali.
Asia Times menyoroti jumlah positif corona yang terbilang sedikit. Hal ini menimbulkan kecurigaan lantaran Bali merupakan tujuan para wisatawan mancanegara termasuk asal China.
Untuk memperkuat argumen, Asia Times mencantumkan data adanya peningkatan jumlah kedatangan wisawatan China sebanyak 3 persen pada Januari 2020. Di bulan yang sama, virus corona membuat Wuhan lumpuh.
Kasie Pencegahan dan Pengendalian Dinas Kesehatan Bali, I Wayan Sudiyasa, langsung membantah anggapan tersebut. Menurut dia, belum ada penelitian ilmiah yang mengatakan orang Bali kebal terhadap virus corona.
" Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Bali, pasien positif sudah termasuk banyak dibanding daerah lain, masuk 10 besar di nasional," kata Sudiyasa, dikutip dari Liputan6.com.
Data Call Centre Penanggulangan Covid-19 Bali menunjukkan tren kasus Covid-19 di Pulau Dewata cenderung landai. Tetapi, jumlah kasus positif Covid-19 terus beranjak naik.
Per 16 April 2020, jumlah pasien positif 113 orang, 8 orang di antaranya warga negara asing. Jumlah pasien meninggal tercatat 2 orang, keduanya merupakan warga negara asing.
Data di situs pendataan.baliprov.go.id sendiri tidak ada informasi soal jumlah orang positif Covid-19 yang melakukan rapid test.
Sementara itu, pakar epidemiologi UI, Syahrizal Syarif, mengatakan tidak ada manusia di dunia ini yang kebal terhadap virus corona. Mungkin saja, katanya, kalau digunakan rapid test antigen bisa ketahuan lebih banyak yang positif virus corona.
" Kalau rapid test, bisa jadi banyak kasus asymtomatic. Tapi saya tak mau berspekulasi tanpa data," kata Syahrizal.
Sumber: Liputan6.com/Ahmad Apriyono
Dream - Sudah hampir tiga bulan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan virus corona sebagai pandemi global. Ancaman kesehatan ini menjadi pukulan terhadap ekonomi, terutama sektor pariwisata di Bali.
Tetapi, ada yang unik dengan kasus Covid-19 di Pulau Dewata. Hingga saat ini, tercatat hanya ada 86 pasien positif Covid-19 dengan angka kematian 2 pasien.
Padahal, sejumlah studi ilmiah menyatakan Indonesia dengan wilayahnya yang luas dianggap sebagai 'bom waktu virus corona' di Asia tenggara. Salah satu alasannya, tingginya kasus positif corona yang mencapai 4.839 pada 14 April, dengan kasus terbesar di Pulau Jawa.
Fakta ini membuat heran media dan blogger-blogger asing, apalagi selama ini Bali dikenal sebagai destinasi wisata dunia. Bahkan, Bali sendiri masih membuka perbatasan internasional hingga Maret lalu ketika corona mulai merajalela.
" Saya juga merasa bingung karena itu tidak masuk akal," kata blogger yang tinggal di Ubud, Rio Helmi, dikutip dari Asia Times.
" Kami tidak memiliki data, tetapi ada tanda lonjakan kematian," lanjut dia.
Bukan hanya itu, di Bali nampaknya tidak ada rumah sakit yang kewalahan dalam menangani pasien Covid-19.
'Misteri' ini juga diungkapkan oleh Jack Daniels, editor harian Balidiscovery.
" Kami tidak mendengar adanya kabar kematian yang tinggi di Bali, bahkan di daerah desa masih bebas dari Corona," kata Daniels.
Dia mengatakan kasus meninggal akibat Covid-19 di Bali kebanyakan adalah warga asing. Salah satunya wanita asal Inggris yang memiliki riwayat penyakit berat.
Di Denpasar, terdapat empat fasilitas krematorium atau pembakaran jenazah. Tetapi, meski kasus Covid-19 nasional meningkat, krematorium tersebut tetap beroperasi normal tanpa ada peningkatan aktivitas.
Advertisement

Miliki Nama Sama, Apa Bedanya Suku Baduy di Sunda dan di Jazirah Arab?


Mengapa Cara Membaca Aksara di Tiap Budaya Bisa Berbeda-beda?

Deretan Musisi Luar Negeri yang Akan Mengunjungi Indonesia pada Agustus 2026


Punya Badan Sebesar Beruang, Benarkah Panda Hanya Makan Bambu?

Deretan Musisi Luar Negeri yang Akan Mengunjungi Indonesia pada Agustus 2026