Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Shutterstock
Dream - Salah satu penyakit degeneratif yakni obesitas menjadi salah satu dari Triple Burden of Malnutrition atau permasalahan gizi yang masih harus ditangani serius di Indonesia selain kekurangan gizi (wasting) dan defisiensi mikronutrien.
Penyebab obesitas salah satunya dipicu pemakaian garam berlebihan selain penyakit diabetes. Terkadang masyarakat hanya berfokus pada gula ketika berbicara soal diabetes. Padahal garam juga berpengaruh besar karena dapat memicu pembuluh darah menarik gula dan garam dalam waktu bersamaan.
Hasil penelitian juga menunjukan konsumsi garam terlalu banyak bisa menimbulkan hipertensi. Kondisi ini dipicu Natrium klorida pada garam dapat menarik cairan yang jika terlalu banyak cairan ditarik ke pembuluh darah akan memicu tekanan eningkat dan akhirnya menyebabkan darah tinggi.
Karena sifat garam yang menarik cairan ke pembuluh darah inilah yang menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah atau kerap disebut strok.
“ Berdasarkan data dari Global Burden of Disease (2019), faktor resiko yang menyebabkan kematian paling tinggi di Indonesia adalah penyakit degeneratif hipertensi, diikuti dengan obesitas,” jelas Eurli Prameswari, Head of Sauce & Seasoning Business Department PT Ajinomoto berdasarkan keterangan tertulis Ajinomoto yang diterima Dream.

Badan kesehatan dunia, WHO (World Health Organization), menganjurkan batas konsumsi aman garam per hari untuk orang dewasa adalah maksimal 5 gram atau kurang dari satu sendok teh.
Atas dasar itulah kami menciptakan inovasi dalam produk bumbu kaldu Masako varian terbaru ini, sekaligus kami ingin berkontribusi bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Inovasi ini juga selaras dengan kampanye yang sedang Ajinomoto giatkan yaitu Bijak Garam,” tambah Eurli.
Pengurangan asupan garam atau diet rendah garam dapat diganti dengan penggunaan garam dengan bumbu kaldu.
“ Ajinomoto ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya diet rendah garam dan mengajak keluarga Indonesia untuk hidup lebih sehat dengan mengurangi asupan atau penggunaan garam dalam mengolah makanan, namun tetap bisa memperoleh cita rasa yang tinggi,” jelas Grant Senjaya, Head of Public Relations Department PT Ajinomoto Indonesia pada keterangan yang sama.
Kampanye ini juga untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dengan meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan keluarga Indonesia melalui produk dan layanan yang berkualitas.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya