7 Langkah Ini Bisa Buat Bank Syariah Berjaya di 2016

Reporter : Ramdania
Selasa, 5 Januari 2016 09:01
7 Langkah Ini Bisa Buat Bank Syariah Berjaya di 2016
Ada masalah, tetapi ada juga solusinya. Inilah cara bank syariah bisa berkembang di tengah arus Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016.

Dream - Tahun 2016 akan diwarnai oleh tingkat kompetisi bisnis jasa keuangan yang semakin ketat. Hal ini karena mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk industri perbankan yang tertuang dalam ASEAN Banking Integration Framework (ABIF).

Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Agustianto Mingka menilai semakin sengitnya persaingan dalam industri jasa keuangan akan berpengaruh negatif terhadap kinerja perbankan syariah. Industri ini dianggap masih terkendala beberapa masalah mendasar seperti keterbatasan modal, sumber dana, SDM dan TI yang mumpuni.

Namun, Agustianto menyebutkan terdapat beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk mengembangkan industri perbankan syariah sehingga bisa menjadi pemain unggul dan berperan bagi perekonomian Indonesia.

Pertama, inovasi produk keuangan dan perbankan syariah merupakan pilar utama dalam pengembangan industri perbankan syariah. Bank-bank syariah, lanjutnya, harus memiliki produk inovatif yang makin beragam agar bisa berkembang dengan baik. Upaya ini mutlak dilakukan karena bank syariah akhir-akhir ini mengalami pelambatan pertumbuhan bahkan penurunan market share dibanding konvensional.

" Inovasi produk bank syariah adalah sebuah keniscayaan, agar bank syariah bisa kembali tumbuh dan bersaing dengan perbankan konvensional maupun lembaga lain," ujar Agus dalam keterangan persnya, Senin, 4 Januari 2016.

Agus mengungkapkan banyak peluang bisnis yang menguntungkan bagi perbankan syariah, seperti international trade finance, sindicated financing, Margin During Construction (MDC), hybrid take over dan refinancing, factoring, KPRS indent, pembiayaan reimburs, IMBT dan Ijarah Maushifah fiz Zimmah, serta Musyarakah Mutanqishah.

" Akad Musyarakah Mutanaqishah dapat diterapkan dalam 11 produk dan kebutuhan bisnis nasabah. Namun sampai saat ini bank-bank syariah umumnya belum mengembangkan produk-produk ini, sehinngga produknya masih sangat terbatas," jelasnya.

Kedua, lanjut Agus, sekuritisasi aset bank syariah. Salah satu kunci kesuksesan KPR Syariah adalah sekuritisasi (tawriq) asset. Sekuritisasi akan meningkatkan ketersediaan dana bagi bank-bank syariah. Dalam konsep sekuritisasi asset ini, bank syariah mentransformasikan aset berisikonya ke dalam bentuk uang tunai yang kemudian dapat digunakan untuk ekspansi usaha dan dapat pula disalurkan kembali ke pihak yang memerlukan dana.

" Uang segar tersebut diperoleh dari sebuah lembaga penerbit EBA yang membeli asset produktif bank syariah," ujarnya.

Keuntungan dari sekuritisasi pembiayaan ini, lanjutnya, bank tidak perlu menunggu lebih lama atau sekitar 10 – 15 tahun untuk mendapatkan kembali dana yang sudah dikucurkan kepada nasabah, khususnya pembiayaan berjangka panjang seperti pembiayaan perumahan.

Ketiga, kualitas aset. Bank syariah harus tetap mewaspadai tren peningkatan pembiayaan bermasalah di tahun depan yang mempengarui kualitas aset (pembiayaan).

Keempat, memperkuat permodalan dan skala usaha bank syariah. Harus diakui, tambah Agus, masalah utama perbankan syariah terkait permodalan. Permodalan bank syariah perlu diperkuat secara signifikan agar memiliki skala usaha yang memadai untuk melakukan ekspansi.

Untuk mewujudkan hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mendorong komitmen Bank Induk Konvensional untuk mengoptimalkan perannya dan meningkatkan komitmennya untuk mengembangkan layanan perbankan syariah hingga mencapai share minimal di atas 10% asset BUK induk.

Selain itu, Agus juga menyampaikan untuk memperkuat permodalan, perbankan syariah bisa menawarak sahamnya ke publik atau bekerja sama dengan partner strategis sehingga bisa meningkatkan modal BUS hingga Rp 5 triliun.

Kelima, pengumpulan dana murah dengan bantuan insentif pemerintah untuk mengumpulkan dana wakaf. " Pemerintah seharusnya memberikan intensif kepada penempatan dana waqaf di bank syariah berupa pembebasan pajak. Adalah aneh, jika pemerintah membebaskan dana pensiun dari pajak, sementara waqaf yang fungsinya nyata-nyata untuk ibadah dan sosial yang merupakan dana milik Allah, lalu dibebankan pajak sebagaimana dana- dana biasa," ungkapnya.

Keenam, penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan ketujuh meningkatkan teknologi sistem keuangan syariah. Penyediaan SDM yang kompeten dengan jumlah yang cukup menjadi tuntutan mutlak bagi bank syariah, apalagi menghadapi MEA.

" Oleh karena itu,manajemen bank syariah harus memprioritaskan penciptaan SDM yang berkompeten dan berkualitas ini, dengan terus menerus mengikuti training dan workshop atau kuliah pascasarjana," pungkasnya.

Untuk artikel terkait keuangan syariah bisa mengunjungi link ini.

Beri Komentar