Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dream - Harga minyak dunia jatuh. Untuk pertama kalinya sejak Mei 2009, harga emas hitam ini berada di bawah US$ 50 per barel. Tak pelak, negara kaya minyak mulai morat-marit dengan kondisi itu.
Di tengah kekhawatiran berkurangnya pemasukan negara, Bank Dunia justru berpendapat berbeda. Jatuhnya harga minyak dunia bisa berubah menjadi keuntungan bagi negara berkembang.
Dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis, 8 Januari 2015, Bank Dunia menilai keuntungan ini bisa diraih jika pertumbuhan global yang kuat bisa ikut menopangnya.
Bank Dunia berpandangan penurunan harga minyak dipicu sejumlah faktor yang saling terkait, termasuk kenaikan mendadak dari pasokan minyak dan juga penurunan permintaan.
Minyak dunia juga ikut tertekan oleh berkurangnya risiko-risiko geopolitik di beberapa daerah, perubahan kebijakan oleh Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), dan penguatan U.S. dollar.
Harga minyak yang rendah diperkirakan akan bertahan pada 2015. Pada tahun ini arus pemasukan akan berpindah dari negara pengekspor minyak ke negara pengimpor minyak secara signifikan.
Melemahnya harga minyak tersebut pada akhirnya berkontribusi pada pertumbuhan dan pengurangan efek inflasi dan tekanan fiskal serta eksternal.
“ Untuk para pembuat kebijakan di negara-negara pengimpor minyak yang masih berkembang, jatuhnya harga minyak memberi kesempatan untuk mengambil kebijakan fiskal dan melakukan reformasi-reformasi struktural serta program-program sosial," kata kata Ayhan Kose, Direktur Prospek Pembangunan di Bank Dunia.
Kose menambahkan, bagi negara pengekspor minyak, harga minyak yang rendah justru mengingatkan akan kelemahan ekonomi suatu negara yang terlalu bertumpu pada satu faktor. Untuk itu upaya mendiversifikasi dalam jangka menengah dan panjang menjadi hal yang penting.
Melemahnya harga minyak juga memberikan tantangan signifikan untuk negara-negara penghasil minyak, yang secara terbalik justru terpengaruh oleh indikasi pertumbuhan yang lemah dan tekanan fiskal serta eksternal.
Jika harga minyak bertahan rendah, investasi pada eksplorasi baru atau pembangunan bisa berkurang. Hal ini menjadi risiko besar bagi negara-negara berpendapatan rendah, atau terhadap praktek-praktek investasi yang tidak konvensional seperti shale oil, tar sands dan lapangan pengeboran minyak di laut dalam. (Ism)
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama


3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya


Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
