Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - " Kami tak melakukan kesalahan apa-apa, tapi bagaimana kami bisa kalah." Itu kata-kata terakhir dari CEO Nokia, Stephen Elop setelah mengumumkan perusahaan raksasa ponsel itu dibeli oleh Microsoft dengan harga 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 79 triliun.
Nokia, salah satu raja pembuat ponsel sebelum ini tidak menyangka mereka akan lumpuh dalam waktu yang sangat singkat. Namun apa yang menyebabkan Nokia lumpuh dengan begitu parah sekali?
Mereka memang tidak membuat kesalahan. Tapi kekeliruan mereka adalah terlalu nyaman sehingga lupa untuk berubah seiring dengan tren masa kini.
Akibatnya, perusahaan mereka dipangkas oleh pesaing dengan begitu cepat sekali.
Ketika perusahaan produsen ponsel lain sedang sibuk mengeluarkan ponsel Android yang baru, Nokia masih nyaman dengan ponsel-ponsel Symbian mereka. Dan akhirnya mereka yang jadi pecundang.
Coba bayangkan apa akan terjadi jika Nokia dengan segera mengeluarkan ponsel Android ketika sistem operasi buatan Google itu booming? Tentu perusahaan mereka masih hidup hingga sekarang, dan mungkin makin bertambah perkasa.
Satu pelajaran paling penting dalam kisah kejatuhan Nokia ini adalah: " Jika Anda tidak berubah seiring dengan perkembangan waktu, Anda akan keluar dari kompetisi."
Kisah kejatuhan Nokia ini patut dijadikan pelajaran, tidak hanya untuk perusahaan-perusahaan di luar sana, bahkan untuk individu sendiri.
Tetapi berubah tidak selalu berarti meniru cara orang lain berubah. Kita mungkin dapat menciptakan cara kita sendiri yang sesuai dengan situasi sekeliling, asalkan kita tidak berada di jalur lama.
Kesimpulan
1. Keuntungan yang kita miliki semalam mungkin bukan lagi satu kelebihan pada keesokan harinya. Jadi, jangan berbangga-bangga dengan kelebihan semalam dan lupa memperbaiki diri.
2. Untuk berubah, kita harus menerima bahwa cara kita itu salah atau sudah tidak releven. Ini berarti perubahan memang sesuatu yang susah. Tapi jadikan kisah Nokia ini sebagai pelajaran dan jangan sampai sudah mau tenggelam, baru ingin naik ke permukaan.
(Ism, Sumber: Siakapkeli.my)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya