Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Akses terhadap kontrasepsi saat ini pastinya sangat terhambat. Pandemi membuat banyak orang tak bisa leluasa untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan soal kontrasepsi.
Terutama penggunaan kontrasepsi seperti suntik, IUD dan implan. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) memperkirakan saat pandemi, yang berlangsung selama bulan Maret 2020 hingga sekarang menyebabkan penurunan penggunaan kontrasepsi. Hal ini berdampak pada 420ribu kehamilan tidak direncanakan. Dari kehamilan yang tak direncanakan bisa memunculkan banyak masalah.
" Kesehatan ibu dan anak bisa jadi permasalahan, angka kematian ibu yang menurut data tak menurun, stunting dan masih banyak lagi," kata dr. Eni Gustina, MPH, Deputi Bidang KB KR BKKBN dalam acara webinar World Contraception Day, Kamis, 24 September 2020 yang digelar DKT Indonesia.
Pandemi membuat pasangan usia subur menunda mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi karena kekhawatiran akan tertular.
© Dream
Banyak juga layanan kesehatan masyarakat yang tutup. Menurut dr. Eni, ada sebanyak 30 persen Puskesmas di Indonesia tutup. Hal ini membuat akses layanan kontrasepsi jadi terhambat.
" Kondisi ini membuat terjadinya putus pakai kontrasepsi sangat tinggi. Penggunaan kontrasepsi modern pun menurun menurut data kami," ujar dr Eni.
DKT Indonesia melakukan survei bersama dengan Lembaga riset independen untuk mengukur pengaruh pandemi terhadap pola konsumsi kontrasepsi khususnya untuk metode Suntik KB dan Pil KB, yang dilakukan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
Menurut Head of Strategic Planning DKT Indonesia, Aditya A. Putra, ada hal penting yang harus disoroti. Salah satunya adalah pola permintaan terhadap layanan suntik KB mengalami penurunan pada masa penetapan PSBB.
" Namun ada peningkatkan pada periode 1-2 bulan terakhir. Lalu ada 40% responden (penyedia layanan kontrasepsi) mengaku bahwa kontrasepsi menjadi salah satu item yang paling banyak dicari di apotek pada masa pandemi," ujar Aditya dalam kesempatan yang sama.
Penting untuk mencari kontrasepsi yang tepat dan mudah diakses untuk perencanaan kehamilan. DKT Indonesia baru saja merilis pil kontrasepsi terbaru yaitu, Elzsa. Pil ini mengandung cyproterone acetate ethinylestradiol yang bisa menghambat hormon androgen yang kerap memicu masalah jerawat. Pil ini juga diklaim bisa membantu masalah kekurangan zat besi.
© Dream
© Dream
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya