Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Apa Itu Ekuinoks? (foto: Shutterstock)
Dream – Fenomena astronomi langka berupa ekuinoks terjadi pada 23 September 2021 malam lalu. Gerak semu tahunan matahari ini menyebabkan warga di Bumi merasakan lama waktu siang dan malam seperti hampir sama yaitu 12 jam.
Ekuinoks September merupakan titik perpotongan ekliptika dan ekuator langit yang dilewati matahari dalam perjalanan tahunan. Gerak semu tahunan matahari akan melintasi langit belahan utara menuju ke selatan.
Terkadang, matahari terbit tepat di timur dan terbenam tepat di barat, lain hari matahari terbit agak ke arah utara dan agak ke arah selatan.
Mengutip Edukasi Sains Antariksa (ESA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), fenomena ekuinoks inilah yang menyebabkan gerak semu harian matahari, bulan, planet, bintang-bintang dan objek luar angkasa lainnya dari arah timur ke barat.
Ketika bumi mengelilingi matahari, bumi juga melakukan rotasi dengan kemiringan sumbu 66,5 derajat terhadap bidang edar atau orbit bumi atau 23,5 derajat terhadap sumbu kutub langit utara .
Ketika matahari berada di garis lintang nol derajat, bagi pengamat yang terletak di ekuator bumi, akan melihat matahari tepat di atas kepala ketika tengah hari.
Saat ekuinoks terjadi, belahan bumi utara dan selatan sama-sama menerima radiasi matahari yang sama besar dan sama panjang durasinya.
Jika ditinjau dari pengamat tata surya di luar bumi, posisi sumbu rotasi bumi tegak lurus terhadap arah sinar matahari ke Bumi.
Hal inilah yang menyebabkan di setiap tempat di permukaan bumi akan merasakan malam yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Panjang siang dan malam untuk setiap tempat di permukaan bumi nyaris sama. Walau dalam kenyataannya tidak tepat 12 jam karena dipengaruhi oleh refraksi atmosfer.
Pergeseran ekuinoks September disebabkan oleh presesi apsidal yakni bergesernya titik perihelion Bumi (titik terdekat Bumi dari Matahari) terhadap titik pertama Aries/Hamal.
Saat ini, titik perihelion berada di sekitar 13 derajat dari Solstis Desember atau 77 derajat dari ekuinoks vernal. Presesi apsidal ini memiliki siklus 21 ribu tahun.
Fenomena malam yang terjadi pada bulan September 2021 antara lain, fase bulan perbani awal, elongasi timur maksimum merkurius dan oposisi merkurius yang terjadi pada 14 September 2021. Ada juga fenomena konjungsi tripel bulan-jupiter-saturnus pada tanggal 16 sampai 19 September 2021. Selain itu, pada tanggal 20 dan 21 terjadi fenomena apoge mars dan fase bulan purnama.
(Sumber: akun Instagram LAPAN, edukasi.sains.lapan.go.id)
(Laporan : Syifa Putri Naomi)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya