Suami Istri Berhubungan di Siang Hari Ramadan, Ini Cara Bayarnya

Reporter : Cynthia Amanda Male
Jumat, 10 Mei 2019 04:12
Suami Istri Berhubungan di Siang Hari Ramadan, Ini Cara Bayarnya
Ini penjelasannya.

Dream - Selama bulan Ramadan, umat Islam diwajibkan untuk menjauhkan diri dari segala hal yang membatalkan puasa.

Mereka tidak boleh makan, minum, bergunjing, berbohong, bahkan berhubungan suami-istri di siang hari.

Terkadang, orang tidak mampu menahan nafsu. Saat melihat pasangannya, timbul keinginan untuk bersetebuh. Kemudian mereka melakukan persetubuhan di siang hari, padahal tahu sedang menjalankan puasa Ramadan.

Terkait perkara ini, terdapat hukuman yang harus dijalani oleh mereka yang berhubungan suami-istri di siang hari bulan Ramadan. Mereka diwajibkan membayar kafarat atau tebusan.

 

1 dari 5 halaman

Tiga Bentuk Kafarat

Terdapat tiga bentuk kafarat yang harus dibayarkan seseorang. Ketiganya terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

Dari Abu Hurairah Ra, beliau berkata, " ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah Saw, tiba-tiba datanglah seseorang sambil berkata: “ Wahai, Rasulullah, celaka!” Beliau menjawab, ”Ada apa denganmu?” Dia berkata, ”Aku berhubungan dengan istriku, padahal aku sedang berpuasa.”

" Dalam riwayat lain berbunyi: " Aku berhubungan dengan istriku di bulan Ramadhan." Maka Rasulullah Saw berkata, ”Apakah kamu mempunyai budak untuk dimerdekakan?” Dia menjawab, ”Tidak!” Lalu Beliau berkata lagi, ”Mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab, ”Tidak.” Lalu Beliau bertanya lagi : “ Mampukah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab, ”Tidak.” Lalu Rasulullah diam sebentar."

" Dalam keadaan seperti ini, Nabi SAW diberi satu ‘irq berisi kurma –Al irq adalah alat takaran- (maka) Beliau berkata: “ Mana orang yang bertanya tadi?” Dia menjawab, ”Saya orangnya.” Beliau berkata lagi: “ Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!”

2 dari 5 halaman

Ini Kata Rasulullah

Kemudian orang tersebut berkata: “ Apakah kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di dua ujung kota Madinah satu keluarga yang lebih fakir dari keluargaku”.

Maka Rasulullah Saw tertawa sampai tampak gigi taringnya, kemudian Rasulullah Saw berkata: “ Berilah makan keluargamu!”

3 dari 5 halaman

Ini Hukumnya

Dari keterangan hadits Rasulullah tersebut bisa diambil kesimpulan, bahwa suami yang melakukan hubungan intim dengan istrinya pada waktu siang hari bulan Ramadan saat dalam keadaan puasa, maka hukumnya haram dan ia diwajibkan membayar kafarat (tebusan) atas kesalahannya itu.

Kafaratnya salah satu dari tiga hal berikut, dengan skala prioritas:

1. Membebaskan budak;

2. Berpuasa dua bulan berturut-turut;

3 Memberi makan pada 60 orang miskin di mana setiap orang miskin diberi 1 mud atau 750 gram beras (ada juga yang berpendapat 675 gram beras) atau 0.688 liter beras.

4 dari 5 halaman

Skala Prioritas Bukan Opsional

Tiga jenis kafarat di atas adalah berdasarkan skala prioritas bukan opsional. Artinya, kalau kafarat pertama tidak mampu, baru pindah ke jenis kafarat kedua.

Begitu juga, kalau kafarat kedua (puasa 2 bulan) tidak mampu, maka baru pindah ke jenis kafarat ketiga. Kapan kita bisa mengganti puasa dengan memberi makan 60 orang miskin? Dalam kondisi apa seseorang dianggap tidak mampu puasa kafarat 2 bulan?

Imam Nawawi dalam Raudhah Al-Tolibin wa Umdatul Muftin, menjelaskan:

" Apabila tidak mampu berpuasa karena tua atau sakit yang tidak bisa diharapkan sembuhnya maka wajib baginya memberi makan 60 orang miskin. Yang wajib adalah memberi setiap satu orang miskin satu mud makanan berdasarkan hadits dari Abu Hurairah dalam masalah hadits jimak pada bulan Ramadhan di mana Rasulullah bersabda padanya (pelaku jimak bulan Ramadan): " Berikan makanan pada 60 orang miskin." Pria itu berkata, " Aku tidak punya." Lalu Nabi Saw memberikan korma 15 sha' dan bersabda pada pria itu, " Ambillah dan bersedekahlah dengannya."

5 dari 5 halaman

Tinggal Dua Pilihan

Karena jenis yang pertama memerdekakan budak tidak adalagi maka tinggal 2 pilihan, yaitu berpuasa 2 bulan berturut-turut dan memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang.

Kita tidak boleh langsung memilih jenis yang ketiga, sebelum kita mencoba berpuasa 2 bulan berturut-turut.

Apabila dilakukan berpuasa 2 bulan berturut-turut, terus puasanya dibatalkan pada hari yang ke 59 dengan sengaja tanpa penyebab apapun.

Maka puasanya di ulang lagi dari hitungan pertama. Namun apabila batal dikarenakan sakit, maka puasanya tetap dihitung sesuai dengan yang sudah dilaksanakan.

(ism, Selengkapnya klik di sini)

Beri Komentar
Canggih, Restu Anggraini Desain Mantel dengan Penghangat Elektrik