Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Ilustrasi Ibu Hamil (Foto: Shutterstock)
Dream - Klaim di media sosial yang mengatakan vaksin Covid bisa mempengaruhi kesuburan perempuan tidak terbukti. Demikian menurut para ahli.
Sejumlah unggahan di media sosial menyebut vaksin Pfizer bisa menyebabkan ketidaksuburan pada kaum Hawa.
Namun Prof Lucy Chappel di King College London dan juru bicara Ginekolog dan Kandungan Royal College mengatakan, " tidak ada alasan vaksin itu mempengaruhi mekanisme biologi."
Dikutip dari BBC.com, Senin 15 Februari 2021, vaksin bekerja dengan mengirimkan pesan ke tubuh beserta cetak biru, sehingga tubuh bisa membentuk fragmen kecil mahkota virus corona yang tidak mematikan. Kejadian ini memicu sistem kekebalan tubuh untuk bertindak memproduksi antribodi dan sel darah putih untuk melawan virus corona.
Proses ini tidak akan mempengaruhi informasi genetik kita. " Partikel penyampai pesan" ini sangat rentan mati: mereka mengirimkan pesan lalu hancur. Itulah sebabnya vaksin Pfizer harus disimpan dengan sangat hati-hati karena materi genetiknya mudah hancur dan jadi tidak bisa digunakan.
Prof Nicola Stonehouse, virolog di Universitas Leeds mengatakan, tidak mungkin semua proses itu bisa berdampak pada kesehatan reproduksi.
Sejumlah kalangan sebelumnya mengutip soal panduan yang dipublikasikan oleh pemerintah Inggris dengan mengatakan " belum diketahui" apakah vaksin Pfizer bisa berdampak pada kesuburan. Informasi ini kemudian diperbarui dengan menegaskan penelitian pada hewan tidak memperlihatkan vaksin memengaruhi sistem reproduksi.
Ketika ilmuwan mengatakan tidak ada bukti, maksud mereka yakni belum ada studi dalam jangka waktu panjang terhadap vaksin tertentu tapi tidak berarti tidak ada fakta sama sekali.
Bahkan Prof Chappel menyebut, ada banyak bukti dari vaksin yang terbuat dari virus mati, termasuk vaksin flu, yang tidak berdampak pada kesuburan dan benar-benar aman dan disarankan untuk digunakan pada saat kehamilan.
Sedangkan untuk pemberian vaksin bagi ibu hamil harus sangat hati-hati.
Meski vaksin berbeda dengan obat keras seperti thalidomide, sebagian besar tenaga kesehatan cukup berhati-hati. Sebagian dari mereka, tidak menyarankan ibu hamil menerima vaksin kecuali dalam kondisi sangat berisiko karena Covid-19.
Pemerintah Inggris mengatakan, " Vaksin belum diuji kepada ibu hamil, sampai ada informasi yang lebih lengkap, mereka yang hamil tidak harus menerima vaksin."
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Vaksin Covid-19 mulai diberikan pada kelompok-kelompok prioritas, antara lain tenaga kesehatan, mereka yang bekerja dalam bidang pelayanan publik, lansia serta pasien komorbid. Pemberian vaksin ini tak dipungkiri memiliki efek samping pada beberapa orang.
Seperti nyeri di bekas suntikan, bengkak, hingga reaksi alergi. Pada mereka yang ternyata alergi terhadap zat dalam vaksin, ternyata bisa mengalami " Covid-Arm" . Yaitu reaksi hipersensitivitas kulit setelah vaksin berupa merah dan bengkak yang cukup besar.
Kasus ini terjadi pada mereka yang diberi vaksin Covid-19 produksi Moderna. Tampaknya ini adalah reaksi alergi pada kulit yang terjadi setelah mendapatkan suntikan.
" Kami melihat kulit yang mengeras, dan kemerahan di tempat suntikan terjadi. Beberapa orang yang pernah mengalami 'Covid-19' juga melaporkan rasa gatal, dan mengatakan lesi (luka) tersebut menyakitkan untuk disentuh," ujar Debra Jaliman, MD, seorang dokter kulit yang berbasis di Manhattan, New York City, kepada Health
Penting diketahui, ternyata reaksi 'covid-arm' ini tak langsung muncul. Biasanya, ini muncul 5-9 hari setelah suntikan pertama. Hal ini membuatnya berbeda dari kebanyakan efek samping vaksin, yang biasanya terjadi dalam satu atau dua hari.
" Saya pikir sudah selesai dengan efek sampingnya. Pada hari ketujuh setelah suntikan vaksin, ketika saya hendak tidur, saya mulai gatal di tempat suntikan," kata Chris Gilbert, MD, PhD, salah satu dokter yang mengalami " Covid-Arm" .
Pada hari kedelapan, lengan kanan atasnya terasa sangat gatal. Muncul lesi merah bulat dengan diameter sekitar dua inci di area suntikan. Jika mengalami hal ini setelah divaksin, jangan panik.
Efek samping tersebut cenderung singkat yang tidak berbahaya. Para ahli masih mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi kemungkinan itu hanyalah bagian dari respons sistem kekebalan tubuh terhadap vaksin.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan