Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Swab Test (Foto: Liputan6)
Dream - Pandemi virus corona di dunia belum juga berakhir, begitupun di Indonesia. Bahkan di Indonesia sendiri, disebut-sebut belum mencapai puncak gelombang pertamanya.
Namun, apakah pandemi ini dapat dihentikan? Bila menunggu vaksin, jelas akan memakan waktu yang lama.
Dilansir dari laman Liputan6.com, jika semua patuh pada prokotol seperti menjaga jarak, sering mencuci tangan secara teratur, serta menggunakan masker, penyebaran Covid-19 diyakini bakal bisa berkurang. Bahkan langkah sederhana namun memerlukan disiplin tinggi ini tetap akan efektif jika penemuan vaksin mash membutuhkan waktu lama atau hanya ada pengobatan tradisional sebagai alternatif.
Keyakinan ini disampaikan ilmuwah dalam sebuah publikasi ilmiah di jurnal PLoS Medicine pada Selasa, 21 uli 2020. Studi itu menjelaskan adanya penciptaan model baru ntuk melihat penyebaran penyakit dan upaya pencegahan yang dapat membantu penyebaran virus lebih cepat.
" Tingkat kontak dalam penelitian ini didasarkan pada interaksi orang-orang di Belanda, tetapi model ini sesuai untuk negara-negara Barat lainnya," kata para peneliti di University Medical Center Utrecht, Rabu 23 Juli 2020.
" Epidemi besar dapat dicegah jika tindakan pencegahan berhasil mencapai lebih dari 50 persen," tulis para peneliti.
Namun, menurut model tersebut, jika publik lambat menyadari dan mengubah perilaku kesehariannya, upaya itu dapat mengurangi jumlah kasus. Kendati demikian tetap tidak menunda puncak kasus.
Menurut studi tersebut, jika pemerintah menerapkan penutupan wilayah (lockdown) lebih awal, tetapi tidak ada yang mengambil langkah-langkah perlindungan pribadi tambahan, ini akan menunda tetapi tidak mengurangi puncak dalam kasus. Intervensi tiga bulan akan menunda puncaknya, paling banyak, tujuh bulan.
Apabila pemerintah menerapkan peraturan ketat mengenai jarak sosial yang juga dikombinasikan dengan kesadaran penyakit dan langkah-langkah kesadaran pribadi, ketinggian puncak orang terjangkit virus Covid-19 pun dapat dikurangi, bahkan setelah aturan pemerintah soal pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan.
" Selain itu, efek kombinasi tindakan untuk diri sendiri (self-imposed) bisa jadi tambahan," tulis para peneliti.
" Secara praktis, itu berarti bahwa SARS-CoV-2 tidak akan menyebabkan wabah besar di negara di mana 90% populasi mengadopsi cuci tangan dan jarak sosial yang efisien sebesar 25%."
Bahkan dengan jarak sosial yang ditentukan sendiri, kontak dengan orang lain mungkin tidak sepenuhnya bisa dihindari.
Misalnya, orang yang hidup bersama akan berinteraksi, meningkatkan kemungkinan seseorang jatuh sakit. Jadi wabah kecil masih mungkin terjadi.
Para penulis berpendapat bahwa pemerintah harus memberikan pendidikan masyarakat mengenai penyebaran virus dan meningkatkan kesadaran tentang peran penting dari menjaga jarak, mencuci tangan dan juga menutupi penggunaan dalam mengendalikan epidemi yang sedang berlangsung.
" Jika kita semua menggunakan atau memakai masker untuk beberapa minggu ke depan, di seluruh negara, penularan virus ini akan berhenti," kata Dr. Robert Redfield.
Laksamana Brett Giroir, seorang anggota gugus tugas Virus Corona COVID-19 Gedung Putih, mengatakan dalam sebuah pengarahan dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS pada hari Kamis bahwa masker dan jarak fisik (sosial distancing) dapat dengan cepat menghentikan penyebaran pandemi.
" Jika kami memiliki tingkat ketaatan dengan aturan dengan langkah-langkah sederhana ini, model kami mengatakan itu benar-benar sama baiknya dengan mematikan virusnya," kata Giroir.
Melihat studi tersebut, menyadarkan kita bahwa hal-hal sederhana dapat berpengaruh besar pada persebaran wabah.
(Sah, Sumber: Liputan6.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya