Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Lembaga Biomolekuler Eijkman menggandeng PMI untuk menjalankan riset produksi plasma konvalesen. Hasil riset itu akan digunakan mengobati pasien positif terjangkit virus corona.
" Iya penggunaan plasma konvalesen namanya. Itu untuk mengobati pasien yang terinfeksi Coronavirus," kata Ketua Lembaga Biomolekuler Eijkman Amin Soebandrio kepada Liputan6.com.
Plasma konvalesen merupakan unsur darah diambil dari pasien Covid-19 yang sembuh. Plasma itu kemudian disuntikkan ke aliran darah pasien Covid-19 yang masih terinfeksi.
" Setelah orang yang sembuh selama beberapa minggu kemudian plasmanya diambil dan diberikan kepada orang yang sedang sakit," kata dia.
Amin menjelaskan metode itu memang sebenarnya belum diuji oleh lembaganya. Tetapi, banyak negara lain sudah mempraktekkan metode itu.
" Di beberapa negara sudah dilakukan walaupun itu belum sebagai pengobatan standar, tapi sebagai salah satu alternatif yang cukup menjanjikan," terangnya.
Amin mengatakan kerja sama ini sudah dibahas dengan tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19. Pihaknya juga telah mendapatkan izin.
" Oh ya sudah pendekatan ini sudah dibicarakan oleh Gugus Tugas juga dan nanti kita bukan hanya dengan PMI juga tapi pihak lainnya juga. Ini baru awal saja," tutur Amin.
Sumber: Liputan6.com/Yopi Makdori
Dream - Sebuah riset terbaru mendapat temuan mengejutkan tentang kemampuan virus corona melayang di udara. Dalam riset yang dimuat jurnal Emerging Infectious Diseases diketahui virus penyebab Covid-19 ini bisa melayang hingga 4 meter dari seorang pasien yang terinfeksi.
Jarak terbang virus ini setara dengan dua kali lipat dari standar physical distance atau jaga jarak yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Dalam artikel yang dimuat jurnal tersebut, tim peneliti asal China menemukan virus corona dalam sampel udara yang diambil di ruang perawatan pasien positif. Tetapi para ahli belum bisa memastikan virus tersebut dapat menular atau tidak.
Dikutip dari Straits Times. penelitian yang dijalankan tim Akademi Ilmu Kedokteran Militer Beijing yang mengambil sampel permukaan dan udara dari unit perawatan intensif bangsal Covid-19 di RS Houshenshan di Wuhan. RS Tersebut menampung 24 pasian pada 19 Februari hingga 2 Maret 2020.
Para peneliti mengungkapkan virus paling banyak mengendap di bagian lantai bangsal.
" Hal ini terjadi karena gravitasi dan aliran udara yang menyebabkan sebagian besar tetesan virus jatuh ke tanah," demikian isi riset tersebut.
Kontaminasi tingkat tinggi juga ditemukan pada beberapa benda yang sering disentuh. Seperti pada mouse komputer, trashcans, bed rails dan kenop pintu.
" Selain itu, setengah sampel lain yang terkontaminasi virus antara lain sol sepatu staf medis ICU. Maka dari itu sol sepatu staf medis kemungkinan besar sebagai carier (pembawa virus)," tulis tim tersebut.
Tim peneliti juga melakukan tes transmisi aerosol, di mana terdapat ancaman persebaran virus melalui udara. Hal ini juga masih dalam perdebatan ilmuwan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga meragukan virus ini dapat tersebar melalui aerosol.
Mereka menemukan penularan aerosol yang sarat virus sebagian besar terkonsentrasi di dekat hilir dari pasien berjarak 4 meter.
" Tindakan yang tepat dapat secara efektif mencegah persebaran virus," jelas penulis.
Para ilmuwan ini menawarkan saran yang bertentangan dengan ortodoksi. " Temuan kami menunjukan isolasi rumah bagi orang yang diduga Covid-19 mungkin bukan strategi yang tepat mengingat adanya tingkat kontaminasi pada lingkungan sekitar," jelas penulis.
WHO telah mengeluarkan beberapa himbauan untuk menekan persebaran. Juga mendesak masyarakat untuk selalu menggunakan masker ketika berbicara dengan orang lain.
Dream- Berada di garis terdepan untuk memerangi virus corona covid-19, para tenaga medis membutuhkan sejumlah Alat Pelindung Diri (APD) untuk mengurangi kemungkinan terpaparan virus corona Covid-19 dari pasien yang dirawat.
Selain masker maupun baju Hazmat, para tenaga medis yang bersentuhan langsung dengan pasien pembawa virus corona juga disarankan menggunakan sepatu khusus.
Dalam studi terbaru yang diterbitkan di salah satu jurnal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention/CDC), para peneliti menguji sampel udara dan permukaan di sebuah rumah sakit di Wuhan, Cina, tempat wabah coronavirus dimulai.
Penelitian itu menujukan bukti cukup mengejutkan tentang perilaku hidup virus corona.

Tidak ada metode khusus untuk membersihkan sepatu untuk melindungi terhadap virus corona, tetapi seorang perawat menjadi viral di TikTok yang memperlihatkan rutinitas membersikan sepatu dengan disinfektannya, termasuk memasukkan sepatu dalam pemutih selama semalam.
Sepatu yang terbuat dari kain seperti jaring atau kanvas dapat dibersihkan di mesin cuci. Layanan Kesehatan Nasional Inggris merekomendasikan untuk mencuci kain pada suhu tinggi (140 ° F).
Para pekerja medis itu juga rutin membersihkan alat kaki mereka dengan produk yang mengandung pemutih untuk meningkatkan hasil disinfektan. Mereka juga terbiasa menggunakan detergen yang telah diuji dan terbukti secara klinis untuk membunuh bakteri dan virus.
Pembersihan menggunakan mesin cuci tak dianjurkan karena dapat merusak sepatu yang terbuat dari kulit atau bahan buatan manusia lainnya. Sepatu yang terbuat dari bahan-bahan tersebut sangat dianjurkan dibersihkan menggunakan sabun tangan dan air.
Mencuci sepatu kulit dapat mengubah tekstur dan penampilannya. Untuk mendisinfeksi sepatu, kita harus membuat campuran alkohol dan air 70 persen, saran dari CDC Amerika Serikat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya