6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Meskipun Menembus Angka Rp389,74 Triliu, Aset Perbankan Indonesia Kalah Dari Negeri Jiran. (Foto: Dream.co.id/Annisa Mutiara Asharini)
Dream - Indonesia harus mengakui tertinggal dari negara tetangga, Malaysia dalam hal keuangan syariah. Laporan Global Economic Indicator 2017 mencatat posisi aset perbankan syariah Indoenesia berada di peringkat ke-10 dunia.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, mengatakan posisi Indonesia kalah karena pangsa pasar perbankan syariah yang masih sangat minim.
Pada tahun 2016, pangsa pasar bank syariah di Indonesia cuma 5,3 persen, kalah jauh dari Arab Saudi 51,1 persen, Malaysia 23,8 persen, dan Uni Emirat Arab 19,6 persen.
Wimboh mengatakan pada Agustus 2017, total aset keuangan syariah di Indonesia mencapai Rp1.048,8 triliun. Rinciannya, aset perbankan syariah Rp389,74 triliun, industri keuangan non bank (IKNB) syariah Rp 99,15 triliun, dan pasar modal syariah Rp559,59 triliun.
“ Jika dibandingkan dengan total aset industri keuangan yang mencapai Rp13,092 triliun, market share industri keuangan syariah sudah mencapai 8,01 persen,” kata dia dalam acara " Prospek Indonesia sebagai Pusat Keuangan Syariah Global" belum lama ini.
Wimboh mengatakan perlu upaya untuk memposisikan Indonesia sebagai kiblat perekonomian syariah global. OJK bersama dengan Bank Indonesia (BI), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerj asama mengatur regulasi perekonomian syariah. Sejumlah program diharapkan mampu memajukan ekonomi syariah, seperti dengan pengembangan kemandirian ekonomi di pesantren wilayah Sumatera, Jawa dan Kalimantan Timur.
“ Pelatihan diberikan dalam bentuk program kemitraan seputar perkebunan dan daur ulang,” kata dia.
Untuk mendukung sektor halal, akan diadakan pula Sharia Economic Forum and Fair pada 7-11 November mendatang. Agenda tersebut dilakukan sebagai perwujudan implementasi halal supply chain yang mencakup sektor pertanian terintegrasi (integrated farming), industri pengolahan (food and fashion), energi terbarukan (renewable energy) serta sektor wisata halal (halal tourism).
(Sah/Laporan: Annisa Mutiara Asharini)
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih

6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?