Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Keluarga Raffi Ahmad/ Instagram @raffinagita1717
Dream - Ramai beredar video Rafathar yang menghancurkan tumpukan balok mainan karena kesal dengan Baim Wong. Anak pertama Raffi dan Nagita itu kesal karena Baim bermain curang.
Bocah itu akhirnya merusak tumpukan balok sambil menangis dan mengamuk. Lihat videonya di sini. Rupanya hal itu memicu banyak komentar negatif soal Rafathar yang dianggap tidak dididik dengan baik. Lala, pengasuhnya angkat bicara di media sosial.
" Aku yang tahu Pak Raffi dan Bu Gigi ngedidik rafathar, sangat dididik apalagi sopan santun. Mohon maaf banget ibu-ibu, mbak-mbak kalian hanya ngeliat sedikit atau sepenggal video itu dan kalian bisa mengetik kaya gitu, jujur itu sedih bgt si," ungkap Lala dalam video yang diunggahnya.
Penting diingat kalau anak memiliki beragam perasaan selayaknya orang dewasa. Setiap anak juga memiliki karakteristik yang khas dan khusus yang dapat membedakan mereka dengan teman seusianya.
Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada sejak bayi baru lahir seperti menangis, tersenyum, dan frustasi. Bahkan beberapa peneliti meyakini bahwa beberapa minggu setelah lahir, bayi dapat memperlihatkan bermacam-macam ekspresi dari semua emosi dasar, termasuk kebahagiaan, perhatian, keheranan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, dan kebosanan sesuai dengan situasinya (Campos et al.,1983 dalam Desmita., 2006:19).
" Anak-anak biasanya belum memiliki ‘vocabulary’ untuk mengemukakan perasaan mereka, sehingga mereka mengomunikasikan perasaan mereka dengan cara-cara lain. Terkadang anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka melalui perilaku yang tidak tepat dan menimbulkan masalah," kata dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ (K), dari Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya dalam rilis yang diterima Dream.co.id.
© Dream
Setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2-6 tahun, anak-anak pra-sekolah seusia Rafathar sudah dapat merasakan cinta dan mempunyai kemampuan untuk menjadi anak yang penuh kasih sayang, dapat merasakan anak lain yang sedang sedih, dan mulai merasa bersimpati, ingin menolong. Anak pra-sekolah baru dapat mengekspresikan satu emosi pada satu waktu, dan belum dapat memadukan emosi atau perasaan dari hal-hal yang membingungkan.
" Saat anak usia sekolah (6-12 tahun), kemampuan kognitif mereka mulai berkembang sehingga kemampuan untuk dapat mengekspresikan emosinya lebih bervariasi dan terkadang dapat mengekspresikan secara bersamaan dua bentuk emosi yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Anak mulai mengetahui kapan harus mengontrol ekspresi emosi sebagaimana juga mereka menguasai keterampilan regulasi perilaku yang memungkinkan mereka menyembunyikan emosinya dengan cara yang sesuai dengan aturan sosial," kata dr. Anggia
Baru saat berusia 12 tahun ke atas, anak mampu menganalisis dan mengevaluasi cara mereka merasakan atau memikirkan sesuatu. Begitu juga terhadap orang lain, anak yang hampir memasuki masa remaja ini, sudah dapat merasakan bentuk empati yang lebih dalam.
" Perbedaan dalam perkembangan emosi membutuhkan perhatian khusus agar anak memiliki kemampuan meregulasi emosi mereka dengan tepat," ujar dr. Anggia.
© Dream
Rafathar masih berusia 6 tahun dan menghadapi situasi saat 'dicurangi' dengan mengeluarkan emosi negatifnya. Emosi anak seusianya memang belum matang dan butuh pendampingan. Bukan dikomentari dengan hal negatif yang justru bisa berdampak buruk pada perkembangan mentalnya.
" Memiliki anak dengan kecerdasan emosional memang memerlukan tahapan dan waktu yang tidak sebentar. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan melatih anak meregulasi emosinya," ungkap dr. Anggia.
Berikut ini beberapa langkah untuk membantu anak memiliki regulasi emosi:
- Kenali emosi/perasaan diri (name the feeling), seperti sedih, marah, kecewa, kesal, gembira, takut dll
- Kenali emosi/perasaan orang lain
- Hadir dan dengarkan perasaan anak
- Menanggapi dengan tepat apa yang menjadi kebutuhan anak
- Tidak bereaksi negatif saat anak rewel atau marah
- Be a role model
- Senang bermain dengan anak dan tertarik dengan aktivitas anak
- Ajarkan teknik-teknik relaksasi (emotional toolbox)
Terkadang anak-anak dapat mengalami emosi yang negatif, yang terkadang menjadi ledakan emosi. Sebenarnya hal ini dianggap wajar. Namun, ledakan emosi pada anak harus diwaspadai apabila:
- Tantrum dan ledakan (outbursts) terjadi pada tahapan usia perkembangan di mana seharusnya sudah tidak terjadi, yaitu di atas usia 7-8 tahun
- Perilaku anak sudah membahayakan dirinya atau orang lain
- Perilaku anak menimbulkan masalah serius di sekolah
- Perilaku anak memengaruhi kemampuannya bersosialisasi dengan teman, sehingga anak “ dikucilkan” oleh teman-temannya
- Tantrum dan perilaku anak telah membuat distress atau kesulitan dalam keseharian keluarga
- Saat anak merasa tidak mampu mengendalikan emosi marahnya dan merasa dirinya “ buruk”
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya