Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Bermula dari kekhawatiran musnahnya populasi makhluk hidup, termasuk manusia, di bumi, sejumlah imuwan berencana mendirikan bank sperma dan sel telur di Bulan.
Para ilmuwan menyebut, pembuatan bank ini sebagai upaya persiapan manusia dalam menghadapi krisis di Bumi seperti bencana alam, kekeringan, asteroid, dan potensi terjadinya perang nuklir.
Bank sperma itu akan menjadi " polis asuransi global modern" yang bersiikan sperma dan sel telur dari 6,7 juta spesies di Bumi. Bank itu nantinya akan dibangun di bawah permukaan Bulan.
" Bumi adalah tempat yang mudah berubah. Karena ketidakstabilannya, penyimpanan di Bumi akan membuat spesimen rentan," kata Jekan Thanga, penulis penelitian Lunar Pits and Lava Tubes for a Modern Ark, dikutip dari New York Post, Senin 15 Maret 2021.
Dalam pertemuan di Institute of Electrical and Electronics Engineers Aerospace Conference, Jekan Thanga dan koleganya dari Universitas Arizona, mengusulkan untuk memulai semacam eksodus planet dengan mendirikan gudang benih manusia di Bulan sesegera mungkin.
“ Kami masih bisa menyelamatkan mereka sampai kemajuan teknologi untuk kemudian memperkenalkan kembali spesies ini - dengan kata lain, simpan mereka untuk hari lain,” katanya Thanga.
Lebih lanjut ia mengungkapnya, saat ini ada banyak tumbuhan dan hewan yang terancam punah. Ia lalu menyebut letusan Gunung Toba di Indonesia 75.000 tahun lalu, sebagai alasannya.
Peristiwa itu, kata dia menyebabkan periode pendinginan 1.000 tahun dan sejalan dengan penurunan keragaman manusia.
Thanga menambahkan, dia terkejut dengan betapa " hemat biaya" misi tersebut. Untuk mengangkut 50 sampel dari setiap spesies (target 6,7 juta) dibutuhkan 250 peluncuran roket.
Sebagai perbandingan, 40 peluncuran diperlukan untuk membangun Stasiun Luar Angkasa Internasional, yang berada di orbit rendah Bumi, yang berjarak jauh lebih dekat daripada Bulan.
" Ini tidak terlalu besar. Kami sedikit terkejut tentang itu," ungkapnya.
Sumber: New York Post
Dream - Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seluruh permukaan Bulan telah dipetakan dan geologinya diklasifikasikan.
Pencapaian besar-besaran di bidang astronomi ini membuka jalan bagi pendaratan di Bulan yang lebih aman di masa depan.
Para ilmuwan dari USGS Astrogeology Science Center, bekerja sama dengan NASA dan Lunar and Planetary Institute, telah menghasilkan 'Peta Geologi Bulan Terpadu'.
Dibuat pada skala 1:5.000.000, keberhasilan ini menandai puncak dari kerja keras ketiga badan yang fokus di bidang angkasa luar itu selama puluhan tahun.
" Orang-orang selalu terpesona oleh Bulan dan kapan kita bisa kembali," kata Jim Reilly, direktur USGS saat ini dan mantan astronot di NASA.
" Jadi, sungguh luar biasa melihat USGS menciptakan sumber daya yang dapat membantu NASA dengan rencana mereka untuk misi luar angkasa di masa depan," tambah Reilly.
Untuk melakukan pemetaan dan klasifikasi permukaan Bulan, peneliti USGS menggabungkan data lama dan baru. Sehingga dihasilkan deskripsi yang terpadu dari lapisan batuan di Bulan.
Untuk menandai era geologis yang berbeda di Bulan, peneliti USGS menggunakan warna yang berbeda pula. Misalnya, warna pink menunjukkan era Imbrian di Bulan.
Era Imbrian ini mendominasi permukaan Bulan yang menandai waktu di mana satelit alami Bumi itu dibombardir oleh asteroid dari luar angkasa.
Perlu diketahui bahwa NASA saat ini sedang mempersiapkan misi pendaratan baru di Bulan.
Misi diperkirakan akan dimulai pada 2024 dan kemungkinan mengikutkan astronot wanita pertama yang berjalan di permukaan Bulan.
Sementara itu, Lembaga Penelitian Luar Angkasa Rusia sedang menciptakan peta Bulan dalam bentuk 3D untuk pertama kali dalam sejarah.
Peta berbentuk 3D ini untuk membantu pengintaian lokasi misi pendaratan di Bulan milik Rusia, Roscosmos, di masa depan.
Sumber: RT.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya