Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Antre Gas Rakyat Sri Lanka Di Tengah Kelangkaan Gas Dan Bahan Bakar (CNN)
Dream - Sri Lanka, negara kepulauan berpenduduk 22 juta orang, pernah dianggap sebagai kisah sukses ekonomi. Itu terjadi ketika jumlah kelas menengah negara itu meningkat dan menjadi salah satu negara berpendapatan rata-rata tertinggi di Asia Selatan.
Tetapi, negara ini sekarang kehabisan uang dan banyak orang hidup di tepi jurang kemiskinan, akibat dari keputusan politik yang buruk, pengeluaran yang sembrono dan salah urus ekonomi.
Langkah Sri Lanka menuju kehancuran ekonomi menjadi semakin jelas bagi para analis dalam beberapa tahun terakhir, yang memperingatkan bahwa neraca pembayaran dan tren ekonomi makro negara itu semakin memburuk.
Setelah presiden digulingkan. Sri Lanka jatuh ke dalam krisis yang mendalam ketika para pemrotes yang mendesak pengunduran diri Presiden Gotabaya Rajapaksa, menyerbu kediamannya, dan mendorongnya untuk meninggalkan negara itu.

(Presiden Gotabaya Rajapaksa/DNA India)
Selama beberapa dekade terakhir, Sri Lanka telah membangun sektor aparatur negara yang membengkak, program kesejahteraan sosial yang kuat yang melampaui kemampuan keuangan negara, militer yang besar dan serangkaian proyek konstruksi pascaperang yang rumit. Ketika pertumbuhan ekonomi melambat, Sri Langka terus meminjam untuk membayar proyek-proyek itu.
Negara ini dilanda serangkaian tantangan ekonomi di awal 2020, termasuk dari pandemi virus corona. Sri Lanka terpaksa menutup pintu perbatasannya untuk turis selama hampir satu setengah tahun ketika pandemi melanda, yang menghancurkan industri pariwisata dan merampas pendapatan atau devisa negara yang sangat dibutuhkan.
Namun pejabat negara juga sempat melarang pupuk anorganik dengan harapan mengubah negara menuju pertanian organik. Langkah blunder itu menghancurkan panen dan menyebabkan ketakutan akan kekurangan pangan. Kebijakan sesat itu dicabut setelah tujuh bulan dijalankan, namun kerusakan sudah terlanjur terjadi.
Bank sentral mulai mencetak uang ke kertas baru, mengirimkan inflasi ke rekor tertinggi. Menteri keuangan memohon negara tetangga untuk memberi utang guna membeli bahan bakar diesel dan susu bubuk.
Sri Lanka akhirnya terperosok dalam krisis politik dan ekonomi. Negara kepulauan berpenduduk 22 juta orang itu telah mengalami pemadaman listrik selama berbulan-bulan, kekurangan pangan dan bahan bakar yang akut, dan inflasi yang meningkat tajam dalam rekor penurunan ekonomi paling menyakitkan.
Para pengunjuk rasa selama berbulan-bulan menuntut pengunduran diri Presiden Gotabaya Rajapaksa, yang pemerintahnya telah disalahkan atas salah urus keuangan negara yang kronis.
Berikut adalah kronologi krisis ekonomi dan politik yang terjadi di Sri Langka:
1 April
Presiden Gotabaya Rajapaksa mengumumkan negara dalam keadaan darurat sehingga memberikan kekuatan besar kepada pasukan keamanan untuk menangkap dan menahan setiap tersangka, setelah munculnya serangkaian gerakan aksi protes akibat kelangkaan barang.
3 April
Hampir semua anggota kabinet Sri Lanka mengundurkan diri pada pertemuan larut malam, meninggalkan Presiden Gotabaya Rajapaksa dan saudara kandungnya Mahinda Rajapaksa yang menjabat sebagai Perdana Menteri terisolasi secara politik.
Gubernur Bank Sentral Sri Langka, setelah menolak seruan untuk mencari bailout dari Dana Moneter Internasional (IMF), mengumumkan pengunduran dirinya sehari kemudian. Bailout adalah pemberian bantuan keuangan negara yang jika tidak dibantu negara itu akan mengalami kebangkrutan atau kegagalan.
5 April
Masalah kriris kepercayaan pada Presiden Rajapaksa semakin dalam ketika Menteri Keuangan Ali Sabry mengundurkan diri hanya sehari setelah dia diangkat.
Kepemimpinan Presiden Rajakapsa kehilangan dukungan mayoritas anggota parlemennya karena mantan sekutu di parlemen mendesaknya untuk mundur. Dia kembali mengumumkan keadaan darurat.
10 April
Para dokter di Sri Lanka mengatakan mereka hampir kehabisan obat-obatan yang dapat menyelamatkan jiwa. Mereka memperingatkan bahwa krisis itu bisa berakhir dengan membunuh lebih banyak orang daripada virus corona.
12 April
Pemerintah Sri Langka mengumumkan gagal bayar utang luar negerinya sebesar U$ 51 miliar atau Rp 764 triliun sebagai " upaya terakhir" setelah kehabisan devisa untuk mengimpor barang-barang yang sangat dibutuhkan.
19 April
Polisi membunuh seorang pengunjuk rasa, korban pertama warga sipil dari beberapa minggu aksi protes massa anti-pemerintah.
Keesokan harinya, IMF mengatakan telah meminta Sri Lanka untuk merestrukturisasi utang luar negerinya yang sangat besar sebelum paket penyelamatan dapat disetujui.
9 Mei
Sekelompok loyalis pemerintah yang datang dari pedesaan menyerang pengunjuk rasa damai yang berkemah di luar kantor presiden di pinggir laut di Kolombo.
Sembilan orang tewas dan ratusan lainnya terluka dalam serangan balasan yang menyusul, dengan kerumunan menargetkan mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan dan membakar rumah para politisi.
Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Sri Langka dan harus diselamatkan oleh tentara setelah ribuan pengunjuk rasa menyerbu kediamannya di Kolombo.

(PM Mahinda Rajapaksa/Khalej Times)
Posisinya sebagai Perdana Menteri digantikan oleh Ranil Wickremesinghe, seorang veteran politik yang telah menjabat selama beberapa periode sebagai perdana menteri.
10 Mei
Kementerian Pertahanan memerintahkan pasukan untuk menembak di tempat siapa pun yang terlibat dalam penjarahan atau " menyebabkan kerusakan pada kehidupan" .
Tetapi pengunjuk rasa menentang jam malam pemerintah yang baru, yang kemudian dibatalkan pada akhir minggu.
10 Juni
PBB memperingatkan bahwa Sri Lanka sedang menghadapi krisis kemanusiaan yang mengerikan, dengan jutaan orang amat membutuhkan bantuan.
Menurut PBB, lebih dari tiga perempat populasi telah mengurangi asupan makanan mereka karena kekurangan pangan yang parah di negara itu.
27 Juni
Pemerintah mengatakan Sri Lanka hampir kehabisan bahan bakar dan menghentikan semua penjualan bensin di pom bensin kecuali untuk layanan penting.

(Antrean panjang pengendara tuk tuk untuk mengisi bahan bakar di Sri Lanka/BBC)
1 Juli
Pemerintah menerbitkan data yang menunjukkan inflasi telah mencapai rekor tertinggi untuk sembilan bulan berturut-turut, sehari setelah IMF meminta Sri Lanka untuk mengendalikan harga.
9 Juli
Rumah Presiden Sri Langka diserbu. Presiden Rajapaksa terpaksa melarikan diri dari kediaman resminya di Istana Negara Kolombo dengan bantuan pasukan, tidak lama sebelum para demonstran menyerbu kompleks tersebut. Dia dibawa ke lokasi yang dirahasiakan.
Rekaman dari dalam kediaman menunjukkan pengunjuk rasa yang gembira melompat ke kolam renang di Istana dan menjelajahi kamar tidurnya yang megah.

(Massa demonstran bererang di kolam renang Istana Presiden/CNA)
Kediaman pribadi PM Wickremesinghe juga dibakar massa. Polisi mengatakan dia dan keluarganya tidak ada di tempat kejadian.

(Rumah PM Ranil Wickremesinghe dibakar massa/Colombo Post)
Rajapaksa kemudian menawarkan untuk mundur pada 13 Juli, kata Ketua Parlemen Mahinda Abeywardana dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi.
13 Juli
Presiden Gotabaya Rajapaksa terbang ke Maladewa dengan pesawat militer, ditemani oleh istri dan dua orang pengawalnya.
Keberangkatannya terjadi setelah kebuntuan bandara yang memalukan di Kolombo, di mana staf imigrasi bandara tidak mengizinkan layanan VIP dan memaksa semua penumpang melewati loket umum.
Presiden Gotabaya Rajapaksa enggan melalui jalur reguler karena takut akan reaksi publik, kata seorang pejabat keamanan.
14 Juli
Para pengunjuk rasa mengumumkan bahwa mereka akan mengakhiri pendudukan gedung-gedung resmi, termasuk istana kepresidenan, sekretariat presiden dan kantor perdana menteri, tetapi bersumpah untuk melanjutkan upaya mereka untuk menjatuhkan presiden dan PM.
Presiden Rajapaksa meninggalkan Maladewa menuju Singapura, ketika pemerintah negara-kota itu mengatakan dia sedang dalam “ kunjungan pribadi” dan tidak akan memberikan suaka politik.
Setibanya di sana, Rajapaksa mengirim email pengunduran dirinya sebagai presiden kepada ketua parlemen. Pengunduran diri itu diteruskan ke jaksa agung negara itu untuk mempertimbangkan implikasi hukum sebelum keputusan apakah akan menerimanya secara resmi.
Pengumuman itu memicu perayaan para pengunjuk rasa di Sri Lanka, tetapi gerakan protes sebagian besar tetap akan berlanjut seperti yang telah terjadi selama berbulan-bulan. (eha)
Sumber: The New York Times, Aljazeera. Guardian,
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam