Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Belanja/ Foto: Shutterstock
Dream - Rumah, mobil, tabungan dan harta kekayaan lain seringkali dijadikan tolak ukur kebahagiaan. Mereka yang bergelimang harga kerap dianggap sudah mencapai kebahagiaan.
Benarkah demikian? Terdapat perbedaan pendapat mengenai korelasi uang dan rasa bahagia yang kita rasakan. Tentunya, kita bisa membeli banyak hal dengan uang, tetapi menyamakan uang dengan kebahagiaan bukanlah sebuah sebab akibat yang linear.
Jika memang uang bisa membuat seseorang bahagia, berapa yang dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan? Tim peneliti dari Princeton University, New Jersey, Amerika Serikat, mencoba menganalisisnya dengan melakukan penelitian.
Penelitian dilakukan dengan melihat korelasi antara pendapatan orang per tahun dan kondisi kesejahteraan emosional dan evaluasi hidup mereka. Diketahui bahwa uang sebesar US $75.000 dolar AS per tahun atau sekitar Rp1,1 miliar bisa memunculkan kepuasan hidup dan kebahagiaan.
Tentunya, barometer kebahagiaan tiap orang berbeda-beda. Satu hal yang membuat satu orang bahagia tidak bisa disamakan dengan apa yang membuat orang lain bahagia.

" Kebahagiaan seseorang seringkali bergantung pada keselamatan dan kesejahteraan mereka- gaji- juga tergantung pada nilai-nilai mereka," ujar Billy Roberts, seorang terapis kesehatan mental dikutip dari health.com.
Definisi kebahagiaan orang dipengaruhi dengan nilai-nilai yang dianut. Bagi sebagian orang, kebahagiaan didorong oleh kekuasaan perasaan aman juga menjadi faktor kebahagiaan seseorang. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi kebahagiaan atau persepsi seseorang tentang kebahagiaan.
Seorang psikolog klinis dan profesor psikologi, Margaret Sala, PhD, mengungkap bahwa kemiskinan dapat meningkatkan rasa stres dan persepsi ketidakbahagiaan dan emosi negatif lainnya. Ia mencontohkan, orang yang tidak mampu mengakses perawatan medis dapat memperparah kondisi rasa sakit.
" Orang dengan pendapatan lebih tinggi mungkin tidak dapat menikmati kesenangan kecil karena tekanan dari pekerjaan, sehingga dapat meningkatkan rasa stres," kata Sala.

Menurut Renetta Weaver, seorang pekerja sosial klinis berlisensi, mengungkap kebahagiaan yang disebabkan uang bukan hanya sekedar persepsi semata. Jika dilihat dari sisi neuroscience, kelangkaan uang dan kepemilikan memberi sinyal ke otak bahwa ada ancaman bagi kelangsungan hidup.
" Kita bisa menemukan kebahagiaan dengan hal yang tidak bisa dibeli ketika kita tidak menyamakan uang dan kekayaan dengan nilai yang kita anut," ujarnya.
Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita/ Sumber: Health
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya