Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Danau Toba. (foto: Wikipedia)
Dream – Sekitar 74.000 tahun yang lalu, sebuah supervolcano atau gunung api super meletus, membunuh 60 persen penghuni Bumi dalam sekali waktu.
Supervolcano seperti itu sampai sekarang masih berpotensi untuk menimbulkan letusan dramatis yang bisa berpengaruh secara global. Namun penyebab pasti dari gunung-gunung bisa meletus begitu dashyat masih belum diketahui sepenuhnya.
Namun kini, berbekal jejak letusan purba tersebut, para ilmuwan berhasil mengungkap penyebab bencana alam yang mengerikan tersebut.

Ivan Koulakov dan rekannya dari Akademi Ilmu Pengetahuan Siberia di Rusia meneliti area bawah tanah yang sekarang menjadi Danau Toba. Menggunakan data seismik, Koulakov yakin di situlah supervolcano purba berada.
"Letusan super terbaru di Toba, yang terjadi 74.000 tahun yang lalu, dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar di jagat raya dari Era Pleistosen," kata para peneliti.
"Letusan tersebut memuntahkan material bervolume raksasa, seperti batu-batu padat yang diperkirakan memiliki ukuran volume 2.800 sampai 5.300 kilometer kubik," tambah Koulakov.
© Dream
Koulakov dan timnya ingin mencari tahu mengapa gunung api super bisa mengeluarkan material berukuran raksasa. Selain itu, mereka juga ingin mengetahui mengapa ada jeda yang lama di antara letusan gunung api super itu.
Untuk mempelajari cara kerja gunung berapi ini, Koulakov dan timnya mengembangkan model berdasarkan data seismik.
Menggunakan model tersebut, mereka menemukan bahwa supervolcano dikendalikan oleh waduk magma yang sangat besar.
Waduk ini menjaga magma tersimpan jauh di bawah kerak tebal sampai tekanan cukup untuk menciptakan letusan yang sangat dahsyat.
© Dream
Melalui model yang dibuat, Koulakov memperlihatkan sistem kanal magma yang rumit dan bertingkat-tingkat hingga kedalaman lebih dari 150 kilometer. Di kedalaman tersebut, gas dan lelehan dasar lainnya dihasilkan.
Gas dan lelehan tersebut kemudian naik sampai pada kedalaman 75 km dan menciptakan waduk magma yang sangat besar.
Dan ketika mencapai tekanan kritis yang disebabkan gas dan lelehan yang terperangkap, waduk mulai dikosongkan dan magma dalam jumlah besar akan naik melalui kerak.
Toba bukan satu-satunya supervolcano di mana waduk magma telah ditemukan di bawahnya. Struktur yang sama juga ditemukan di bawah Yellowstone, Amerika Serikat.
Sumber: Dailymail
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Penelitian Ungkap Protein Bisa Bantu Membersihkan Sisa Sel dan Kurangi Tanda Peradangan

Mengapa Tempat Sepi seperti Lorong Kosong Bisa Terasa Menyeramkan? Ini Penjelasan Psikologinya


Bagaimana Harga Emas Ditentukan? Apakah Harganya Sama di Seluruh Dunia?

Sering Bikin Lelah secara Emosional? Kenali 8 Tanda Anda Berhadapan dengan Energy Vampire

Starvision Rilis Trailer dan Poster Dewi Siluman Ular, Angkat Kisah Pernikahan Manusia dengan Jin
