Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Salah Asuhan Bisa Bentuk Anak Jadi 'Emotional Eater'

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 16 Mei 2017 18:08
Salah Asuhan Bisa Bentuk Anak Jadi 'Emotional Eater'
Anak bisa melampiaskan emosinya secara tidak sehat melalui makanan.

Dream - Banyak orangtua merayu anak dengan makanan makanan favoritnya saat ia menangis. 'Ayo adek jangan nangis, nanti mama kasih permen' atau 'Nanti kita beli es krim yah, tapi jangan cemberut begitu, dong'.

Rayuan makananan ini mungkin terdengar hal biasa, tapi ternyata tanpa disadari mencontohkan anak untuk menjadi seorang emotional eater. Apa itu emotional eater? Yaitu mereka yang melampiaskan kondisi emosinya yang tidak stabil dengan makan dan minum secara berlebihan.

Ingat, segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik. Anak bisa melampiaskan emosinya secara tidak sehat melalui makanan. Efeknya, ketika emosinya sedang tak stabil atau sangat sedih dan depresi ia akan mencari makanan.

" Seorang emotional eater bisa jadi kegemukan atau obesitas. Kesepian, marah, stres lalu pelariannya melalui makan. Ada juga yang mengalami anoreksia atau bulimia, yaitu mengonsumsi banyak makanan kemudian dimuntahkannya," ujar Julian Lewis, seorang psikolog.

Untuk membentuk kebiasaan makan yang sehat, langkah pertama adalah jangan terlalu kaku dalam menentukan makanan yang dimakan anak. Pastinya Anda ingin anak banyak sayur dan buah agar tetap sehat. Tetapi sesekali biarkan mereka memilih menu makanannya sendiri. Makan dengan tenang dan duduk serta menikmati tiap suapan sangat penting dilakukan.

" Makan dengan melibatkan fisik dan pikiran dan tidak melakukan aktivitas lain. Hal ini membuat anak lebih menghargai makanan. Mereka juga bukan hanya sekedar kenyang tapi puas dengan makanan yang dikonsumsinya," ujar Lewis.

Hal lain yang tak kalah penting adalah ajarkan anak memilih makanan yang sehat untuknya. Ia mungkin punya makanan favorit, tapi contohkan dan ajarkan kalau sayur dan buah tetap diperlukan agar tubuhnya tetap dalam kondisi baik.

" Mengajak makan dan masak bersama jadi hal yang sangat baik. Hal ini agar anak-anak belajar menghargai makanan dan memiliki kondisi jiwa yang sehat, tidak melampiaskan emosi melalui makanan," kata Lewis.

 

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More