Persahabatan yang Kuat Bisa Memperkuat Kesehatan Mental dan Fisik Milik Seseorang
© Pexels.com/Ceng Ismail
Reporter : Abidah
Hubungan persahabatan yang baik bisa sangat berpengaruh positif terhadap kesehatan fisik dan mental seseorang.
DREAM.CO.ID - Persahabatan yang memuaskan dan hubungan sosial yang dekat secara umum terbukti berkaitan erat dengan kesehatan fisik dan mental yang prima. Dilansir dari News-Medical, temuan ini berasal dari studi global berskala besar yang dipublikasikan di jurnal peer-review Journal of Mental Health.
Data dari lebih dari 200.000 orang dewasa menunjukkan bahwa koneksi sosial berkualitas baik, dan pada tingkat lebih rendah, hubungan keluarga yang positif sejak masa kanak-kanak, berkaitan dengan persepsi kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan yang lebih baik.
Riset ini, yang merepresentasikan salah satu studi paling komprehensif dari jenisnya, mencakup 22 negara termasuk Inggris, Amerika Serikat, Australia, Argentina, Brasil, Jerman, Spanyol, India, Jepang, Mesir, Nigeria, Afrika Selatan, Meksiko, dan negara-negara lainnya.
Peneliti Serukan Perhatian Kebijakan Kesehatan
Hasil penelitian yang dilakukan Dr. Veli Durmuş dari Kütahya Health Sciences University, Turki, ini menunjukkan betapa pentingnya ikatan sosial dan keluarga. Dr. Durmuş kini mendesak para pembuat kebijakan untuk memastikan strategi kesehatan mengakui pengaruh koneksi emosional dan sosial ini terhadap kesehatan mental dan fisik.
"Saya menemukan bahwa orang-orang yang lebih puas dengan pertemanan dan hubungan mereka juga cenderung melaporkan kesehatan mental dan fisik yang lebih baik," kata Dr. Durmuş, yang spesialisasi risetnya berfokus pada manajemen kesehatan, kebijakan kesehatan, determinan kesehatan, dan hukum kesehatan.
"Temuan ini menunjukkan mengapa koneksi sosial harus dianggap sebagai bagian penting dari kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan. Dengan pemikiran ini, perencanaan kesehatan masyarakat dan strategi pencegahan sebaiknya turut mempertimbangkan dampak cara orang terhubung dengan orang lain dan keluarganya terhadap kesejahteraan mental dan fisik," tambahnya.
Bukti menunjukkan hubungan sosial melindungi seseorang dari stres, meningkatkan harga diri, dan membantu seseorang mengelola emosinya secara lebih positif.
Data dari Nyaris 205.000 Orang Dewasa di Seluruh Dunia
Jumlah dan kualitas ikatan personal yang dibangun manusia memengaruhi kesejahteraan mental dan fisik sejak lahir, menurut riset-riset yang sudah ada sebelumnya. Namun studi-studi terdahulu cenderung hanya berfokus pada masing-masing negara secara terpisah, dan hasilnya kerap tidak konsisten satu sama lain.
Untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan ini, Dr. Durmuş menganalisis data dari 204.907 orang dewasa berusia 18 tahun ke atas dari Global Flourishing Study (GFS), proyek riset yang mensurvei individu untuk menentukan faktor-faktor apa saja yang membantu manusia berkembang sepanjang hidupnya.
GFS mencakup negara-negara di Eropa, Amerika, Asia, Oseania, Timur Tengah, dan Afrika. Untuk keperluan studi baru ini, para peneliti menggunakan fase pertama GFS demi memastikan keberagaman agama dan budaya yang luas.
Partisipan ditanya sejauh mana mereka setuju atau tidak setuju bahwa mereka merasa puas dengan pertemanan dan hubungan mereka. Koneksi masa kanak-kanak dengan ibu dan ayah dinilai dalam skala mulai dari "sangat baik" hingga "sangat buruk". Peserta survei juga diminta menilai kesehatan mental dan fisik mereka dalam rentang "buruk" hingga "sangat baik". Selain itu, para peneliti turut mempertimbangkan faktor pendapatan, pendidikan, dan faktor lainnya.
Hasil: Pertemanan yang Memuaskan, Kesehatan yang Lebih Baik
Hasilnya menunjukkan, individu yang melaporkan tingkat kepuasan tertinggi terhadap pertemanan dan hubungan mereka juga cenderung melaporkan kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan yang lebih baik.
Pola serupa, meski lebih lemah, muncul pada partisipan yang melaporkan hubungan masa kanak-kanak yang sangat baik dengan orang tua mereka.
Dr. Durmuş menjelaskan bahwa temuan ini menunjukkan hubungan keluarga di masa kecil mungkin berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan di kemudian hari, sementara hubungan sosial di masa dewasa juga tampaknya memegang peran penting.
"Meski temuan tambahan ini menunjukkan bahwa hubungan masa kanak-kanak itu penting, mereka tidak menceritakan keseluruhan kisahnya. Lingkungan sosial seseorang terus berubah sepanjang hidup, dan pertemanan, hubungan pasangan, serta relasi lainnya bisa memperkuat atau mengubah pengaruh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya," jelas Dr. Durmuş.
Pola Berdasarkan Usia, Status Pernikahan, dan Agama
Skor kesehatan mental tercatat lebih rendah pada kelompok usia pertengahan tiga puluhan hingga akhir empat puluhan dibanding kelompok usia 18 hingga 34 tahun, namun justru lebih tinggi pada kelompok usia 65 tahun ke atas.
Status menikah, memiliki cukup uang, dan mengidentifikasi diri dengan sebuah agama, terutama Islam, berkaitan dengan skor kesehatan mental dan fisik yang lebih baik.
Indonesia Mencatat Skor Tertinggi Soal Kepuasan Pertemanan
Ada variasi mencolok antar negara. Orang-orang yang tinggal di Indonesia mencatat skor tertinggi soal kepuasan terhadap pertemanan dan hubungan, sementara skor terendah tercatat di Jepang.
Sebagai kesimpulan, temuan ini menunjukkan hubungan sosial yang kuat berfungsi sebagai "pilar universal" kesejahteraan lintas latar belakang budaya. Dr. Durmuş menekankan bahwa kekuatan penelitiannya terletak pada analisis data dari berbagai negara dengan populasi yang terdiri dari latar belakang yang beragam.
Salah satu keterbatasan studi ini adalah ia tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. Karena berbasis data yang dilaporkan sendiri oleh partisipan, temuan ini sangat bergantung pada persepsi subjektif orang-orang pada momen ketika mereka ditanya.