Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalung Pereda Nyeri Untuk Bayi/ Teething Necklace (Foto: Shutterstock)
Dream - Kalung atau gelang pereda nyeri dan rasa tidak nyaman pada bayi saat tumbuh gigi, kini sedang banyak digandrungi. Kalung tersebut diklaim terbuat dari bahan alami yang aman dan mampu mengurangi nyeri dan rewel pada bayi saat tumbuh gigi.
Rupannya, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/ FDA), memberi peringatan terkait keamanan produk tersebut. Pasalnya, risiko tercekik dan tersedak pada bayi sangat tinggi.
Dikutip dari Cafemom, FDA memperingatkan untuk menghindari kalung dan gelang teething serta perhiasan lain untuk dipakaikan pada bayi. Peringatan tersebut juga mengutip laporan kasus tercekiknya seorang bayi perempuan usia 18 bulan.
Sang bayi diketahui menggunakan kalung pereda nyeri dan saat tidur siang, kalung tersebut terpelintir dan mencekik lehernya hingga terluka. Lalu, ada juga laporan bayi usia 7 bulan tersedang manik-manik yang copot dari gelang.
FDA mengatakan tersedak dan tercekik adalah risiko terbesar, dari penggunaan kalung atau gelang pereda nyeri. Lagipula, material asam suksinat, bahan utama kalung dan gelang belum terbukti secara ilmiah bisa meredakan nyeri dan mengurangi rewel pada anak saat tumbuh gigi.
" Tidak ada bukti bahwa itu [asam suksinat] memiliki efek analgesik pada dosis berapa pun dan tidak ada bukti bahwa asam suksinat dilepaskan dari kalung saat terkena suhu tubuh yang hangat," ungkap Dr. John Snyder, asisten profesor Pediatri di fakultas kedokteran Universitas Tufts, Massachusetts, Amerika Serikat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya