Polisi Melakukan Apel Untuk Mengamankan Demo 4 November.
Dream – Kabar aksi demontrasi Organisasi masyarakat (ormas) Islam pada Jumat, 4 November semakin santer. Di bawah payung Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GPNF MUI) para pendemo akan menggelar aksi unjuk rasa perihal dugaan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Tak hanya tokoh agama dan masyarakat awam, kalangan pengusaha pun berharap aksi unjuk rasa ini berjalan dengan lancar.
Wakil Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Suryadi Sasmita, mengharapkan demo tersebut berjalan lancar, tanpa ada kerusuhan. Suryadi tak ingin demonstrasi tahun 1998 terulang kembali.
“ Kami hanya bisa mendoakan agar demo berjalan lancar agar tidak mengganggu kepentingan masyarakat. Misalnya, jangan sampai menutup tol. Jangan sampai terjadi bentrok. Orang boleh beda pendapat. Jangna sampai bentrok sebab kita ini tujuannya membangun negara,” kata dia di Jakarta, dilansir dari Merdeka.com, Kamis 3 November 2016.
Harapan Suryadi ini bukannya tanpa alasan. Dikatakan bahwa kerusuhan 1998 ini membuat perekonomian Indonesia merosot. ”Nanti makin banyak orang yang susah,” kata dia.
Suryadi pun meminta para pengusaha untuk tenang tanpa harus menutup toko mereka. “ Jangan sampai memiliki sikap menutup toko. Itu juga tidak bagus,” kata dia.
Bagaimana dengan kerugian? Suryadi memprediksi demonstrasi ini akan berdampak pada aktivitas usaha. Meskipun demikian, jumlah kerugiannya diprediksi kecil.
“ Pasti mengganggu (usaha). Aktivitas keluar terganggu meskipun belanja banyak. Kerugian ada juga, tapi jumlahnya kecil,” kata dia.(sah)
Advertisement

Spesies Kucing Baru Ditemukan di Bolivia, Ukurannya Lebih Kecil dari Kucing Rumahan

Kurang Tidur Bikin Kepala Sakit? Ini yang Terjadi pada Tubuh dan Cara Mengatasinya

Sarapan Sebaiknya Protein atau Karbohidrat? Ahli Gizi Ungkap Pilihan yang Lebih Tepat

Mengapa Motif Batik Mega Mendung Mirip dengan Desain Awan China?


Sempurnakan Kriteria FCA, Hari Ini 92 Saham Keluar dari Papan Pemantauan Khusus BEI

Bukan 2026, Negara-Negara Ini Masih Menggunakan Kalender dengan Tahun yang Berbeda