Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Makanan Bayi (Foto: Shutterstock)
Dream - Air susu ibu (ASI) adalah sumber gizi bayi bayi dari semenjak ia lahir sampai hingga 2 tahun pertama kehidupannya. Seiring tumbuh kembangnya, saat usia 6 bulan, anak membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI) agar nutrisinya tetap terpenuhi.
Namun, perkenalan makanan butuh waktu dan cara yang tepat. Maka itu, pastikan orangtua memahami tahapan makan bayi sesuai tahap perkembangannya.
Orangtua sangat penting untuk membimbing bayi serta menyediakan makanan yang sesuai dengan kematangan oral fisiologis anak. Ini berhubungan dengan kemampuannya menelan, mengunyah dan mencerna.
Mulai dari mengonsumsi ASI hingga berpindah ke makanan padat, semua merupakan serangkaian proses yang berkembang secara perlahan, sehingga tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Apa saja yang harus diperhatikan dan lakukan agar rangkaian proses ini dapat dilewati dengan baik?
Berikut dilansir dari purewow, tahapan perkembangan makan bayi seiring perkembangan usianya.
© Sumber : (foto/shuttershock)
Di usia 4-6 bulan bayi sudah mampu duduk di kursi makan dan sistem pencernaannya sudah lebih berkembang, sehingga siap menerima makanan selain ASI. Makanan yang diberikan pada bayi usia 6 bulan pertama adalah makanan lumat/halus (bubur saring, puree atau makanan yang telah ditumbuk atau dihaluskan).
Tekstur MPASI yang baik adalah tidak terlalu cair atau encer. Pastikan bahwa makanan dimasak sampai lunak, kecuali jika makanan tersebut sudah lunak seperti pisang matang atau alpukat. Bisa memperkenalkan bubur sereal bayi sebagai pengenalan awal. Selain itu, kita bisa memberikan puree buah dari pisang, apel, wortel, pepaya, dan ubi yang dihaluskan sampai lembut. Berikan satu sendok teh lebih dulu lalu tingkatkan menjadi satu sendok makan dua kali sehari.
© Sumber : (foto/shuttershock)
Usia 6-9 bulan bayi sudah siap menerima makanan padat. Pada usia ini bayi mulai tumbuh gigi. Makanan padat pertama yang dapat dicobakan adalah bubur susu. Setelah sebulan atau lebih dan bayi tidak ada masalah dengan asupan pertamanya, coba bubur atau tim.
Pada saat ini, anak juga akan berlatih makan sendiri (baik dengan meraih sendok atau memasukkan tangannya yang memegang makanan ke dalam mulut), dan belajar cara minum dari cangkir.
Jika diperbolehkan oleh dokter anak sekarang saat yang tepat untuk memperkenalkan makanan alergen pada bayi. Misalnya, telur, ikan, kerang, kacang pohon, gandum, susu, kacang tanah dan kacang kedelai.
Pastikan makanan itu dipotong halus sebelum diberikan kepada bayi kita. Berikan satu jenis makanan selama beberapa hari berturut-turut agar bayi terbiasa dengan rasanya sekaligus untuk mengetahui jika bayi alergi makanan tertentu.
Porsi yang disarankan untuk bayi usia 6-9 bulan yaitu 1 sendok teh puree buah lalu bisa ditingkatkan menjadi ¼ hingga ½ cangkit secara bertahap dalam 2-3 kali makan. Sementara untuk sereal lunak berikan sekitar 3-9 sendok makan dalam porsi 2-3 kali makan.
© Sumber : (foto/freepik)
Pada rentang usia 10-12 bulan, si kecil memiliki kebutuhan energi dan nutrisi yang lebih banyak, sehingga makanan pun diberikan dalam waktu yang lebih sering. Pada usia ini anak terbiasa makan dari sendok dan mengambil potongan-potongan kecil makanan dari nampannya untuk diambil dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Pastikan untuk tidak memberinya makanan yang terlalu besar atau keras, karena ia bisa tersedak. Biarkan belajar makan sendiri walaupun ia masih melengkungkan tangannya ketika memegang sendok. Dan biarkan dia minum dari cangkir yang memiliki pegangan (sippy cup).
Sekarang juga saatnya untuk mulai mencoba lebih banyak kombinasi makanan. Hidangkan buah lunak potong atau dihaluskan, sayuran rebus lunak, potongan roti, crackers, potongan keju, ASI atau susu formula diperkaya zat besi, jus buah dalam cangkir. Ia pun sudah bisa makan nasi tim tanpa perlu saring.
Walaupun bayi masih tidak boleh mengonsumsi garam. Cobalah menambahkan bumbu dan rempah-rempah ke dalam makanannya, seperti lada hitam yang baru ditumbuk, kunyit, tarragon, mint, basil dan oregano. (mut)
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Inggris dan Jepang Minta Warga Siapkan Stok Makanan untuk 3 Hari, Ada Apa?

Benarkah Oksigen di Bumi Bisa Habis? Ilmuwan Perkiraan Kapan Hal Itu Bisa Terjadi

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Frugal Living dengan Hidup Pas-pasan

Beeru Stevia Diduga Berisi Pemanis Buatan, Apa Risikonya bagi Penderita Diabetes Jika Terkonsumsi?

6 Tips agar Perjalanan dengan Bayi Lebih Nyaman dan Minim Drama

Tak Selalu Bawa Sajadah, Inisiatif Ini Bantu Jamaah Salat Jumat Lebih Nyaman

Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan