Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Sri Mulyani rupanya tidak ambil pusing dengan cibiran yang menyebutnya gemar berutang untuk membiayai proyek pemerintah. Menurut dia, semua negara butuh pinjaman luar negeri untuk menghadapi situasi ekonomi global yang kian tidak menentu.
" Kalau di ruangan ini Anda cuma bilang wah ini Bu Menteri Keuangan utang melulu, Anda udah ketinggalan kereta jauh banget! Karena sekarang itu we are taking about so many choices of instrument menghadapi tantangan yang makin kompleks," kata Sri Mulyani dalam acara Data and Economic (IDE) Conference 2023, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 20 Juli 2023.
Kendati demikian, Menteri Keuangan itu memastikan bahwa pengelolaan utang dilakukan dengan baik. Dia memastikan dana dari utang itu dikeluola dengan penuh kehati-hatian. " Utang itu tidak berarti kita kemudian slopy atau ugal-ugalan, oleh karena itu kita harus hati-hati sekali," sebutnya.
Utang pemerintah per April 2023 tercatat sebesar Rp7.849,89 triliun. Jumlah tersebut turun Rp28,19 triliun dari Maret 2023 yang tercatat sebesar Rp7.879,07 triliun. Dengan demikian, rasio utang pemerintah terhadap PDB sebesar 38,15 persen.
Catatan tersebut masih berada di bawah batas aman atau thresold rasio utang pemerintah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, rasio utang maksimal 60 persen dari PDB dan defisit APBN maksimal 3 persen dari PDB.
Sri Mulyani Indrawati juga menungkap kesuksesan Indonesia berhasil pulih dari pandemi dalam acara G20.
Paparan Sri Mulyani disambut positif oleh mereka, lantara ditengah situasi dunia yang pesimis ini dibutuhkan kisah inspiratif untuk memotivasi negara-negara lain untuk bangkit dari pandemi.
Sri Mulyani bercerita bahwa Indonesia mampu mengkonsolidasi fiskal hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun, padahal UU nomor 2 tahun 2020 tentang penanganan pandemi memberikan waktu 3 tahun.
Meskipun dilakukan konsolidasi yang sangat cepat, namun kata Sri Mulyani ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh di atas 5 persen selama 6 kuartal berturut-turut bahkan sudah di atas level sebelum pandemi.
" Defisit APBN yang tadinya tahun 2020 dibuka untuk bisa di atas 3 persen, yaitu 6,1 persen, kita end up dengan sekarang sudah turun di tahun 2022 dengan 2,38 persen. Ini adalah konsolidasi fiskal tercepat, jadi mereka di G20 menyebut 'it's good to hear a country still managing well and performing well, because we need that success story'," tutur Sri Mulyani.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya