Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Darah Kepiting Tapal Kuda Atau Horseshoe Crab Sangat Berguna Dalam Penelitian Vaksi Atau Obat Covid-19. (Foto: Shutterstock)
Dream - Para ilmuwan terus berlomba menemukan vaksin dan obat untuk mengatasi penularan virus SARS-CoV-2 atau corona yang menyebabkan penyakit Covid-19.
Untuk meneliti efek dari vaksin atau obat yang dibuatnya, sebagian ilmuwan mengambil darah kepiting tapal kuda atau horseshoe crab.
Selama beberapa dekade para ilmuwan menggunakan kepiting unik bermata 10 ini. Darah kepiting tapal kuda yang berwarna biru pucat sangat membantu dalam penelitian obat.

Bahkan hingga saat ini, darah kepiting tapal kuda dianggap sangat membantu para ilmuwan dalam meneliti vaksin virus corona.
Sayangnya, ekploitasi besar-besaran terhadap kepiting tapal kuda selama beberapa dekade mengancam keberadaannya di alam liar.
Kepiting tapal kuda telah ada sejak lebih dari 300 juta tahun yang lalu. 'Fosil' hidup ini menjadi penting karena darahnya berguna bagi dunia penelitian obat.
Darah kepiting tapal kuda membantu dalam memastikan tidak ada bakteri berbahaya dalam obat yang baru dibuat. Karena sekecil apa pun bakteri berbahaya terdapat dalam obat yang dibuat, dapat membunuh manusia.
Ekstrak dalam sel darah kepiting bereaksi secara kimia terhadap hal-hal berbahaya bagi manusia. Darah kepiting tapal kuda adalah satu-satunya jenis darah yang bisa melakukannya.
Oleh sebab itu para ilmuwan menggunakannya untuk menguji apakah obat-obatan yang baru dibuat aman bagi manusia.
Setiap tahun ratusan ribu kepiting tapal kuda ditangkap dan dibawa ke laboratorium di Amerika.
Sebagian darah kepiting ini disedot dari pembuluh darah di dekat jantung mereka. Lalu mereka dilepaskan kembali ke alam liar.
Awalnya, para pakar yakin sebagian besar kepiting tapal kuda yang sudah ditangkap dan dilepaskan lagi akan selamat di alam liar.
Namun, melalui penelitian dalam beberapa tahun terakhir, diperkirakan hingga 30 persen yang pernah ditangkap tidak bisa bertahan hidup.
Penelitian lain bahkan menemukan kemungkinan kepiting tapal kuda betina untuk kawin menjadi semakin kecil.
Masalah ini semakin diperparah dengan 'pemerahan' darah kepiting tapal kuda untuk menemukan vaksin Covid-19.
" Sekarang ini, perusahaan farmasi 'memerah' sekitar setengah juta kepiting tapal kuda," kata Dr Barbara Brummer, ketua tim konservasi alam Amerika.
Menurut Brummer, negara bagian New Jersey merupakan daerah yang paling banyak melakukan penangkapan terhadap kepiting tapal kuda ini.
Kepiting tapal kuda Amerika sekarang hampir secara resmi dianggap sebagai spesies yang terancam punah.
Namun beberapa perusahaan besar menyatakan statistik menunjukkan jumlahnya tetap sama selama beberapa tahun terakhir.
Banyak penelitian telah dilakukan untuk menciptakan zat buatan manusia yang dapat menggantikan darah kepiting tapal kuda.
Hasilnya mereka menemukannya pada 2016. Ilmuwan pun menggunakan darah alternatif ini untuk digunakan di Eropa. Beberapa perusahaan obat di AS bergabung juga.
Sayangnya, pada bulan lalu, perusahaan yang membuat darah alternatif ini tidak bisa membuktikan bahwa darah buatan mereka bisa bekerja dengan baik.
Setiap perusahaan obat-obatan di AS diberitahu bahwa mereka harus tetap menggunakan darah kepiting tapal kuda untuk pengujiannya.
Artinya, jika ingin membuat vaksin atau obat Covid-19, maka perusahaan-perusahaan ini kembali mengandalkan darah kepiting tapal kuda.
" Jadi kekhawatiran saya adalah tentang populasi kepiting tapal kuda - karena mereka adalah bagian penting dari ekosistem," pungkas Brummer.
Sumber: BBC
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya