Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi/ Foto: Shutterstock
Dream - Berbagai cara dilakukan oleh calon ayah atau ibu yang ingin mendapat buah hati. Salah satu yang dianjurkan adalah memperbaiki gaya hidup dengan pola makan yang sehat.
Kini, muncul tren diet karnivora yang diklaim bisa meningkatkan kesuburan sehingga bisa meningkatkan kemungkinan hamil. Apa itu diet karnivora?
" Diet karnivora berasal dari keyakinan kontroversial bahwa populasi nenek moyang manusia kebanyakan makan daging dan ikan dan bahwa diet tinggi karbohidrat harus disalahkan atas tingginya tingkat penyakit kronis saat ini, termasuk infertilitas," kata Jenna Turocy, MD, spesialis kesuburan di Columbia, dikutip dari Parents.
Mereka yang menjalaninya, akan banyak mengonsumsi makanan kaya protein hewani. Seperti ayam, daging, ikan dan sumber hewani lain. Untuk asupan karbohidrat seperti nasi, roti, mi, dikurangi porsinya secara drastis.
Paul Saladino, MD, penulis The Carnivore Code, adalah pendukung terbesar diet karnivora saat ini, dan dalam situsnya ia menjelaskan bagaimana menjalani diet karnivora. Salah satu efeknya, menurut Saladino adalah meningkatkan kesuburan.
© Dream
Sayangnya, hal ini belum didukung oleh pembuktian secara sains dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Bagi beberapa orang mungkin berhasil, tapi efeknya tak selalu sama.
" Saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa diet karnivora dapat meningkatkan kesuburan. Kemungkinan gagasan ini telah diabadikan oleh fakta bahwa beberapa [orang] dengan disfungsi ovulasi seperti PCOS dapat memperoleh manfaat. Seperti menurunkan asupan karbohidrat yang dapat menyebabkan penurunan berat badan, peningkatan profil hormonal, dan ovulasi yang lebih teratur," kata Turocy, M.D.
Ia mengingatkan bahwa moderasi adalah kunci gaya hidup sehat. Caranya dengan mengonsumsi asupan dengan seimbang, baik protein, karbohidrat dan vitamin.
" Saya merekomendasikan pasien untuk menghindari ekstrem dalam hal mengikuti diet tertentu. Cara terbaik untuk bisa hamil adalah makan dengan baik, yang mencakup lebih sedikit makanan olahan dan lebih banyak makanan kaya nutrisi alami," pesannya.
© Dream
Dream - Sauna termasuk aktivitas yang bisa membuat tubuh lebih rileks. Biasanya, mandi sauna jadi pillihan tepat setelah olahraga berat, saat tubuh tegang atau ketika level stres tingi.
Sebagian orang melakukannya secara rutin, terutama kaum pria. Sebenarnya sauna memiliki sederet efek positif karena bisa membantu mengeluarkan racun, relaksasi tubuh dan melancarkan peredaran darah.
Sayangnya, sauna tak dianjurkan bagi kaum pria yang sedang berencana memiliki anak atau menjalani program hamil dengan pasangannya. Mengapa? Berdasarkan jurnal Human Reproduction pada 2013, penelitian dari University of Padova di Italia melaporkan hasil yang mengejutkan.
Terungkap fakta bahwa pria yang rutin melakukan sauna rentan mengalami masalah dengan tingkat kesuburannya. Dalam penelitian ini, 10 pria diminta untuk melakukan program sauna ala Finlandia, yakni melakukan 2 sesi sauna per minggu selama 3 bulan dengan suhu 80 – 90 derajat Celsius. Masing–masing sesi berdurasi selama 15 menit.
© Dream
Pada penelitian ini juga diperiksa kadar hormon seks, parameter sperma, struktur DNA sperma, tingkat apoptosis (kematian sel sperma karena adanya paparan dari lingkungan luar) serta ekspresi gen sperma terhadap rangsangan panas dan kurangnya oksigen saat berada di ruang sauna.
Hasilnya, para pria yang rutin melakukan sauna tersebut secara statistik mengalami penurunan jumlah sperma dan tingkat motilitas (pergerakkan) sperma. Selain itu, persentase sperma dengan struktur DNA yang normal juga mengalami penurunan. Meski demikian, tidak terdapat perbedaan pada kadar hormon seks.
Dari hasil tersebut, para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa penurunan jumlah sperma dan tingkat motilitas sperma disebabkan oleh adanya paparan stres terhadap panas dan kurangnya oksigen saat melakukan sauna.
© Dream
Para peneliti menganggap efek ini hanya bersifat sementara dan tingkat kesuburan pria akan kembali seperti semula setelah 6 bulan kemudian, dengan sperma yang sehat.
Tak hanya sauna, para pria yang rutin berendam air panas dan duduk sambil memangku laptop dalam jangka waktu yang lama juga berisiko menyebabkan penurunan jumlah sperma.
Untuk itu kaum pria yang suka berendam air hangat, sauna, atau memangku laptop yang panas segera hentikan kebiasaan ini. Terutama jika sedang berencana memiliki anak dalam waktu dekat. Penjelasan selengkapnya baca di sini.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya