Sering Menahan Diri untuk Bicara? Kebiasaan Ini Bisa Diam-Diam Merusak Hubungan
Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah
9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes
Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan
3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Industri Hijab Dalam Negeri 'berdarah-darah' Karena Serbuan Produk Impor. (Foto: Ilustrasi)
Dream – Tak dapat dipungkiri Indonesia menjadi salah satu pasar fesyen Muslim terbesar di dunia. Sayangnya, industri hijab tanah air justru babak belur karena serbuan produk asing.
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, mengatakan, industri hijab di Indonesia tumbuh 56 persen per tahun selama 2016-2018 dan sempat menjadi primadona.
“ Hijab jadi laku luar biasa di pasar kita. Apa yang terjadi?” kata dia dalam “ Forum Indonesia Bangkit Vol. 2: Bangga Buatan Indonesia: Bangkitkan Ekonomi Nasional melalui Industri Kreatif Lokal” secara virtual, Kamis 15 Juli 2021.
Kala itu, pemerintah belum mengatur e-commerce. Platform perdagangan online ini menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) dan menyedot data transaksi di platform e-commerce, seperti model hijab populer di Indonesia, ukuran, hingga harga.
Data ini diekspor ke negara asal platform, dikerjakan di sana, kemudian produknya datang ke Indonesia.
Harga jual hijab produk asing pun jauh lebih murah daripada yang dijual di dalam negeri. Bahkan, harga satu unit jilbab impor lebih murah daripada biaya parkir per jam di Indonesia.
“ Di platform digital asing, jilbab itu harganya Rp1.900. Bang Tigor (Presiden Direktur CIMB Niaga, Tigor M. Siahaan) enggak tahu kalau buat parkir satu jam itu Rp2 ribu,” kata dia.
Lutfi melanjutkan, mereka memang bayar pajak, kurang lebih US$40 ribu (Rp577,36 juta) per tahun. Namun, angka ini jauh lebih kecil daripada yang dikeluarkan oleh industri konveksi di Tanah Air yang senilai US$600 ribu (Rp8,66 miliar) per tahun.
“ Datang ke Indonesia dan menghancurkan industri hijab,” kata dia.
Lutfi melanjutkan, fakta ini diungkap di studi World Economic Forum yang bertajuk “ Cheap Import Destroy Indonesia’s Industries.”
Agar industri Indonesia tidak babak belur dihantam produk impor, pemerintah, lanjut Lutfi, menertibkan predatory pricing di platform e-commerce.
“ Kami berharap tidak ada predatory pricing dalam transaksi online di Indonesia,” kata dia.
“ Kami ingin ada keadilan di perdagangan online dan offline,” tutup Lutfi.
Advertisement

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya

Sering Menahan Diri untuk Bicara? Kebiasaan Ini Bisa Diam-Diam Merusak Hubungan

Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah

9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes