Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mainan Anak (Foto: SHutterstock)
Dream - Anak-anak boleh dibilang tak bisa lepas dari mainan. Saat pergi ke pusat perbelanjaan atau minimarket, mereka selalu mengincar mainan yang menarik baginya. Padahal di rumah, jumlah mainan sudah sangat banyak bahkan 'menjajah' tiap sudut ruangan.
Sebagian besar orangtua selalu merasa 'luluh' saat anak meminta mainan. Apalagi jika mainan tersebut sangat diinginkan anak.
Sebenarnya, anak-anak tak membutuhkan banyak mainan. Mereka lebih butuh hal baru yang menantang keinginanan untuk bereksplorasi.
" Memasuki usia balita, mereka menjadi semakin tertarik pada eksplorasi objek. Pada tahap ini, kuncinya adalah memberi mereka akses ke hal-hal terbuka yang menumbuhkan imajinasi," kata Anne Rowan-Legg, seorang dokter anak di Children's Hospital of Eastern Ontario, Ottawa, seperti dikutip dari Today Parents.
Mainan ini bisa berupa benda-benda dari rumah, seperti pot plastik, piring melamin atau tumpukan mangkuk. Jika ingin memberikan mainan yang sebenarnya, benda-benda seperti balok bangunan, boneka atau boneka binatang adalah pilihan yang baik.
Tidak ada jumlah minimum mainan yang dibutuhkan anak. Bahkan, sebuah penelitian menemukan bahwa ketika balita memiliki lebih sedikit mainan, mereka bermain dengan setiap mainan lebih lama. Hal ini memungkinkan mereka untuk lebih fokus dan bermain lebih kreatif.
" Satu mainan yang harus selalu dimiliki adalah alat gambar, seperti crayon, pensil warna, spidol dan kertas," kata Rowan-Legg.
Alat gambar dan tulis ini sangat menyenangkan bagi anak. Mereka bisa mengekspresikan emosi atau meniru gambar dan belajar untuk fokus. Jika ingin memilih jenis mainan, pilih yang diminati anak. Jangan sampai mainan yang ada dipilihkan tak disukai anak. Tentu hal ini jadi bukan sebuah hal yang menyenangkan.
Pertimbangkan juga untuk 'berbelanja pengalaman'. Aktivitas interaksi, seperti traveling, jalan-jalan ke museum, main ke sawah, atau hiking jadi hal yang sangat dibutuhkan anak-anak.
" Jenis permainan yang paling menstimulus anak-anak adalah melakukan kegiatan yang memungkinkan interaksi pribadi. Jadi, rutin lah mengagendakan untuk berjalan-jalan seru bersama anak, bisa ke museum atau tempat lain yang menarik," ungkap Rowan-Legg.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya