Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Indonesia Menguasai Bisnis Ekonomi Digital Di ASEAN (Foto: Shutterstock)
Dream - Industri ekonomi digital Indonesia mendadak menjadi bisnis seksi bagi kalangan investor dunia. Beberapa investor besar berani menaruh uang di sejumlah starup yang menyasar konsumen di Tanah Air.
Tren ini tak lepas dari pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang ternyata sudah bernilai triliunan rupiah.
Laporan Temasek, perusahaan investasi asal Singapura, menyebutkan ekonomi Indonesia tahun ini mencetak uang hingga US$ 40 miliar atau sekitar Rp556,6 triliun.
Dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan yang tertinggi.
Ekonomi digital Thailand ditaksir baru mencapai US$ 16 miliar, Singapura US$ 12 miliar, Vietnam US$ miliar, Malaysia US$ 11 miliar, dan Filipina sebesar US$ 7 miliar.
" Kami melihat banyak potensi dalam ekonomi digital Indonesia. Populasi anak muda digital native yang sangat aktif menjadi faktor kunci dalam perkembangan ekonomi mereka," ujar Rohit Sipahimalani, Joint Head, Investment Group, Temasek di Google Indonesia, Jakarta, dikutip Dream dari Liputan6.com, Senin, 7 Oktober 2019.
Dalam enam tahun ke depan, atau tahun 2025, ekonomi digital Indonesia akan terus meroket hingga US$ 133 miliar. Angka itu meninggalkan pesaing terdekatnya, Thailand dengan ekonomi digital sebesar US$ 50 miliar.
Pertumbuhan sektor ekonomi digital Indonesia ditopang oleh e-commerce yang dalam empat tahun tumbuh 12,3 kali lipat menjadi US$ 21 miliar. Pada tahun 2025 pertumbuhannya bisa mencapai US$ 82 miliar.
Pertumbuhan pesat juga terjadi di bisnis ride-hailing yang pada tahun 2015 nilainya masih US$ 900 juta tetapi tahun ini mencapai US$ 6 miliar. Pada tahun 2025 diprediksi akan menjadi USD 18 miliar.
" E-commerce dan ride-hailing terutama memberikan daya yang kuat, ditambah dengan adanya kompetisi antara pemain Indonesia dan regional. Semua sektor juga mendapat untung dari tumbuhnya adopsi pembayaran digital," tulis laporan e-Conomy SEA 2019 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company.

Selain dua bisnis tersebut, Temasek juga mencatat pertumbuhan signifikan dari sektor online travel yang tumbuh dua kali lipat pada empat tahun terakhir menjadi US$ 10 miliar.
Online travel juga diprediksi tumbuh 2,5 kali lipat menjadi US$ 25 miliar.
Sementara Online media di Indonesia, seperti iklan digital, game, serta langganan musik dan video, diperkirakan masih akan menguat.
Tahun ini online media tumbuh menjadi US$ 10 miliar dan akan makin kuat menjadi US$ 25 miliar pada tahun 2025.(Sah, Liputan6.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya