Sewindu Berkarya, Ariy Arka Syiarkan Peduli Lingkungan

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Senin, 2 Maret 2020 16:13
Sewindu Berkarya, Ariy Arka Syiarkan Peduli Lingkungan
Ia prihatin dengan Bum Pertiwi yang tengah berkecamuk.

Dream - Lahir dan dibesarkan di Medan, Ariy Arka kini terlarut dalam ingar-bingar Jakarta. Pria 35 tahun itu tidak menyangka akan bergelut dengan pola busana.

Sebelum menjadi desainer, Ariy Arka merasa dirinya hanyalah seorang pria lulusan jurusan ekonomi. Hobi mendesain yang ditekuninya sejak belia mengantar Ariy Arka ke panggung fashion pertamanya.

Ia menampilkan karya di gelaran Jakarta Fashion & Food Festival 2013 di Kelapa Gading. Tak henti sampai di sana, ia menimba ilmu lebih dalam di sekolah desain.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Ariy mengambil kursus singkat di Esmod pada 2014 silam. Banyak hal yang ia dapatkan selama tiga bulan. Belajar menggunting pola, mengenal jenis tekstil hingga meneropong tren.

Bakat dan modal berani mati menuntun Ariy Arka ke panggung Jakarta Fashion Week 2014. " Saya tipikal orang yang suka challenge, gemar berimplementasi dan bereksperimen," tutur Ariy kepada Dream di Fashion Rhapsody 2020, pekan lalu.

1 dari 6 halaman

Dari Busana Pria

Ariy Arka terjun ke dunia mode sebagai desainer busana pria. Wastra Nusantara dikemas secara apik menjadi koleksi menswear yang fresh dan wearable. Berangkat dari lini Abee by Ariy Arka yang kini berubah menjadi abee.

" Sejak awal dibuat, lini abee memang mengandalkan wastra yang di-repackage dengan detail sulam. Ada permainan teknik veston, bordir, dikombinasikan dalam bentuk busana ready to wear pria yang edgy dan sangat bisa dipakai di segala suasana," jelasnya.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Ariy Arka tak bekerja sendiri. Ia menggandeng para pengrajin tenun di Lombok Timur. Kini sudah ada 24 pengrajin di bawah naungannya.

" Saya juga mengajak anak-anak yang putus sekolah di Cibubur.Sekarang usia mereka 17-21 tahun, tidak bisa kerja kalau tidak punya ijazah. Daripada jadi pembantu, saya ajak ke industri kreatif," kata pria kelahiran 1985 itu.

2 dari 6 halaman

Sempat Jenuh

Tahun demi tahun berlalu, Ariy Arka mencari terobosan baru untuk label abee. Ia mencapai titik jenuh setelah tiga tahun berkarya.

" Kita putar otak agar customer tidak bosan dengan abee. Setiap koleksi kita terapkan jenis model, teknik dan siluet yang berbeda. Memang paling sulit mendapatkan DNA itu di tahun ke-3, orang merasa jenuh dengan abee yang begini terus," ungkapnya.

Berbaga konsep terus ia gali untuk memberi kesan fresh pada koleksinya. Ariy Arka mulai keluar dari zona nyaman untuk bermain dengan busana wanita. Sedikit boyish dengan sentuhan feminin, tak keluar dari DNA Ariy Arka.

" Untuk mencapai signature sampai saat ini banyak sekali eksperimennya. Aku enggak bisa keluar dari boyish, loose dan oversized," imbuh Ariy.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Delapan tahun berkarya, Ariy Arka mulai berkiblat pada konsep sustainable dan ethical fashion. Ia turut prihatin dengan keadaan alam yang semakin merana dan morat-marit belakangan ini.

Kegelisahan itu dirangkum dalam show tunggal bertajuk 'Kemelut', sebuah pelepasan hati sewindu Ariy Arka berkarya. Ia hadirkan di panggung Fashion Rhapsody 2020: Harmoni Bumi, di mana Ariy Arka menjad salah satu penggagas acara yang menjunjung tema peduli lingkungan.

3 dari 6 halaman

Syiar Menjaga Lingkungan

Terdapat 48 set baju yang terdiri dari 36 menswear dan 12 womenswear, melenggang di atas runway bertema Secret Forest.

" Kemelut ini agak unik. Fokusnya di sustainable fashion. Semoga bisa memberi pelajaran bahwa segala sesuatu yang kita buang bisa menjadi hal yang berharga," tegasnya.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Tangan dingin Ariy Arka menyulap sisa-sisa kain perca menjadi karya bordir yang terinspirasi dari berbagai kemelut dunia. Ada motif banjir sampai virus corona. Dibuat memakai teknik 5 teknik bordir berbeda di setiap busana.

Ariy Arka dan ketiga rekan desainer; Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanagara dan Yulia Fandy, bertekad menggandeng pelaku industri dan penikmat mode untuk membuka mata terhadap lingkungan sekitar. Alam yang semakin porak-poranda akibat tangan jahil manusia.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Itikad baik itu diwujudkan dalam bentuk perhelatan busana Fashion Rhapsody yang akan menjadi agenda tahunan. Sukses mengusung tema 'Harmoni Bumi', Ariy akan mengusung tema 'Bhinneka Raya' untuk di tahun mendatang.

" Saya ingin abee jadi sesuatu yang sangat global dan menginspirasi banyak orang. Perjalanan hingga mencapai tahun ke-8 sangat luar biasa. Ada banyak kemelut yang terjadi. Fashion Rhapsody digagas sebagai wadah para desainer untuk mengedukasi customer dan kerabat untuk lebih menjaga bumi pertiwi," pungkas Ariy.

Perhelatan Fashion Rhapsody digagas secara tematik, dengan empat konsep runway berbeda setiap harinya. Masing-masing tema menggambarkan kerusakan bumi. Ariy Arka juga mengajak pengunjung untuk menukarkan plastik dengan kantong ramah lingkungan.

Para brand dan desainer yang ikut serta diharapkan memiliki visi yang sama, dengan cara mempersembahkan karya mode ramah lingkungan.

4 dari 6 halaman

Kemelut, Karut-marut Bumi Pertiwi di Mata Ariy Arka

Dream - Bumi Pertiwi sedang menjerit. Ia semrawut. Hutannya dilahap si jago merah. Banjir menggenang di Ibu Kota. Virus Corona merajalela. Lepas tak terkendali, menggemparkan dunia.

Selang tiga bulan di 2020, alam semesta porak-poranda. Bencana di mana-mana. Manusia dengan segala ambisi dan hiruk-pikuknya terkadang membuat Bumi Pertiwi luka.

Seorang perancang busana ikut merasa resah. Ariy Arka, merantau jauh dari Medan prihatin dengan keadaan alam dan lingkungan Ibu Kota yang semakin morat-marit.

Dengan sentuhan kreatif, ia menumpahkan kegelisahan itu dalam karya mode bertajuk 'Kemelut' untuk label busana abee. Sebuah persembahan sewindu berkarya, di pagelaran busana tunggal yang mengisi panggung Fashion Rhapsody 2020.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Kritik sang desainer terhadap kondisi alam yang kacau balau tertuang di 48 set busana. Terdiri dari 36 setelan pria yang menjadi fokus utama koleksi, berdampingan dengan 12 busana wanita dalam satu payung bertema 'Harmoni Bumi'.

" Semua orang punya arah dan tujuan, dan untuk mencapai itu tidak mudah. Perjalanannya luar biasa. Ada suka duka. Semua dirangkum menjadi energi yang luar biasa yaitu 'Kemelut'. Berawal dari tidak adanya kepastian. Saya dulu tidak pernah bermimpi jadi desainer," tutur Ariy kepada Dream di The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Ada pesan khusus yang ingin Ariy sampaikan. " Orang-orang terlalu sibuk di Ibu Kota, banyak yang tidak acuh. Bencana, virus, itu semua akibat dari ulah manusia. Banyak yang tidak peduli dengan sesama, apalagi dengan lingkungan. Kita ini human, ayo tingkatkan rasa humanity kita," ujarnya.

5 dari 6 halaman

Bumi Ditindas

'Kemelut' dibuka dengan tragis. Teror sampah plastik melilit hewan-hewan tak berdosa. Mencekik mereka yang terjebak, lemas dan menangis tak berdaya. Di hadapan manusia yang masih bersikap arogan. Acuh tak acuh, menutup mata.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Latar teatrikal bertema Secret Forest menampar para penonton dengan gambaran bumi yang tengah mengalami kehancuran. Model berjalan dengan angkuh. Menendang, merusak dan mencabik tanaman hijau yang semula menghiasi runway.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Aplikasi bordir bermotif abstrak dan geometris terpampang di busana mereka. Dibubuhkan secara acak. Memenuhi bagian punggung, dada dan lengan busana.

Bentuknya bermacam-macam. Ayam jago, burung kakak tua, genangan banjir hingga virus corona. " Bordirnya terbuat dari kain perca sisa limbah fashion. Dalam satu baju bisa memakai lima teknik bordir sekaligus," jelas Ariy.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

6 dari 6 halaman

Olahan Limbah

Galau dan semrawut, Ariy Arka memadukan berbagai jenis bahan dari tekstur dan ketebalan berbeda. Beludru, rajut, denim, twill, organdi dan tulle serentak dalam satu mahakarya.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Ariy menyuntikkan 'Kemelut' dengan gaya street style androgyn, ciri khas label abee. Siluet lurus dan serba longgar nan apik untuk kawula muda, cocok pula untuk mereka yang berhijab. Karyanya tampil dalam bentuk terusan, blouse, rok berkantung besar, celana komprang dan aneka jaket.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka© Foto: Deki Prayoga/Dream

Foto: Deki Prayoga/Dream

Tangannya tak berhenti mengolah limbah. Sisa bahan terpal, karung plastik, twill dan denim disulap menjadi tas beraneka ukuran. " Semua elemen dari industri fashion harus kembali lagi ke alam. Banyak desainer memakai alam sebagai inspirasi mereka. Hasil limbah yang kita timbulkan ini bisa digunakan untuk koleksi baru," kata Ariy.

Beri Komentar