Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Krisis Sri Lanka, AS Terdampak. Asia dan Indonesia Waspada Resesi Ekonomi

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 25 Juli 2022 20:15
Krisis Sri Lanka, AS Terdampak. Asia dan Indonesia Waspada Resesi Ekonomi
Negara lain bisa menyusul Sri Lanka.

Dream – Di bawah terik matahari gurun, antrean panjang terlihat di bank makanan (food bank) di St Marry, Phoenix. Arizona, Amerika Serikat. Ini adalah pemandangan yang makin lazim di negara itu pada hari-hari ini.

Melonjaknya harga bahan bakar minyak atau BBM dan bahan makanan di Amerika Serikat, membuat banyak orang untuk pertama kalinya beralih ke badan-badan derma yang memberikan makanan, dan tidak sedikit yang datang ke lokasi-lokasi “ food bank” ini dengan berjalan kaki.

Inflasi di Amerika telah mencapai 9,1% atau yang tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Harga BBM telah melonjak sejak April 2020, dengan harga rata-rata Juni lalu mencapai lima dolar per galon atau Rp 74 ribu untuk 4,5 liter atau Rp 16.400 per liter. Harga sewa rumah juga meningkat pesat. Sementara berakhirnya bantuan federal COVID-19 juga telah menimbulkan masalah keuangan yang tidak sedikit.

“ Food bank” atau bank makanan yang mulai menurunkan operasinya setelah semakin banyak orang dapat kembali bekerja pasca COVID-19, kini berjuang keras memenuhi kebutuhan warga. Padahal program federal kini hanya menyediakan sedikit makanan untuk didistribusikan, sementara sumbangan toko-toko kelontong berkurang, dan hibah uang tunai hampir tidak ada lagi.

Food bank di St Marry Arizona

(Kesibukan di sebuah food bank atau bank makanan AS/Bloomberg)

Tomasina John termasuk di antara ratusan warga yang antre mengelilingi blok di mana terdapat lokasi bank makanan di Phoenix. Tomasina mengatakan sebelumnya keluarganya tidak pernah mendatangi bank makanan karena suami dan keempat anaknya yang bekerja di konstruksi bangunan masih dapat memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

“ Tetapi sangat tidak mungkin untuk bertahan sekarang ini tanpa bantuan,” ujar Tomasina, yang datang ke bank makanan itu bersama seorang tetangganya sehingga dapat berbagi biaya bensin. Mereka antre di bawah terik matahari gurun.

Hal senada disampaikan Jesus Pascual yang juga sedang antre di bank makanan itu. “ Harga kebutuhan pokok kini terlalu tinggi. Ini benar-benar perjuangan,” ujar Pascual yang bekerja sebagai petugas kebersihan dan memperkirakan menghabiskan beberapa ratus dolar sebulan hanya untuk membeli makanan bagi dirinya, istri dan lima anak mereka yang berusia antara 11-19 tahun seperti dikutip Voice of America.

Fenomena antrean di depan bank makanan serupa tampak di seluruh Amerika, di mana para pekerja bank makanan memperkirakan musim panas ini akan menjadi semakin sulit karena tingginya tuntutan kebutuhan warga.

Juru bicara bank makanan di St. Mary, Phoenix, Jerry Brown mengatakan pusat distribusi utama bank makanan itu pada minggu ketiga Juni lalu saja telah membagikan paket makanan kepada 4.271 keluarga, atau naik 78% dibanding minggu yang sama tahun lalu yang mencapai 2.396 keluarga.

Lebih dari 900 keluarga antre di pusat distribusi makanan itu setiap hari kerja untuk mendapatkan satu kotak makanan darurat pemerintah yang terdiri dari barang-barang seperti kacang-kacangan, selai kacang dan nasi –yang semuanya dalam kaleng.

Pihak berwenang di St. Mary menambahkan beberapa produk lain yang dibeli dengan sumbangan uang tunai, serta makanan yang disediakan supermarket lokal, seperti roti, wortel dan daging  untuk paket gabungan senilai sekitar U$ 75 atau Rp 1,1 juta.

Distribusi oleh Bank Makanan Warga Distrik Alameda di California Utara juga meningkat pesat. Jumlah bantuan yang dibagikan pada minggu ketiga Juni lalu mencapai 1.410 keluarga, naik dibanding pembagian pada minggu ketiga Januari lalu yang “ hanya” mencapai 890 keluarga.

Katie Fitzgerald, Presiden dan Kepala Operasi “ Feeding America – suatu jaringan bank makanan nasional – mengatakan “ sepertinya situasi ini tidak akan membaik dalam satu malam. “ Tingginya permintaan benar-benar membuat tantangan pasokan menjadi rumit,” katanya.

Harga barang dan jasa di Amerika sekarang memang meroket tajam.

Dibandingkan tahun lalu, harga bahan makanan telah melonjak 12,2% atau berarti kenaikan paling tajam sejak tahun 1979.

Biaya sewa rumah naik 5,8% atau yang terbesar sejak tahun 1986.

Harga mobil baru naik 11,4% dibanding tahun sebelumnya,

Harga energi antara bulan Mei hingga Juni melonjak 7,5% atau terhitung hampir separuh dari inflasi bulan ke bulan. Harga BBM meroket hampir 60% dibanding tahun lalu.

Krisis ternyata tak hanya menghantam Sri Lanka, Negara kaya macam Amerika juga buktinya terdampak. Dan ini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Bahaya resesi ekonomi nampaknya sudah di depan mata.

***

Sri Lanka adalah negara pertama di Asia Pasifik dalam 20 tahun yang gagal membayar utang luar negeri

Menurut Kepala Dana Moneter Internasional (IMF), Sri Lanka berada di tengah krisis ekonomi yang dalam dan belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah memicu protes besar dan membuat  presidennya mundur setelah melarikan diri dari negara itu,  tetapi negara-negara lain dapat menghadapi risiko masalah yang sama.

" Negara-negara dengan tingkat utang yang tinggi dan ruang kebijakan yang terbatas akan menghadapi tekanan tambahan. Lihatlah Sri Lanka sebagai tanda peringatan," kata Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional, pada pertemuan para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di Indonesia seperti dikutip BBC.

Direktur IMF Kristalina Georgieva,

(Direktur IMF Kristalina Georgieva/Anadolu Agency)

Komentar itu muncul saat Sri Lanka berada di tengah krisis ekonomi yang dalam dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada pertengahan April, pemerintah Sri Lanka menyatakan kebangkrutan dengan menolak untuk membayar utang internasionalnya, dan sekarang, negara kepulauan itu berjuang untuk membayar impor penting seperti makanan, bahan bakar, dan obat-obatan untuk 22 juta penduduknya karena kekurangan devisa.

Inflasi telah melonjak sekitar 50 persen, dengan harga pangan 80 persen lebih tinggi dari tahun lalu. Mata uang Rupee Sri Lanka telah merosot nilainya terhadap dolar AS dan mata uang global utama lainnya tahun ini.

Anteran BBM di Sri Lanka

(Antrean bahan bakar di Sri Lanka/New York Times)

Sementara Georgieva tidak menyebutkan negara mana pun, tantangan global yang sama -meningkatnya inflasi dan kenaikan suku bunga, depresiasi mata uang, tingkat utang yang tinggi dan berkurangnya cadangan mata uang asing - telah mempengaruhi ekonomi lain di kawasan itu..

" Yang mengkhawatirkan, negara-negara lain tampaknya berada di jalur yang sama," kata BBC dalam laporannya yang berjudul " Krisis Sri Lanka adalah peringatan bagi negara-negara Asia lainnya" .

Negara-negara tersebut adalah Bangladesh, Pakistan, Laos dan Maladewa, katanya.

Bangladesh juga telah meminta bantuan IMF sebesar U$ 4,5 miliar untuk menopang cadangan mata uang asingnya yang cepat habis. Pada 13 Juli, cadangan mata uang asing Bangladesh mencapai U$ 39,79 miliar, cukup untuk menutupi tagihan impor hanya sekitar lima bulan.

Dalam 11 bulan pertama tahun fiskal 2021-22, defisit transaksi berjalan Bangladesh mencapai U$ 17,2 miliar, naik dari U$ 2,78 miliar setahun sebelumnya, menurut data dari Bank Bangladesh.

Di bulan Mei, inflasi mencapai level tertinggi delapan tahun di 7,42 persen. " Bangladesh harus kembali memprioritaskan pengeluaran pemerintah dan memberlakukan pembatasan pada kegiatan konsumen," kata Kim Eng Tan, seorang analis di S&P Global Ratings.

Di Pakistan, pemerintah mencoba untuk mengekang pengeluaran saat bernegosiasi dengan IMF untuk melanjutkan program bailout. Sejak Agustus tahun lalu, cadangan mata uang asing Pakistan berkurang setengahnya. Pada 7 Juli, jumlahnya mencapai U$ 15,61 miliar.

Inflasi di Pakistan mencapai angka tertinggi 13 tahun terakhir dengan 21,3 persen pada bulan Juni.

Harga bahan bakar di Pakistan naik sekitar 90 persen sejak akhir Mei, setelah pemerintah mengakhiri subsidi bahan bakar.

Anak-anak Pakistan tengah mengantre makanan

(Anak-anak Pakistan tengah mengantre makanan/Cesvi)

Bulan lalu, seorang menteri senior di pemerintahan Pakistan meminta warganya untuk mengurangi jumlah teh yang biasa mereka minum untuk memotong tagihan impor negara itu.

Pakistan adalah importir teh terbesar di dunia, yang dikenal secara lokal sebagai " chai" , membayar lebih dari U$ 515 juta atau Rp 7,7 triliun per tahun untuk mendatangkan komoditas tersebut.

Maladewa telah melihat utang publiknya membengkak dalam beberapa tahun terakhir dan sekarang jauh di atas 100 persen dari PDB-nya.

Seperti Sri Lanka, pandemi menghantam ekonomi Maladewa yang sangat bergantung pada pariwisata.

Negara-negara yang sangat bergantung pada pariwisata cenderung memiliki rasio utang publik yang lebih tinggi, tetapi Bank Dunia mengatakan negara kepulauan itu sangat rentan terhadap biaya bahan bakar yang lebih tinggi karena ekonominya tidak terdiversifikasi.

Bank investasi AS JP Morgan mengatakan negara tujuan liburan itu berisiko gagal bayar utangnya pada akhir 2023.

Utang publik Laos berjumlah 88% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2021, menurut Bank Dunia, dengan hampir setengah dari angka itu berutang ke China.

Laos, yang sudah terlilit utang, sedang berjuang untuk membayar kembali pinjaman tersebut atau membayar impor seperti bahan bakar. Bank Dunia mengatakan negara itu memiliki cadangan U$ 1,3 miliar per Desember tahun lalu.

Antrean BBM di Laos

(Anteran BBM di Laos/Bangkok Post)

Tetapi total kewajiban utang luar negeri tahunannya adalah sekitar jumlah yang sama hingga 2025, setara dengan sekitar setengah dari total pendapatan domestik negara itu.

Akibatnya, Moody's Investor Services bulan lalu menurunkan peringkat negara yang diperintah komunis itu menjadi " sampah" , kategori di mana utang dianggap berisiko tinggi.

China telah menjadi pemberi pinjaman yang dominan untuk beberapa negara berkembang ini dan karena itu dapat mengendalikan nasib mereka dengan cara yang penting, kata BBC.

Tetapi sebagian besar tidak jelas seperti apa kondisi pinjaman Beijing, atau bagaimana hal itu dapat merestrukturisasi utang, kata laporan itu.

Di mana China bersalah, menurut Alan Keenan dari International Crisis Group, adalah dalam mendorong dan mendukung proyek infrastruktur mahal yang belum menghasilkan keuntungan ekonomi yang besar.

***

Di sisi lain, Indonesia juga belum berarti bebas dari ancaman resesi ekonomi. Survei terbaru yang dilakukan Bloomberg menyebut Indonesia masuk daftar negara Asia yang berpotensi mengalami resesi ekonomi.

Rincian survei Bloomberg untuk negara yang berpotensi mengalami resesi ekonomi itu adalah Sri Lanka berada di posisi pertama dengan persentase 85 persen, New Zealand 33 persen, Korea Selatan 25 persen, Jepang 25 persen, China 20 persen, Hong Kong 20 persen.

Selain itu Australia tercatat 20 persen, Taiwan 20 persen, Pakistan 20 persen, Malaysia 13 persen, Vietnam 10 persen, Thailand 10 persen, Philipina 8 persen, Indonesia 3 persen dan India 0 persen.

Karena itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewanti-wanti soal ancaman resesi negara-negara di dunia. Dia menyebut ancaman resesi ini akan terus menghantui dunia hingga tahun depan.

Ini berdasar pada kondisi ekonomi global saat ini. Yakni, berupa upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 ditambah adanya ketegangan geopolitik yang berpengaruh pada pasokan di seluruh dunia.

“ Jadi kita harus tetap waspada, karena ini (ancaman resesi) akan terus berlangsung hingga tahun depan,” kata Sri Mulyani kepada wartawan di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Rabu 13 Juli 2022 seperti dikutip Liputan6.

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani

(Menteri Keuangan RI Sri Mulyani/Kemenkeu)

Menanggapi survei Bloomberg untuk Indonesia, meski angkanya cukup kecil, bendahara negara ini memutuskan untuk tetap waspada. Salah satu upayanya dengan mengerahkan berbagai instrumen kebijakan yang berlaku di Indonesia.

" Kita relatif dalam situasi yang tadi disebutkan risikonya 3 persen dibandingkan negara lain yang potensi untuk bisa mengalami resesi jauh di atas yaitu di atas 70 persen," kata Sri Mulyani.

Meski begitu, dia tak ingin terlena oleh kondisi perekonomian yang lebih baik dari negara lain. Ancaman resesi di tengah ketidakpastian global tetap harus diwaspadai. Apalagi saat ini risiko global mengenai inflasi dan resesi, atau stagflasi ini akan berlangsung sampai tahun depan.

" Ini tidak berarti kita terlena. Kita tetap waspada namun message-nya adalah kita tetap akan menggunakan semua instrumen kebijakan kita," kata dia.

Meski demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui saat ini dunia tengah dihadapi krisis energi. Kondisi ini diyakini akan memperburuk upaya pemulihan ekonomi.

Menurut data yang dimilikinya, harga minyak dunia mengalami kenaikan 350 persen dalam dua tahun terakhir. Ini berdampak pada kenaikan harga energi di seluruh negara di dunia.

" Pada bulan Juni, kami menyaksikan harga gas alam di Eropa meningkat sebesar 60 persen, hanya dalam dua minggu. Kelangkaan bahan bakar sedang berlangsung di seluruh dunia," kata Sri Mulyani dalam pembukaan 3rd Finance Minister and Central Bank Governors (FMCBG) di Bali International Convention Center, Jumat 15 Juli 2022, seperti dikutip Liputan6.

Mengutip data Bank Dunia, ia menyebut harga minyak mentah dunia meningkat 350 persen dari April 2020 hingga April 2022. Padahal, di awal pandemi, ia melihat harga minyak mentah dunia sempat mendekati nol bahkan minus.

" Dan sekarang kita menghadapi situasi ekstrem yang sangat berbeda. Peningkatan 350 persen ini merupakan peningkatan terbesar untuk periode dua tahun sejak tahun 1970-an," katanya.

Dengan adanya kenaikan komoditas energi ini, Menkeu Sri Mulyani menyebut ini berdampak pada kondisi sosial politik di beberapa negara. Sehingga, secara global, ini akan mengancam upaya pemulihan ekonomi.

" Dan kami melihat ini memiliki implikasi politik dan sosial yang besar di Sri Lanka, Ghana, Peru, Ekuador, dan di tempat lain. Kelangkaan ini karena harga gas yang tinggi benar-benar menjadi masalah, yang mengancam pemulihan kita. Dunia berada di tengah krisis energi global," kata dia.

Di sisi lain, Sri Mulyani memaparkan kenaikan harga juga terjadi di sektor pangan dunia. Ia menilai ini akan berdampak lebih luas pada kerawanan pangan yang menyangkut jutaan orang.

Menurut World Food Programme, jumlah orang yang menghadapi kerawanan pangan akut meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2019 sebelum pandemi dari 135 juta menjadi 276 juta.

Menkeu Sri Mulyani mengatakan, kondisi perang dan lonjakan harga juga memperburuk lonjakan inflasi global. Serta meningkatkan lebih tinggi ketidakstabilan sosial.

Dengan demikian, tidak ada negara yang aman dari resesi ekonomi. Termasuk Indonesia dan Amerika Serikat. Keruntuhan Sri Lanka yang mengantar negara tersebut ke jurang krisis ekonomi politik serius, agaknya belum berakhir. Kartu domino krisis itu masih terus bergerak. (eha)

Sumber: VOA, BBC, Daily Star, Bloomberg, Liputan6

Beri Komentar