Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Jejak Awan Putih Yang Memanjang Di Belakang Pesawat. (Foto: Unsplash)
Dream - Saat memperhatikan pesawat melintas di angkasa, kita seringkali melihat jejak awan putih yang memanjang di belakangnya.
Jejak awan putih itu biasanya tidak akan langsung hilang seperti asap knalpot kendaraan di darat.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah jejak awan putih yang memanjang tersebut? Apakah itu asap 'knalpot' pesawat atau hanya awan biasa yang terbentuk akibat pesawat 'membelah' udara?
Jenn Stroud Rossmann, asisten profesor fakultas teknik di Harvey Mudd College di California, memberikan penjelasan tentang jejak awan putih yang memanjang di belakang pesawat tersebut.
Menurut Rossmann, jejak awan putih yang memanjang di belakang pesawat itu disebut dengan nama contrail, yang merupakan singkatan dari Condensate Trail atau Jejak Kondensasi.
Terciptanya contrail ini hampir sama dengan momen saat kita mengeluarkan uap panas dari mulut dan hidung saat bernapas di cuaca yang dingin.
Jejak awan putih dari pesawat itu sebenarnya adalah gas buang yang membeku. Saat keluar dari sistem pembuangan pesawat, gas buang yang panas bercampur dengan udara di atmosfer yang memiliki tekanan dan suhu yang lebih rendah.
Akibat percampuran itu, uap air di dalam gas buang pesawat itu kemudian mengalami kondensasi hingga akhirnya membeku.
Gas buang pesawat sendiri sebenarnya adalah gas biasa yang terdiri dari karbon dioksida, nitrogen, belerang dioksida, dan juga uap air.
Namun, karena faktor ketinggian pesawat, tekanan suhu, dan kelembapan di atmosfer, gas buang pesawat yang bercampur dengan udara langsung terkondensasi menjadi awan berisi butiran es yang pada akhirnya menciptakan jejak awan putih tersebut.
Tergantung pada ketinggian pesawat, tekanan suhu, dan kelembapan atmosfer, contrail dapat bervariasi dalam hal ketebalan, panjang dan durasinya.
Selain itu, sifat dan durasi contrail bertahan di udara dapat digunakan untuk memprediksi cuaca.
Sebuah contrail yang tipis dan berumur pendek menunjukkan kelembapan udara yang rendah di ketinggian angkasa, yang menandakan cuaca akan cerah.
Sedangkan contrail yang tebal dan berumur panjang mencerminkan kelembapan udara yang tinggi di ketinggian angkasa.
Kondisi semacam ini bisa menjadi indikator awal bahwa area di sekitar contrail tersebut akan terjadi badai.
Fakta menakutkan dari contrail baru-baru ini ditemukan oleh para peneliti lingkungan.
Disebutkan bahwa awan berisi butiran es dalam contrail terbukti menyebabkan efek rumah kaca dan berkontribusi terhadap pemanasan global.
Temuan itu diperlihatkan kepada pemerintah Amerika Serikat pada 11 dan 12 September lalu dengan menghentikan lalu lintas udara komersial secara total.
Penghentian total lalu lintas udara komersial membuat langit bersih dari contrail. Selanjutnya, para peneliti menggunakan kondisi tersebut untuk mengukur efek lingkungan dari contrail.
(Sumber: ScienceAmerican.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya