Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Muslim Jepang (japantimes.co.jp)
Dream - Tersadar dari besarnya potensi bisnis wisata syariah dunia, Jepang langsung bergegas. Beragam fasilitas dibenahi. Kini, `karpet merah` seolah terbentang luas bagi para wisatawan muslim yang akan berkunjung ke Negeri Matahari Terbit.
Ketua Dewan Masjid Jepang Profesor Yamamoto mengakui, perkembangan sektor pariwisata syariah telah menandai babak baru dalam industri wisata Jepang. Pelancong asal Asia Tenggara merupakan salah satu sasaran utamanya.
“ Dulu, Jepang hampir setiap tahun mengirim turis ke luar negeri, rata-rata setahun bisa 20 juta orang karena masyarakat Jepang itu punya banyak uang. Sedangkan turis yang masuk ke Jepang hanya lima juta orang,” ujar Yamamoto dalam pembukaan Focus Group Discussion Halal Tourism and Lifestyle yang diselenggarakan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Selasa, 12 Mei 2015, di Jakarta.
Kondisi ini berbalik setelah upaya keras pemerintah Jepang mengembangkan pariwisata. Pada 2012, setidaknya 10 juta orang berplesir ke negeri para samurai ini.
“ Ternyata sebagian besar turis yang datang ke Jepang berasal dari Asia Tenggara dan mayoritas beragama Islam,” ucap Yamamoto.
Mendapati fakta tersebut, pemerintah Jepang berniat melakukan inovasi yang dapat membuat turis-turis muslim semakin nyaman berada di Jepang. Komunitas muslim di Jepang pun tanpa segan memberikan saran untuk mendukung pembaruan tersebut.
“ Pertama membangun tempat salat (musholla) di bandara internasional. Musholla ini tidak perlu besar, yang penting ada dan bersih,” ujar Yamamoto.
Fasilitas lain yang perlu menjadi perhatian adalah penyediaan makanan halal dan bersih. Sebelumnya, turis dipastikan akan kesulitan menemukan makanan halal di negeri ini. “ Kini, pengusaha hotel dan restoran di Jepang harus memastikan makanan yang mereka buat itu halal,” tambah ketua Dewan Masjid Jepang ini.
Faktor terpenting dari beragam inovasi yang dibuat Jepang, ungkap Yamamoto, adalah penerapan standarisasi.
“ Di setiap negara tentu punya standar yang berbeda. Ada kelas bawah, menengah dan atas, semuanya harus dilakukan dengan tepat dan setelah memiliki standar, yang lebih penting itu mempertahankannya,” pungkas Yamamoto.
Negeri Sakura saat ini tercatat hanya memiliki 50 ribu penduduk beragama Islam.
(Ism, Laporan: Kurnia Yunita Rahayu)
Baca Juga: Menbudpar Usul Ganti Nama Wisata Syariah Fesyen dan Kuliner, Andalan Bisnis Lifestyle Syariah RI Bali Masuk 10 Pulau Terbaik di Muka Bumi `Dewan Ninja` Bangkit Kembali di Jepang Mereka Berhasil Memikat Pelancong Muslim Dunia Indonesia Masuk Negara Favorit Pelancong Muslim Pulau 1.000 Masjid di Indonesia Pukau Dunia Kisah Pelancong Saudi Kagumi Wisata Syariah RI Bisnis Wisata Halal Makin 'Booming'
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya