Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
© Pexels.com/German Latasa
Jalan kaki pagi berpotensi membantu mengatasi kadar gula darah, sedangkan jalan kaki malam dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan malam.
DREAM.CO.ID - Jalan kaki selama 10 menit setelah makan mungkin terlihat sederhana, tetapi kebiasaan ini dapat membantu mengendalikan kenaikan gula darah. Bagi orang yang ingin menjaga kadar glukosa, pertanyaan berikutnya adalah kapan waktu terbaik untuk berjalan kaki: pagi hari sebelum sarapan atau malam hari setelah makan malam?
Dilansir dari Verywell, dijelaskan bahwa kedua waktu tersebut memiliki manfaat masing-masing. Jalan kaki pagi berpotensi membantu mengatasi kadar gula darah yang tinggi setelah bangun tidur, sedangkan jalan kaki malam dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan malam. Namun, waktu yang paling tepat bergantung pada pola gula darah, jadwal aktivitas, penggunaan obat, dan kondisi kesehatan setiap orang.
Jalan Kaki Pagi Membantu Mengendalikan Gula Darah Setelah Bangun Tidur
Sebagian orang mengalami kenaikan gula darah pada pagi hari meskipun tidak makan selama berjam-jam saat tidur. Kondisi ini dapat berkaitan dengan dawn phenomenon, yaitu fenomena ketika tubuh melepaskan hormon yang memberi sinyal kepada hati untuk meningkatkan produksi atau pelepasan glukosa sebagai persiapan menghadapi aktivitas setelah bangun tidur.
Pada orang dengan diabetes, tubuh mungkin tidak menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup untuk mengimbangi kenaikan tersebut. Akibatnya, kadar gula darah dapat meningkat pada pagi hari.
Menurut penelitian yang dirujuk Verywell Health, olahraga aerobik intensitas sedang selama 30 menit sebelum sarapan terbukti dapat mengurangi kenaikan gula darah pada pagi hari pada orang dengan diabetes tipe 2. Aktivitas fisik pada pagi hari juga dikaitkan dengan pengendalian gula darah yang lebih baik sepanjang hari.
Selain manfaat tersebut, jalan kaki pagi dapat lebih mudah dijadikan rutinitas bagi sebagian orang. Melakukannya sebelum kesibukan harian dimulai dapat membantu menjaga konsistensi olahraga dalam jangka panjang.
Pilihan lainnya adalah berjalan kaki setelah makan malam. Setelah makan, kadar gula darah memang cenderung meningkat, baik pada orang yang memiliki diabetes maupun mereka yang tidak mengalaminya. Akan tetapi, aktivitas fisik ringan setelah makan dapat membantu memperlambat kenaikan tersebut.
Penelitian yang dibahas dalam artikel Verywell Health menunjukkan bahwa berjalan kaki selama sekitar 10 menit setelah makan dapat membantu mengendalikan lonjakan gula darah setelah makan. Kebiasaan ini berpotensi bermanfaat terutama bagi orang yang biasanya mengonsumsi makanan terbesar atau paling banyak mengandung karbohidrat pada malam hari.
Meski demikian, jalan kaki malam perlu mempertimbangkan waktu tidur dan risiko penurunan gula darah. Berolahraga terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu kualitas tidur pada sebagian orang. Sementara itu, orang dengan diabetes tipe 1 atau mereka yang menggunakan insulin berisiko mengalami hipoglikemia nokturnal, yaitu kadar gula darah yang terlalu rendah selama malam hari.
Jika jalan kaki malam mengganggu tidur atau memicu penurunan gula darah saat tidur, aktivitas pada pagi hari dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai. Orang yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah sebaiknya mendiskusikan penyesuaian aktivitas fisik dengan tenaga kesehatan, terutama jika mengalami episode hipoglikemia.
Menentukan waktu berjalan kaki tidak cukup hanya dengan membandingkan pagi dan malam. Ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan, termasuk kapan obat dikonsumsi, kapan gula darah biasanya meningkat atau menurun, jadwal harian, serta pola tidur dan bangun.
Konsistensi juga menjadi faktor penting. Jadwal olahraga yang dapat dilakukan secara teratur biasanya lebih realistis dibandingkan rutinitas yang terlihat ideal, tetapi sulit dipertahankan. Karena itu, seseorang perlu memilih waktu yang sesuai dengan aktivitas sehari-hari sekaligus memperhatikan respons tubuhnya.
Perlu diingat, penelitian tentang waktu, durasi, dan intensitas olahraga setelah makan masih menunjukkan hasil yang beragam. Artinya, belum ada satu jadwal yang dapat dianggap paling efektif untuk semua orang.
Alih-alih terlalu berfokus pada waktu tertentu, berjalan kaki setelah makan dapat menjadi kebiasaan sederhana untuk mendukung pengendalian gula darah. Jika memungkinkan, aktivitas ini dapat dilakukan setelah beberapa kali makan dalam sehari.
Namun, jika berjalan kaki setelah setiap makan sulit dilakukan, memulainya setelah satu waktu makan yang paling memungkinkan tetap bisa menjadi langkah awal. Durasi aktivitas juga dapat dibagi menjadi sesi-sesi pendek sesuai kemampuan dan jadwal.
Bagi orang dengan diabetes, jalan kaki merupakan bagian dari pengelolaan kesehatan, bukan pengganti obat atau anjuran medis. Pemantauan gula darah dan penyesuaian aktivitas berdasarkan kondisi masing-masing tetap diperlukan.
Pada akhirnya, jalan kaki pagi dan malam sama-sama berpotensi memberikan manfaat. Jika gula darah cenderung tinggi setelah bangun tidur, aktivitas pagi layak dipertimbangkan. Jika lonjakan lebih sering terjadi setelah makan malam, berjalan kaki sesudah makan dapat menjadi pilihan. Yang terpenting adalah menemukan jadwal yang aman, sesuai kebutuhan, dan dapat dilakukan secara konsisten.