Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
BJ Habibie (Foto: Instagram Habibie Center)
Dream - Latar belakang keluarga tentu sangat berpengaruh pada pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Bagaimana ia menghadapi masalah, beradaptasi hingga mencapai kesuksesan. Pribadi Prof. DR. H. Baharuddin Jusuf Habibie, berasal dari keluarga yang hangat.
Dikutip dari Sahabat Keluarga Kemdikbud, kejeniusan Habibie telah terbentuk sejak kecil. Selain karena keenceran otaknya, juga karena hasil didikan dan gemblengan ayahnya, Alwi Abdul Djalil Habibie.
Cara yang digunakan Alwi membuat Rudy, nama kecil BJ Habibie, selalu ingin tahu segala sesuatu dan selalu ingin memecahkan masalah yang ditemuinya, serumit apapun. Dalam buku biografinya BJ Habibie berjudul “ Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner” yang ditulis oleh Gina S Noer dan diterbitkan 2015, terungk bahwa saat berusia 2-3 tahun, Rudy adalah anak yang selalu ingin tahu segala sesuatu dan cerewet menanyakan segala sesuatu yang ditemui dan dilihat pada ayahnya.
© Habibie Center
Contohnya, saat Rudy berusia 3 tahun. Ia menanyakan, apa yang dilakukan ayahnya dengan menggabungkan kedua pohon yang berbeda atau tak sejenis. Ayahnya memang menjabat landbouwconsulent atau setara dengan Kepala Dinas Pertanian di Pare Pare, Sulawesi Selatan.
Ayahnya tidak kesal dengan pertanyaan Rudy tersebut, tapi menjawabnya dengan serius. “ Papi sedang melakukan eksperimen, jadi kita bisa menemukan jawaban dari percobaan. Nah, ini namanya setek. Batang yang di bawah itu adalah mangga yang ada di tanah kita, tapi rasanya tidak seenak mangga dari Jawa. Jadi, batang Mangga dari jawa, Papi gabungkan dengan batang yang di bawah ini”, kata ayahnya.
© Habibie Center
Rudy kembali bertanya, “ Mengapa Papi gabungkan?” Jawaban ayahnya: “ Agar kamu dan teman-teman bisa makan Mangga yang enak”. Lantas Rudy bertanya lagi: “ Kalau gagal bagaimana?”. Jawaban ayahnya: “ Kita cari cara lain dan pohon Mangga lain agar bisa tumbuh di sini”.
Rudy pun puas atas jawaban ayahnya itu dan itulah yang selalu dilakukan ayahnya setiap kali Rudy bertanya segala sesuatu, dijawab dengan cara sesederhana mungkin agar bisa dipahami anak kecil. Dengan cara itulah, keingintahuan Rudy terus tumbuh dan terasah sampai dewasa.
© Habibie Center
Kesibukan pekerjaan membuat sang ayah tak bisa selalu menjawa pertanyaan Habibie kecil. Sang ayah lalu mengajarkan membaca agar Rudy bisa mencari jawabannya melalui buku-buku. Ayahnya membeli bermacam-macam buku untuk dibaca Rudy.
Hasilnya, usia 4 tahun, Rudy sudah lancar membaca dan rajin melahap buku-buku yang disediakan ayahnya. Sejak usia empat tahun, buku menjadi cinta pertama Rudy dan membaca menjadi bagian hidupnya.
© Dream
Rudy membaca buku apa saja, mulai ensiklopedia sampai buku cerita. Buku-buku karya Leonardo Da Vinci dan buku fiksi ilmiah karya Jules Verne menjadi buku-buku favorit Rudy.
Rudy pun senang sekali membuka buku-buku dalam bahasa Belanda. Setiap menemukan kata-kata yang sulit dan tak dipahami, Rudy tak segan bertanya pada orang tuanya sehingga akhirnya orang tuanya membelikan kamus Indonesia-Belanda sehingga bisa belajar sendiri.
© Dream
Apa yang dilakukan Alwi pada Rudy merupakan salah salah praktik penanaman kebiasaan membaca di rumah. Alwi berusaha menjawab setiap pertanyaan anaknya, dengan metode penanaman literasi sains di keluarga. Melalui cara Alwi tersebut, Rudy tumbuh menjadi manusia yang gemar mencari setiap masalah dan menemukan solusinya.
Saya dari lahir, cuma butuh tidur empat jam, selebihnya yang dua puluh jam, panca indera saya menyerap lingkungan sekitar dan bertanya-tanya," kata Habibie.
Sumber: Kemdikbud
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya