Suami Tak Bisa Kerja, Istri Jualan Acar Mangga Demi Biaya Berobat Anak

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 14 April 2020 12:36
Suami Tak Bisa Kerja, Istri Jualan Acar Mangga Demi Biaya Berobat Anak
Apalagi, sang suami nganggur karena wabah corona.

Dream – Kebijakan pembatasan sosial yang telah lebih dulu diberlakukan di Malaysia membuat seorang ibu tiga anak harus mencari cara untuk menghidupi keluarga. Sang ibu akhirnya memutuskan berjualan acar mangga demi biayai pengobatan anak sulungnya yang menderita penyakit paru-paru kronis.

Sang suami yang bekerja sebagai buruh kini bisa lagi menghasilkan pemasukan karena kebijakan pembatasan tersebut.

Norhayati Abudallah kini harus memulai bisnis makanan ringan untuk menafkahi keluarga akibat peberlakuan pembatasn sosial yang dikenal di Malaysia dengan istilah MCO. Sebelumnya kehidupan keluarga masih bisa dioptang dari penghasilan sang suami. Sebelum ada karantina, keluarganya mengandalkan gaji suami sebesar 350 ringgit atau sekitar Rp1,26 juta per minggu.

“ Namun, sejak diberlakukan MCO, kami kekurangan karena suami tidak bisa pergi bekerja,” kata Norhayati, dikutip dari World of Buzz, Selasa 14 April 2020.

Ibu 26 tahun itu juga bercerita, anak tertuanya, Nur Amni Fatini Mohd Saiful Azrin yang berusia 4 tahun, didiagnosis mengidap penyakit paru-paru kronis ketika usia 2 tahun. Ia diprediksi akan terus menderita demam dalam jangka waktu panjang.

" Putri saya yang paling tertua mengalami komplikasi kesehatan. Dia menderita kekurangan oksigen yang masuk ke otaknya sejak ia lahir, maka dari itu saya harus membawanya ke RS RAJA Perempuan Zainab II dan RS Universiti Sains Malaysia untuk pendapat perawatan," kata dia.

1 dari 5 halaman

Butuh Uang untuk Susu dan Popok

Putrinya hanya dapat berbaring sepanjang hari tanpa dapat berjalan atau berbicara layaknya anak seusianya. Ia hanya bergantung pada susu khusus yang diberikan melalui tabung di perutnya.

Kemudian, sang anak harus diberi makan enam kali sehari dengan biaya susu senilai 150 ringgit (Rp547.350) per kaleng. Susu ini hanya cukup untuk seminggu.

" Meskipun saya menerima bantuan RM350 (Rp1,26 juta) dari program Jabatan Kebijakan Masyarakat (JKM), itu belum mencukupi untuk biaya yang dibutuhkan rumah tangga saya. Anak tertua saya membutuhkan RM1.000 (Rp3,6 juta) untuk susu dan popok,” kata Norhayati. 

2 dari 5 halaman

Nganggur Karena Corona, Bapak Tua Diselamatkan Sepeda

Dream – Virus corona telah berimbas kepada banyak hal di kehidupan manusia. Tak hanya kesehatan, virus ini juga menyerang sektor ekonomi.

Tak sedikit usaha yang gulung tikar akibat pandemi Covid-19. Begitu pula dengan para pekerja informal terpaksa menganggur karena corona.

Seperti yang dialami oleh pria paruh baya asal Singapura, Ah Guai.

 

 

Dikutip dari Diadona, Rabu 1 April 2020, dia kehilangan satu-satunya pekerjaan yang dimiliki. Hal ini diperparah dengan kondisi fisik Ah Guai yang sudah terlalu tua serta keterbatasan skill sehingga hanya bisa mengerjakan pekerjaan fisik.

Ah Guai pun sulit untuk mendapatkan pekerjaan lain. Kondisi ini diketahui dari pemilik Jun Yuan House of Fish. Toko ini adalah toko ikan langganan Ah Guai.

3 dari 5 halaman

Berbekal Sepeda dan Semangat

Waulaupun usianya sudah tidak produktif dan keterampilannya terbatas, Ah Guai punya dua hal yang membuat pemilik toko ikan merekrutnya. Dua hal itu adalah semangat dan sepeda.

Dengan dua hal itu, Ah Guai pun direkrut untuk menjadi pengantar ikan. Strategi yang baik mengingat saat ini masyarakat juga menerapkan karantina di rumah sehingga pembelian dengan jasa antar akan lebih memudahkan untuk berbelanja.

Semua pembelian di Juan Yuan House of Fish nantinya akan diantarkan oleh Ah Guai bersama sepedanya. Pembeli hanya diminta biaya tambahan sebesar 1 dollar Singapura atau Rp11.500.

Jumlah itu memang tak memberatkan pembeli, tapi berarti bagi Ah Guai untuk menyambung hidup. Gerakan ini memang sangat sederhana, pemilik usaha yang masih bisa menjalankan usahanya membantu mereka yang kehilangan sumber penghasilan.

4 dari 5 halaman

Kisah Haru Penjual Nasi di Tengah Corona, Memohon ke Pembeli Datang Kembali

Dream – Imbauan jaga jarak (social distancing) membuat banyak pegawai kantoran memilih bekerja dari rumah dengan nyaman. Namun di luar sana masih banyak orang yang dengan sangat terpaksa tetap mencari uang di luar rumah saat pandemi virus corona.

Perjuangan mereka tak berhenti sampai di situ saja. Untuk mendapatkan uang ratusan ribu, mereka harus membuka toko lebih dari 12 jam.

Dikutip dari World of Buzz, Selasa 31 Maret 2020, seorang warganet Malaysia bernama Gary Chong berbagi kisah saat berjumpa dengan penjaja warung makanan. Kala itu, Gary hendak keluar rumah untuk membeli barang di toko kelontong.

 

 

“ Saat mengemudi, saya melewati salah satu kedai kopi jajanan lokal favorit. Saya kebetulan melihat ada tiga kios jajanan terbuka,” kata dia.

Gary memesan tiga paket nasi ayam. Saat membeli dagangan, Gary bercerita sang penjual mengeluh harus buka warung dari jam 07.00 sampai 23.00. Selama jam buka warung, penjual hanya mengantongi uang 100 ringgit-180 ringgit (Rp377.780-Rp680.004).

“ Penjual melanjutkan akan berhenti jika bisnisnya berjalan seperti ini selama dua minggu lagi,” kata Gary.

Malah, kata dia, sang penjual memohon kepada Gary untuk membeli makanannya lagi pada malam hari. Dikatakan bahwa sang penjual akan memberikan ekstra daging di paket-paket yang dibelinya.

5 dari 5 halaman

Sadari Hal Ini

Ini membuat Gary tersadar. Masalahnya tak hanya berakar kepada kurangnya pembeli akibat masa karantina yang ditetapkan oleh pemerintah Malaysia, tetapi juga ketidaktahuan terhadap perkembangan teknologi. Penjual makanan ini juga cemas jika konsumen keberatan dengan harga makanan yang bisa melonjak saat didaftarkan di platform pesan antar.

Saat ditawari bantuan secara finansial, penjual makanan itu menolaknya. Dikatakan bahwa uang dari pembeli masih cukup baginya.

Gary pun datang lagi pada malam hari. Dia membeli nasi dengan setengah ayam. Diselipkan uang dalam nominal besar di nampan. Itu pun tak disadari oleh penjual.

Pria ini menyadarkan masyarakat bahwa tak semua penjual melek teknologi. Dia meminta masyarakat untuk lebih sering membeli makanan di kios-kios di sekitar lingkungan. Kalau perlu, ajaklah berkomunikasi agar interaksi sosial semakin akrab.  

Beri Komentar