Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Anak-anak Belajar Mengaji (Foto: Shutterstock)
Dream - Jelang Ramadan, bagi Anda yang punya anak usia sekolah dasar atau taman kanak-kanak, biasanya akan 'merayu' mereka untuk berpuasa. Salah satu cara yang sering dilakukan adalah dengan memberikan hadiah jika buah hati berhasil puasa penuh sejak Subuh hingga Magrib.
Hal ini ternyata sebaiknya tak Anda lakukan. Menurut Roslina Verauli, seorang psikolog, ibadah sebaiknya dicontohkan dan dilakukan dengan kemauan hati. Bukan tanpa pemaksaan apalagi
iming-iming materi.
" Ada aturannya kok kapan anak diwajibkan untuk berpuasa. Biasanya anak usia TK suka ikut-ikut orangtuanya puasa. Tapi pas siang biasanya dia mulai letih, diperbolehkan untuk buka
puasa, jadi puasanya setengah hari aja. Tujuannya buat apa? Setidaknya anak biar kenal dulu. Gak perlu dipaksain. Anak-anak pas lihat orangtuanya puasa, solat, dia pasti mulai tanya," ujar psikolog yang akrab disapa Vera itu saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Vera juga mengungkap kalau pemaksaan ibadah dan pemberian materi sebagai hadiah ibadah pada anak bisa membuat penghayatan terhadap dirinya malah jadi negatif. Misalnya, saat melakukan hal baik dan terpuji, anak kemudian berharap imbalan. Atau hanya bersikap baik ketika dilihat orang, tentu hal ini tak diinginkan orangtua.
Saat puasa sebenarnya anak sedang belajar dari orangtuanya. Belajar beribadah dengan baik. Salah satu manfaat puasa adalah mengendalikan diri dari hal-hal buruk, seperti emosi dan
amarah yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Untuk itu anak perlu contoh yang baik dari orangtua dalam menjalankan ibadah puasa.
" Cara ngajarinnya bukan dengan berkata 'ayo puasa, nanti dosa', tapi dengan mencontohkan langsung. Anak melihat mama papanya puasa, itu namanya social learning. Dari lihat orangtua
dan sekitarnya, dia akan meniru," ujar Vera.
Tak perlu memaksakan jika anak memang belum bisa berpuasa dan ia belum memasuki usia baligh. Jika anak terus-menerus diberi contoh nantinya ia akan mengerti dan memahami esensi
dari puasa dan akan menjalankan ibadah tersebut dengan kesadaran tanpa paksaan.
" Semuanya akan berjalan sesuai dengan kemampuan dan kecerdasan anak, jadi tenang aja, gak perlu dipaksakan," ungkap Vera.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya